Tuba Semanis Madu

Tuba Semanis Madu
BILA KAU ... (JATUH CINTA)


__ADS_3

Mira masih duduk di stool putih yang menghadap bartender, seloki tequilla yang ia pesan diteguknya perlahan. Ingar bingar musik dari lantai dansa diskotek di kawasan Rajawali membuat dirinya melupakan sejenak masalah yang ada. Beberapa laki-laki yang menawarkan diri untuk melantai, ditolaknya halus.


Entah mengapa emosinya menanjak jika memikirkan Kinanti. Kehidupan dirinya masih berputar-putar di seputar wanita itu. Belum habis kekesalannya karena naskah Aksar yang berhasil dipegang Kinanti, muncul pula masalah sang putri yang lagi-lagi harus berurusan dengan putri rekan sekaligus rivalnya tersebut.


Terlebih Mira merasa Kinanti seolah-olah berada di atas angin karena sempat menentang idenya soal merekrut penulis dari platform daring.


Sejak awal kedatangan Kinanti di Grewmedia, Mira memang tidak suka kepada wanita itu. Pembawaannya yang ramah dan mudah berbaur mengingatkannya kepada mantan sahabat. Gaya bicara, berjalan, mode rambut benar-benar bisa dikatakan mirip. Bahkan, Mira sempat menyelidiki latar belakang Kinanti untuk sekadar memastikan apakah wanita itu memiliki saudara atau tidak.


Dulu, Mira pernah memiliki sahabat seiya-sekata. Sahabat sejak masa kuliah. Tidak ada hari tanpa bersama sang sahabat. Mereka berbagi suka dan duka dalam setiap lembar kisah. Sampai pada akhirnya, ia harus dikecewakan dan terhunjam di jurang paling dalam saat mendapati sang sahabat bermain hati bersama sang suami. Mereka pergi ke Amerika, hidup bersama di negara asal mantan suaminya hingga saat ini.


Bila mengingat itu, gemuruh di dadanya selalu saja bergejolak. Apalagi saat itu kondisinya sedang hamil tua. Yang lebih menyakitkan lagi bagi Mira karena mendapati nama keduanya yang hampir sama, Miranti–Kinanti, suatu hal yang cukup miris baginya. Alih-alih ingin melupakan masa lalunya, justru mimpi buruk terus hadir membayangi dalam sosok Kinanti.


Sebuah uluran tangan dibarengi dengan seloki tequila, membuat Mira menoleh ke arah samping kirinya. Seorang laki-laki berperawakan tinggi putih dengan hidung bangir mengulas senyum. Kali ini, ia terima ajakan laki-laki tersebut untuk menari di lantai dansa.


Sepertinya, Mira harus menyalurkan emosi bersama entakan musik yang dimainkan DJ. Apalagi wajah rupawan laki-laki di hadapannya ini cukup mengalihkan dunianya.


***


Rizal berkendara pelan menyusuri Jalan Demang Lebar Daun. Tidak ada tempat yang ingin ia datangi, selain bertemu dengan Laras. Namun, keinginannya jelas tidak akan tercapai. Wanita itu melarangnya untuk bertemu kecuali jika pertemuan kali ini tidak disengaja.

__ADS_1


Ah, andai semua itu bisa direkayasa, ingin sekali rasanya Rizal mengirimkan mata-mata untuk mengawasi ke mana Laras pergi. Namun, lagi-lagi niatnya itu diurungkan. Sedikit banyak ia pun ingin meyakini jika jodohnya memang campur tangan Tuhan seutuhnya.


Rizal menepikan mobilnya di parkiran Taman Simpang Polda. Sebuah bangku panjang kecokelatan menjadi tujuannya untuk sekadar menyandarkan tubuh, menikmati suasana sore hari di antara rindang pepohonan dan gagahnya LRT yang tengah melintas di atas jalan layang.


Rizal mengecek email yang masuk, izin cutinya disetujui oleh pihak rumah sakit. Sang ibu menyuruhnya mengunjungi sekaligus menjemput nenek dari pihak ibunya yang berdomisili di Surabaya.


