Tuba Semanis Madu

Tuba Semanis Madu
SAKIT TAK BERDARAH


__ADS_3

Aksar menunggu balasan WA dari Kinanti sembari berendam dalam jacuzzi di kediamannya. Ia meyakini Kinanti akan tersipu membaca puisi darinya. Ia tahu, dari dulu ketertarikan Kinanti terhadap sastra terutama puisi cukup besar.


Ponsel Aksar berbunyi kembali. Seperti yang ia duga, wanita itu membalas pesannya setengah jam dari pesan yang terakhir. Sebuah foto dikirim Kinanti. Foto jari manis wanita itu dengan sebuah cincin yang tersemat. Benda mungil melingkar berbahan platidium minimalis dengan sebuah berlian di tengahnya.


[Maaf, Mas. Terima kasih atas perhatiannya :)].


Tak ada jawaban dari Aksar. Ia hanya membacanya singkat, lalu melemparkan ponsel secara asal. Ada rasa panas yang kembali memenuhi rongga dada.


Kemudian, direndamkan seluruh tubuhnya ke dalam jacuzzi untuk mendinginkan api cemburu. Setelah itu, ia beranjak naik dari kolam tersebut. Tetesan air membasahi lantai, membuat jejak basah seiring langkahnya menuju kamar.


Masih dengan balutan handuk yang melingkar di pinggangnya, Aksar mulai menarik laci dalam lemari baju. Ia meraih kotak kecil beludu warna hitam yang sudah disimpannya sekian lama. Dibawanya kotak perhiasan menuju balkon. Ia mengabaikan udara dingin yang menusuk persendian.


Lelaki bertubuh atletis itu masih menggenggam kotak tersebut dan meremas-remasnya cukup lama. Saat kotak itu terbuka, tampak sebuah cincin dengan bentuk dan motif sama yang dipakai Kinanti. Pandangannya jauh memandang lazuardi.


Cincin itu miliknya.


Cincin pertunangannya ... dengan Kinanti.


Lamunan kembali membawanya pada masa 16 tahun silam ....


“Kau pilih saja model cincin seperti apa yang kau mau,” sahut Sutrisno kepadanya saat itu. Ayahnya itu mendekat sambil menyodorkan sebuah katalog perhiasan.


“Tapi, Pa. Apakah gadis itu akan setuju untuk menikah denganku? Dia saja belum pernah bertemu denganku,” jawab Aksar sedikit ragu.


“Aku tahu, kau sudah mengikutinya sejak lama. Seleramu cukup bagus, Nak. Setelah kuselidiki siapa orang tuanya, ternyata ayahnya adalah sahabat yang selama ini aku cari,” jelas Sutrisno. Ini kalimat terpanjang selama ia bercengkerama dengan anak laki-lakinya.


“Maksud, Papa?”


“Ya, ayah Kinanti adalah temanku sejak masa SMP.” Sutrisno hanya menjawab seadanya. Kemudian, keheningan pun tercipta di antara keduanya.


Laki-laki paruh baya itu cukup terkejut dengan kenyataan bahwa sahabat karibnya telah tiada.


Masih terkenang dulu, mereka akrab dan sering menginap di rumah orang tua si Sahabat. Kedua orang tua si Sahabat begitu baik dan menganggap Sutrisno seperti anak sendiri.


Mereka sering membantu perekonomian orang tua Sutrisno dulu kala. Sutrisno muda jelas merasa tidak mungkin bisa membalas budi ayah Kinanti dan keluarga. Keduanya berjanji akan berbesan jika nanti memiliki anak laki-laki dan perempuan. Tuhan pun mengabulkan keinginan mereka. Namun sayangnya, komunikasi di antara mereka terputus saat ayah Kinanti ditugaskan ke daerah Papua.


Sekian tahun terpisah, betapa Sutrisno gembira saat mengetahui Kinanti adalah anak sahabat karibnya. Bahkan, Sutrisno sendiri telah membahas pertunangan ini bersama istri sahabatnya itu. Ibu Kinanti memang sudah menunggu lama untuk memenuhi wasiat terakhir sang suami.


