
Novel Aksar akan memasuki tahap cetak sehingga semua divisi mulai disibukkan dengan berbagai hal. Begitu juga dengan Kinanti. Kesibukannya jelas menyita seluruh waktu. Bahkan, tidak jarang ia mengambil lembur di akhir pekan.
Sebulan sebelum peresmian penjualan, rapat kembali diadakan. Rosalina duduk menghadap meja berbentuk oval dengan delapan kursi yang melingkar. Di hadapannya sudah hadir Kinanti, Bena, Mira, dan dua orang dari divisi marketing. Suasana ruang rapat kali ini terlihat menegangkan, setiap orang mengeluarkan argumen yang berbeda.
“Bena, bagaimana desain sampul yang kemarin saya suruh revisi? Terakhir saya lihat, Aksar tidak terlalu menyukai gambar sampul yang kamu buat. Apakah gambar untuk publikasi sudah siap dirilis dan dibagikan ke pihak marketing?” Rosalina memandang Bena sembari bersedekap.
Bena membenahi posisi duduknya yang bersandar menjadi tegak. “Semua sudah saya perbaiki. Sudah saya share ke Pak Aksar dan grup WA para direksi, Bu. Mereka cukup puas dengan desain cover novel Pak Aksar nanti.” Ia membenarkan letak posisi kacamatannya yang melorot hingga ke hidung.
“Kinanti, berapa buku yang akan dicetak pada cetakan pertama ini?” Kini, Rosalina mengarahkan pertanyaan kepada Kinanti.
Kinanti memutar kursi dan menggeser laptopnya ke tengah meja. “Untuk cetakan pertama ini, saya sudah berkoordinasi dengan bagian marketing dan keuangan. Dari hasil pembicaraan kemarin, kita akan mencetak lima belas ribu eksemplar pada cetakan pertama.”
“Cuma lima belas ribu? Gak salah, nih? Kalo aku yang pegang naskah Aksar kemarin, di cetakan pertama bisa lebih dari itu.” Mira memotong perkataan Kinanti dengan cepat. Wanita itu menyeringai dengan sombong. Kalimat yang ia keluarkan terdengar tendensius dan provokatif.
Rosalina menoleh tajam ke arah Mira, lalu meletakkan pulpen di tumpukan kertas dan bersedekap.
“Ini cetakan pertama dan saya yakin di minggu kedua pasti langsung cetak tahap berikutnya,” tukas Kinanti mantap.
“Bu Mira, saya minta fokus Anda lebih kepada usaha kita agar buku Aksar kali ini terjual sama seperti buku-buku sebelumnya. Bukan mempermasalahkan soal siapa yang memegang naskah. Jelas itu sudah lewat. Saya yakin Kinanti sudah bekerja keras dan hasilnya cukup memuaskan.”
“Saya tidak mengatakan kinerja Kinanti buruk, Bu.” Mira menjawab datar dan melupakan aturan bahwa saat diskusi, semua orang dituntut profesional dan mengesampingkan segala urusan pribadi.
“Kamu memang tidak mengatakan, tapi pernyataanmu tadi menyiratkan ke arah itu.”
Seketika Mira terdiam, lalu menyandarkan bahunya malas. Ia melirik ke arah Kinanti, tetapi diabaikan oleh wanita berkacamata itu.
__ADS_1
“Boleh saya lanjutkan, Bu?” Kinanti meminta pendapat yang dibarengi anggukan wanita berambut gaya pixie cut tersebut.
“Ya, silakan!” jawab Rosalina singkat.
Kinanti berdiri menuju personal komputer dan proyektor di ujung meja. Ia memulai membahas tentang target dan hal-hal yang sudah direncanakan dalam proyek penerbitan novel Aksar.
Rosalina dan seluruh redaktur memfokuskan perhatian ke video pendek dan foto-foto yang digarap Kinanti. Sang pemimpin redaksi tersebut punya kebiasaan mencatat hal-hal penting menggunakan tulisan tangan. Sudah jadi rahasia umum bahwa bagi Rosalina menulis dengan tangan sama seperti menghafal.
Mencatat adalah metode untuk meningkatkan daya ingat. Wanita itu sangat meyakini akan mudah memahami dan mengingat semua planning yang ia susun dengan mencatat.
Selain adanya bukti secara tertulis, itu memudahkannya mencari jika sewaktu-waktu memerlukannya. Jadi, sewaktu wanita itu mendengar atau ditanya, otomatis pikirannya merespons. “Saya pernah mencatat hal itu.”
Sepertinya, wanita paruh baya itu benar-benar menerapkan sebuah hadis tentang keutamaan mengikat ilmu dengan tulisan.
***
Hari-hari Kinanti terus dipenuhi kesibukan hingga tidak jarang dirinya memilih lembur agar target yang diinginkan tercapai. Ia turun langsung ke percetakan, untuk memeriksa beberapa hasil cetak. Ia juga menulis di blog pribadi dan masuk komunitas-komunitas penulis untuk mempromosikan buku milik Aksar.
Perhatiannya teralihkan saat pesan Surya singgah di ponselnya.
[Honey, mas besok ke Jakarta 3 hari. Ada undangan simposium pediatrik dari IDAI pusat. Mau dibawain oleh-oleh apa?]
Entah mengapa kali ini Kinanti tidak terlalu antusias membalas pesan dari sang suami.
[Gak ada, Mas. Hati-hati aja di jalan, ya. Bye :)]
__ADS_1
Setelah itu, Kinanti melanjutkan lagi membalas email yang masuk. Tidak lama, panggilan bernada dering Semesta Hidupku, terdengar. Nada dering khas yang Kinanti sematkan khusus untuk Aksar. Ia tersenyum dan bersemangat menyambut telepon.
“Ya, Mas?”
“Sibukkah?”
“Sangat! Dua minggu menjelang launching buku kamu, Mas.”
“Apa Kinan gugup karena sudah masuk tahap pencetakan?”
Kinan terkekeh mendengar ucapan Aksar
“Yang mestinya gugup itu kamu, Mas. Jika penjualannya gak bagus, kemungkinan gak akan dicetak lagi, ‘kan?”
“Saya yakin dalam waktu seminggu setelah cetakan pertama, novel saya akan dicetak ulang.”
“Ih … keknya ada yang mulai sombong, nih.”
“Saya yakin banget, karena kamu editornya. Mungkin suatu saat nanti saya akan nulis novel judulnya Editor Cantik Itu Kekasihku.”
Kinanti tersipu dengan ucapan Aksar. Meski terdengar receh, entah mengapa ia menyukai hal itu.
***
__ADS_1