Tuba Semanis Madu

Tuba Semanis Madu
MULAI MENUJU PERSIMPANGAN


__ADS_3

Kinanti berdiri di lobi pintu masuk gedung Palembang Sport Convention Center, tempat berlangsungnya konser musik Celine Dion yang akan dimulai satu jam lagi. Ia makin terlihat cantik dengan dress abu-abu selutut beraksen lipit di bagian dada.



Orang-orang mulai berdatangan sejak tadi. Beberapa terlihat berjalan sendirian, berpasangan, dan juga tertawa riuh dalam satu rombongan. Ia sesekali berjinijt untuk memastikan kedatangan Surya. Area parkiran sudah hampir dipenuhi oleh pengunjung.


Kinanti memang tidak datang bersama sang suami. Ia datang lebih dulu setelah pulang dari kantor. Diraihnya ponsel dalam tas, lalu mengetuk layar dan menghubungi Surya.


Waktu menunjukkan jam lima sore. Suasana rumah sakit sudah agak lengang. Dua pasien anak di ruang ICU cukup menyita perhatian Surya hari ini. Setelah menyerahkan tugas kepada dokter residen, gegas ia melangkah menuju lobi. Ia melirik penunjuk waktu di pergelangan kirinya. Tersisa satu jam sebelum konser dimulai, masih cukup waktu untuk berganti baju saat ponsel di saku snelli-nya bergetar. Tertera nama istrinya di layar pipih itu.



“Ya, Honey?”


“Mas di mana?”


“Ini udah di lobi rumah sakit, setengah jam lagi mas sampe di sana.”


“Ok. Kinan udah di sisi kiri pintu masuk, ya. Pake dress hitam.”


Belum selesai pembicaraan mereka, seorang dokter berlari terengah-engah ke arah Surya.


“Dok! Dokter Surya! Dokter Surya! Kondisi pasien Masayu kritis!” jerit Si Dokter Residen dari kejauhan.


Setelah posisinya dekat dengan Surya, dokter itu terengah-engah sambil menunduk memegang lutut. Usahanya berlari mengejar Surya tidak sia-sia.

__ADS_1


“Kenapa dengan Masayu?” Surya berbalik menghadap Si Dokter Residen. Langkahnya terhenti tepat sesaat pintu kaca lobi terbuka.


“Terjadi Endema Park saat anak itu memakai ECMO , Dok. Kami melakukan intubasi, tapi detak jantungnya justru kian melemah.” Si Dokter Residen tersebut memaparkan keadaan pasien dengan panik.


“Bukankah beberapa jam yang lalu kondisinya baik-baik saja?” Surya seraya setengah berlari menuju ruang ICU.


Percakapan telepon antara Surya dan Kinanti masih tersambung sehingga wanita itu bisa mendengar pembicaraan sang suami dengan sejawatnya tersebut. Sepertinya, wanita itu tahu akan ke mana akhir malam ini.


Surya pun tersadar dengan sambungan telepon yang masih menyala.


“Honey, sekali lagi maafin mas, ya. Mas gak bisa nemenin kamu nonton. Tadi Honey bisa denger, ‘kan? Seorang pasien dalam keadaan kritis.” Surya mendesah.


Surya ragu jika wanita itu tidak kecewa kepadanya. Baru saja ia hendak merajut jalinan asa yang sempat merenggang, tetapi kesibukan kembali membuat jarak.


“Okay. Gak papa, Mas. Kinan tutup telponnya, ya. Bye!”


Sambungan terputus sebelum Surya sempat berkata. Meski dalam pikirannya terbayang raut kecewa Kinanti, tetapi malam ini prioritasnya adalah keselamatan pasien. Surya mengesampingkan perasaan Kinanti dan mulai berlari menuju ruangan pasien tadi.


***


Kinanti mendesah frustrasi setelah menerima telepon Surya. Ia menyandarkan punggung di dinding lobi. Ia mengusap wajahnya, bukan karena ingin menangis, hanya sekadar menumpahkan rasa kecewa.



Tubuh Kinanti merosot, berjongkok di lantai dengan wajah tertunduk lesu. Dipandangi dua tiket VIP yang ada di tangan kiri. Ia tidak berhasrat lagi untuk menonton konser meski itu sangat menarik.

__ADS_1


Saat hendak berdiri, sebuah uluran tangan mengarah kepadanya. Kinanti mendongak, terkejut oleh sosok Aksar yang menjulang tinggi di hadapannya. Menggunakan kacamata hitam dengan over coat warna senada, lelaki itu terlihat tampan dan mendominasi.



Sejenak Kinanti terkesiap sehingga tak mampu berkata-kata. Jantungnya seolah-olah berhenti sejenak, lalu berdegub dua kali lebih kencang. Ia berdiri tanpa mengalihkan tatapan dari Aksar.


“Mau nonton bareng saya? Saya dapet dua tiket VVIP dari sponsor. Sayang jika terbuang sia-sia.” Aksar menawarkan tanpa bermaksud menyombongkan diri.


Kinanti berpikir sejenak dan hendak berkata. Akan tetapi, Aksar segera melanjutkan ucapannya.


“Kinan, saya mohon, jangan menolak saya kali ini,” ucap Aksar dengan suara agak serak.


Melihat hal itu, Kinanti menjadi sedikit iba. “Okay, Mas. Hanya untuk kali ini saja, ya, lagian aku kek mubazir kalo ngelewatin Celine Dion yang udah bela-belain ke Indo, tapi gak ditonton sama aku.” Ia bercanda untuk mencairkan rasa kesal yang tadi sempat merajai pikiran.


Aksar menatap dan menertawakan alasan yang diucapkan wanita itu. Tadinya ia ragu untuk hadir di konser Celine Dion. Namun, saat tahu bahwa Kinanti juga akan hadir di sana, ia bersemangat untuk mempersiapkan diri.


Awalnya Aksar cukup puas jika saat konser nanti hanya memandangi Kinanti dari kejauhan. Namun, Tuhan berkata lain. Aksar akui, akhir-akhir ini Tuhan sangat menyayanginya.


Tidak lama kemudian, mereka masuk lewat pintu khusus tamu VVIP. Kinanti menyapu pandangan ke seluruh penjuru area. Ia melihat ke arah bawah tempat duduk, ratusan orang sudah berdiri di dekat panggung. Meski antara panggung dan tempat duduk mereka terpisah oleh kelas festival, ia sangat puas bisa melihat sosok Celine Dion dari jarak sedekat ini.


Sepanjang konser, berkali-kali ia dan Aksar ikut menyanyikan lagu mengikuti sang artis. Beberapa kali Kinanti mendapati laki-laki itu curi-curi pandang menatap dirinya.


Mereka berdua larut dalam percakapan yang makin lama makin menunjukkan kesamaan minat.


Kinanti suka seafood, begitu juga Aksar. Kinanti suka menonton drama, lagi-lagi Aksar pun sama. Berbeda dengan Surya yang terlalu serius, Aksar justru menjadi lawan bicara yang menyenangkan. Aksar menyukai seni, demikian pula dirinya. Perbincangan terus mengalir di antara mereka. Mereka membahas lukisan, pelukis Meksiko Frida Kahlo, hingga tragedi bagaimana akhir seorang Andy Warhol meninggal.

__ADS_1


Pendar di mata Kinanti berbinar. Ada bunga yang bermekaran dalam hatinya. Namun, kali ini bukan untuk Surya.


***


__ADS_2