Aksar berbinar mendengar kenyataan itu dan seolah-olah mendapat durian runtuh. Saat itu, ia beranggapan jalannya untuk bersama Kinanti tidak akan memiliki aral. Ia sendiri tidak percaya jika papanya yang selama ini kasar dan dingin ternyata memberi perhatian lebih.


Sejak kecil, Aksar hanya tinggal bersama sang mama dan beberapa asisten rumah tangga di rumah yang cukup mewah. Sutrisno pulang dua kali sebulan, itu pun hanya sebentar. Aksar sering menanyakan tentang itu, tetapi mamanya tak pernah menjawab.


“Terima kasih untuk perhatian Papa padaku.”


Aksar berdiri mencium tangan Sutrisno.

__ADS_1


Sutrisno terdiam kaku, lalu segera melepaskan pegangan tangan Aksar. Sungguh, hal ini jarang terjadi hingga percakapan pun terkesan formal dan kikuk.


Aksar akui, ia tak begitu dekat dengan Sutrisno. Jarang sekali terjadi pembicaraan di antara keduanya. Pernah sesekali Aksar ingin bercengkrama dengan sang ayah, tetapi niatnya selalu diurungkan bila melihat tatapan benci yang selalu ditujukan lelaki tua itu kepadanya.


Saat SD dulu, rasa iri kadang menghampiri Aksar. Ketika bel pulang sekolah dan melihat teman-temannya dijemput oleh ayah mereka, Aksar hanya memandang dengan tatapan kosong. Betapa ia sangat berharap Sutrisno juga menjemputnya. Namun, hal itu tidak pernah terwujud walau hanya sekali.


“Kau tau, Aksar.” Sutrisno berucap dengan pandangan lurus ke luar jendela gedung lima lantai miliknya. Ia menyesap cerutunya dalam, lalu mengembuskan asap pelan-pelan.


Aksar menoleh, lalu kembali tertunduk diam menunggu kelanjutan dari perkataan Sutrisno.


“Pepatah lama mengatakan, tidak ada makan siang gratis dalam dunia ini. Hal itu juga berlaku termasuk kepada anakku sendiri.”


“Aku tidak mengerti dengan yang Papa katakan,” ujar Aksar menatap punggung papanya.


“Papa akan melamarkan Kinanti untukmu, dengan satu syarat ....”


Mereka sama-sama terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya bunyi detak jarum jam yang terdengar jelas di antara mereka. Tidak lama kemudian, Aksar pun bersuara.


“Syarat? Syarat apa, Pa?”


Sutrisno masih terdiam, lalu mengarahkan pandangan tajam ke arah Aksar. “Syaratnya mudah. Bujuk mamamu untuk meninggalkan kota ini!”


***


Rizal segera mendekati Laras yang masih tampak tidak acuh di dekatnya. Meski tanpa dirinya, kemenangan tetap berhasil diraih oleh tim mereka.


Rizal membuka helm dan kacamata yang membingkai wajah orientalnya. Awalnya, ia bingung hendak berkata apa sebagai permulaan pembicaraan di antara mereka.


Tuhan, please bantu aku sekali ini aja.


Lalu, keberanian Riazal muncul. Ia meneguhkan diri untuk menyapa wanita yang sedang membereskan safety kit. “Hai, Laras. Apa kabar?”


Laras berbalik punggung, menoleh ke suara bariton yang terdengar tidak asing di telinganya. “Kak Rizal? Eh, Kakak anggota klub juga?” Ia menatap Rizal sembari menepuk-nepuk pundaknya.


Sebuah anggukan kecil dari lelaki itu menjawab pertanyaan Laras. Pandangan keduanya berserobok dan terhenti cukup lama. Ada degub aneh di jantung Laras, lalu memalingkan muka ke arah lain untuk menutupi rona merah di wajah ovalnya. Setelah itu, seutas senyum tertahan, tiba-tiba mengembang di bibirnya.


