Tuba Semanis Madu

Tuba Semanis Madu
TAK HARUS MEMILIKI


__ADS_3

Kesibukan Kinanti dalam menggarap novel milik Aksar sedikit banyak menguras waktunya bersama keluarga. Ia mulai memaklumi kesibukan Surya, berusaha mengerti jika perhatian sang suami bukan hanya untuknya.


Entah itu hanya sekadar menutupi sebuah rasa baru yang bercokol di hatinya, atau memang pemahaman atas kesibukan sang suami.


Apalagi kejadian di perpustakaan seminggu lalu, sedikit banyak membuat Kinanti mulai menghadirkan Aksar dalam pikiran. Sesekali wajah lelaki itu muncul dalam benaknya. Berkali-kali ia menepis pikiran aneh yang kadang melintas, ia berusaha menganggap hal itu hanya sekadar emosi sesaat.


Untunglah saat itu, Bena segera menyusulnya dan membuka ruangan yang terkunci dari luar. Jika tidak, mungkin saja akan terjadi hal yang lebih parah di luar kendali Kinanti.


Sosok Aksar seolah-olah terus mengikuti ke mana ia melangkah. Bahkan, saat bersama Laras dan Bena mengunjungi bazar dan pesta lampion di Pulo Kemaro kemarin, Kinanti seolah-olah melihat sosok Aksar di antara lampu lampion dan ramainya pengunjung.


Berisiknya suara ketek yang membawa mereka membelah Sungai Musi menuju tempat wisata tidak menghentikan Kinanti membayangkan ciuman itu berkali-kali. Ia bahkan harus memukul-mukul kepalanya dengan tangan untuk mengenyahkan bayangan laki-laki itu saat tengah mengabadikan gambar diri di depan pagoda berlantai sembilan di pulau yang terletak di tengah sungai.


Berbeda dengan Aksar, hari-harinya justru semakin berwarna. Senyum selalu menghiasi wajah berahang keras itu. Ide menulis yang sempat terjangkit writer’s block, kembali memenuhi ruang imajinasinya. Ia kembali mengunggah sejumlah quote romantis untuk para pembacanya. Ia makin melebarkan senyum setelah melihat notifikasi Instagram, Kinanti menyukai postingannya.


***


“Siapakah pencuri terkejam di dunia? Pencuri terkejam di dunia adalah mata wanita. Jika ia melihatmu dengan tatapan mata indahnya, kamu akan kehilangan segalanya, lalu terdiam dan tersenyum karenanya.” (Ibnu Arabi)


Seutas senyum mewarnai wajah cantik Kinanti saat membaca kutipan tersebut. Meskipun berusaha menampik postingan itu bukan tertuju kepadanya, tetapi tetap saja ada sebuah rasa yang mulai berkecambah. Tidak sengaja jemarinya meninggalkan jejak di sana.


“Aduh! Gawat!” Kinanti menepuk dahinya sembari memandangi ponsel yang ada di genggaman. Ia memejam lalu sedikit menunduk. Ditatapnya makanan yang masih tersisa setengah. Nafsu makan seolah-olah menguap karena kecerobohannya.


“Kenapa lagi, Kin?” Bena menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. Gadis itu baru saja mengunggah foto minuman miliknya dari kafe tempat mereka makan siang.


“Gak, gak papa!” Kinanti berusaha menutupi kegelisahannya.


“Apanya gak papa, nih barusan gue liat di IG-nya Right Man milik Aksar, elu ngasih banyak jejak love di sana. Ah, jangan-jangan elu mulai main hati, nih! Nah … nah … nah!” Bena menggerak-gerakan telunjuknya ke arah Kinanti.


“Kamu aja yang sok nerawang. Yang nge-like postingan dia kan gak cuma aku, kamu juga tuh.” Kinanti mencoba mengelak sambil menggulirkan layar ponsel ke arah Bena.


“Udahlah, Kin. Elu aja masih utang penjelasan sama gue soal kejadian di ruangan kemarin. Untung gue nyusul elu. Kalo, gak … ah, gue yakin banget pasti sesuatu udah terjadi antara kalian berdua. Bener, ‘kan?”


Kinanti hanya menghela napas. Dibiarkannya Bena berspekulasi. Ia tersenyum dan menggeleng kuat-kuat. “BIG NO, Bena! Lagian soal kejadian kemarin, ya, emang aku dan Aksar cuma gak sengaja kekunci.”


“Well, awas lu macem-macem, ya! Inget, suami elu tu tipe idaman semua cewek. Jangan gak bersyukur lu!”


Kinanti hanya tersenyum tanpa menjawab omongan sahabatnya itu. Meski blak-blakan, ia bersyukur mempunyai sahabat seperti Bena dan Laras yang tidak segan-segan menegurnya jika ia salah. Lagi pula, suatu hal mustahil bagi Kinanti untuk berpaling dari Surya.