Entah mengapa kali ini, Rizal menuruti saja permintaan wanita yang rahimnya menjadi tempat Rizal tumbuh. Biasanya ia paling enggan jika harus sowan ke keluarga dari sebelah ibu. Bukan tanpa alasan Rizal bersikap antipati. Laki-laki yang hobi menembak itu sudah bosan dengan pertanyaan neneknya mengenai kapan ia akan menikah.


***


Tiga hari sudah Rizal menginap di rumah sang nenek. Ia sudah memeriksa tiket penerbangan untuk kepulangannya tubin ke Palembang. Padahal, ada banyak tujuan wisata yang ingin ia kunjungi, tetapi sayang hasratnya timbul tenggelam. Rindunya membuncah kepada wanita yang akhir-akhir ini selalu hadir dalam mimpinya.


Sekali lewat hutan bambu tersebut mengingatkannya dengan Hutan Bambu Sagano di Jepang saat ia kuliah di sana. Jadi, hari ini, ia penasaran dan berusaha menikmati keindahan hutan bambu sebelum bertolak pulang ke kota kelahirannya.



Setelah memarkirkan mobil di dekat Taman Harmoni, Rizal menyusuri jalan setapak yang mengarah ke Hutan Bambu Keputih. Cukup sesuai ekspektasinya. Jejeran pohon bambu ditanam rapi, berbaris memanjang. Di antara rumpun bambu yang satu dengan lain diberi jarak tiga meter dan membentuk lorong yang bisa dilewati.


Cuitan burung saling bersahutan di antara dedaunan yang lebat sehingga menambah kesan asri tempat ini. Rizal terus berjalan masuk menyusuri rimbun pepohonan bambu.

__ADS_1


Sesekali langkahnya terhenti saat ia melihat beberapa orang mengambil foto di area itu. Bahkan, ia sempat berandai-andai jika suatu saat nanti ingin melakukan pre-wedding di sini bersama Laras.



Laras? Ya Tuhan, bahkan hingga detik ini pun aku masih terus mengharapkannya.


Rizal memejamkan mata, melebarkan kedua tangannya, lalu merasakan sedalam-dalamya kesejukan udara yang memenuhi rongga dada.


Tidak lama, ia menangkap selembar daun bambu yang gugur melambai di udara. Konon katanya, jika menangkap selembar daun yang gugur sebelum jatuh ke tanah lalu meniupkan nama di daun tersebut, keinginan orang tersebut akan terkabul dan menjadi jodoh. Bak remaja tanggung yang memercayai segala mitos percintaan, ia melakukan hal serupa.


“Tuhan, plis bantu aku sekali lagi, jodohkan aku dengan Laras.” Rizal berkata lirih di antara desau angin yang berbisik lembut.


Lama, Rizal memejamkan mata, berharap keajaiban datang mengelilingi. Kemudian, ia membuka mata dan berharap sang wanita pujaan berada di hadapannya. Ia akhirnya terkekeh dengan imajinasinya yang tidak masuk akal. Untung saja di sekitarnya suasana sepi, tidak ada lalu-lalang pelancong lain. Jika tidak, mungkin ia akan menyumpahi ulah konyolnya itu.


Rizal terus menyusuri rimbun pepohonan bambu. Langkahnya terhenti saat ia melihat kunci mobil milik seseorang laki-laki di depannya terjatuh. Sepertinya, si pemilik tidak menyadari akan hal itu. Rizal bergegas menyusul. Namun, hutan bambu itu memiliki tiga persimpangan yang membuatnya kehilangan jejak. Ia mendekati seorang wisatawan lain yang sedang duduk mengikat tali sepatu.


“Permisi, Mba, tadi lihat ada ba ….” Ucapan Rizal tertahan di tenggorokan karena melihat sosok Laras yang melenggak menatap wajahnya. Keduanya terpaku, mematung, sama-sama saling terkejut.


Sepintas kemudian, Rizal tersenyum. Hatinya berteriak kegirangan. Ia merasa, Tuhan selalu hadir dalam perspektif keinginannya. Wanita itu membuatnya jatuh cinta berkali-kali dalam setiap pertemuan tidak terduga mereka.

__ADS_1


***


__ADS_2