***


Kinanti dan Aksar kembali membahas proyek mereka. Perbaikan dan masukan dari Kinanti dilakukan lewat email dan chat WA. Diskusi di antara keduanya makin akrab.


Kinanti berusaha melupakan kejadian itu dan bersikap sewajarnya. Sejauh ini, ia berusaha seminimalisir untuk berhubungan dengan penulis itu. Bukan karena terlalu percaya diri, tetapi ia merasa sikap Aksar jelas menyiratkan bahwa lelaki itu memiliki perasaan lain kepadanya. Ia bisa melihat jelas ketertarikan dan terang-terangan menunjukkan rasa suka itu.

__ADS_1


Sisa sepuluh bab terakhir dari naskah Aksar yang telah Kinanti kurasi. Sejauh ini, tidak ada kendala teknis yang berarti. Hanya beberapa typo yang bertebaran di naskah penulis itu.


Naskah cukup rapi hingga terkadang ia tenggelam dalam cerita yang Aksar tulis. Namun, untuk bab terakhir yang ia baca, pemikiran Kinanti sedikit terusik. Ia mengerutkan dahi. Beberapa kali ia menggulirkan worksheet-nya naik turun untuk sekadar memastikan padanan kata yang dirangkai dalam cerita Aksar tidak ambigu dan menimbulkan plot hole.


Ini beneran salah atau sengaja dibuat salah, sih. Kinanti membatin.


Jemarinya sibuk memberi tanda merah di hampir setengah isi cerita bab tersebut.


“Kok malah jadi nulis puisi? Korelasinya ke mana sama isi cerita?” Kinanti bersungut mendesah.


Ia menghela napas dalam. Pekerjaannya makin menumpuk dengan adanya event writer hunting yang diadakan oleh GrewMedia. Ratusan blurb dan sinopsis memenuhi kotak masuk untuk diseleksi. Beban pekerjaan yang cukup menguras tenaga dan pikiran, ditambah lagi dengan draft naskah Aksar yang belum rampung.


Kinanti mengambil ponsel yang berada di dalam laci meja. Mau tidak mau, ia harus menghubungi Aksar.


***


Aksar menandaskan air dalam gelas dengan cepat. Satu jam berlari di treadmill cukup membuatnya kehilangan banyak cairan. Kaus oblong putih dan celana pendek yang ia kenakan basah dipenuhi keringat.


Suara notifikasi dari ponsel yang terletak di meja, mengalihkan perhatiannya dari Max yang duduk dengan lidah terjulur di pangkuannya. Anjing itu seolah-olah mengerti dengan apa yang ia lakukan. Max turun, duduk manis di dekat kakinya.


Aksar tersenyum, menunggu momen saat Kinanti menghubungi dirinya. Bab dua puluh sengaja ia tulis berbeda dari konteks cerita. Ia sudah memperkirakan bahwa inilah momen tepat untuk mendekati wanita pujaannya itu.


[Siang, Mas. Jika luang waktu, mohon cek email aku, ya. Terima kasih. ]


[Ya, Kinan. Saya sudah melihat hasil revisinya. Ada yang perlu diperbaiki?]


[Ya, silahkan.]


[Kenapa, isinya jadi missing kek gitu, Mas? Kok jalan ceritanya gak nyambung sama bab sebelumnya.]


[Itu memang bukan bab ke-20. Itu bagian yang sengaja aku tulis.]


[Nulis Puisi??? Untuk apa?]


[Itu cuma puisi yang gak sengaja saya tulis, idenya muncul tiba-tiba...]


Hubungannya dengan naskah, apa, Mas?]


[Gak ada. Puisi itu ditulis pas kamu terlintas dalam pikiranku :)]


Deg!


Kinanti menelan ludah. Debar di dadanya semakin tidak keruan. Jika percakapan ini diteruskan, tentulah akan melebar ke mana-mana. Wanita itu segera mematikan data internet, mencoba sejenak luring dari aktivitas pekerjaan.

__ADS_1


Tentang Sebuah Tanya


Ada yang bertanya,


tentang rasa yang singgah.


Gagapku tak mampu berkata,


karena ia datang tanpa sebuah alasan.


Diamku tak mampu merangkai aksara,


karena ia hadir lewat sebuah rasa nyaman.


Mencoba abai pada gejolak rasa.


Yang awalnya hadir sekedar berkecambah.


Lalu terus tumbuh dan berbunga.


Aku terjatuh di antara putik-putik tawamu yang terus saja merekah.


Hingga harumnya menjadi dadah.


Bagi si kumbang renjana.


Bolehkah aku menjadi sebuah rahasia?


Mengisi secuil ruang kosong yang mungkin saja masih tersisa.


Bolehkah aku mencintaimu dalam sunyi?


Sekedar untuk membasahi gersang yang mendera pada sekeping hati.


Jika harus berbagi hati pada sosok yang sudah merajai hati.


Tak apa,


Aku terima,


Aku baik-baik saja.


RM,

__ADS_1


Sudut Rindu.


TBC


__ADS_2