Secara bersamaan, detak jantung Rizal pun bergema senada. Ia menikmati senyum yang membuat jantungnya berdetak tidak normal.


Ada keheningan tercipta sejenak di antara mereka. Meski seutas senyum mengembang cantik dan semakin mengencang setiap kali menatap wajah Laras lebih lama, Rizal berusaha bersikap biasa. Gadis itu tidak banyak bicara, bahkan Rizal sedari tadi memperhatikan jika pemilik manik hitam di depannya hanya sibuk dengan diri sendiri.


Laras tidak ikut berbaur dengan beberapa wanita dalam komunitas menembak yang sedang bercengkerama di meja depan.


“Jangan-jangan Kakak yang nembak aku tadi, ya?” Laras menodong Rizal dengan pertanyaan yang membuat lelaki tampan itu sedikit salah tingkah.


Telapak tangan Rizal mulai basah.

__ADS_1


Nembak? batin Rizal mengulangi pertanyaan Laras.


Pertanyaan yang terkesan ambigu.


“Ya, tadi kakak nembak kamu, jadi diterima, gak?” ujar Rizal memancing reaksi Laras.


“Bukan nembak yang itu, Kak!” Laras tersenyum dan menutup mulutnya sembari memalingkan muka. Rona merah kembali terlihat di paras manis itu.


“Sorry, kakak bercanda. Ngomong-ngomong Laras udah lama gabung di sini?”


“Gak. Aku juga baru, kok. Baru dua tahun belakang. Kak Rizal sendiri? Aku jarang liat Kakak latihan.” Laras masih memegang erat peralatannya dan hendak menuju kabinet penyimpanan. Langkah pelannya diiringi Rizal.


“Sebenernya kalo hobi udah sejak kuliah. Tapi, kalo gabung di klub ini baru setahun terakhir. Kakak baru nyempetin waktu kalo gak ada jadwal operasi,” sahut Rizal. Langkah keduanya terhenti di depan ruang ganti.


“Aku duluan, ya, Kak.” Laras menutup perbincangan singkatnya dengan Rizal.


Namun, langkahnya terhenti saat ia mendengar jawaban Rizal,


“Laras … kakak traktir makan, boleh?” ajak Rizal. Mereka sama-sama berada di depan pintu ruang ganti.


Ada jeda panjang sebelum Laras memberi anggukan kepala.


Iyes!


Kali ini, Rizal tidak akan melewatkan kesempatan untuk lebih mengenal Laras: gadis pendiam yang begitu manis, sesuai selera sang ibu yang memang menyukai gadis yang tidak terlalu banyak omong.


Laras sengaja menerima ajakan makan siang Rizal. Ada hal penting juga yang ingin ia sampaikan kepada lelaki yang masih tersenyum lepas di hadapannya.


***


“Pesen model tanpa irisan mentimun. Bening tanpa kecap!” ujar Rizal dan Laras bersamaan.


Keduanya menoleh saling berpandangan lalu tertawa berbarengan di depan pramusaji yang menawarkan menu makanan khas Palembang. Rizal dan Laras sepakat menikmati siang itu dengan memilih sebuah resto di daerah 26 Ilir.


Dua insan itu saling berpandangan, terkejut dengan selera rasa yang sama. Detik kemudian, kata demi kata mulai mengalir di antara keduanya. Beberapa pengunjung seolah-olah menilai mereka adalah pasangan suami istri karena chemistry yang ditimbulkan.


Laras masih belum terlalu yakin dengan apa yang terjadi dengan hidupnya. Sungguh, skenario Tuhan terlalu cantik untuk dicerna. Ini bukan seperti jalan hidup yang selama ini ia jalani. Bahkan, ia menemukan pria dengan selera makanan yang sama.


Hal yang sama dirasakan oleh Rizal. Ia telah meyakini, Laras adalah jawaban atas doa-doa yang ia panjatkan dalam sujud malamnya.


Getar bahagia yang tadi menyelimuti Laras seketika padam saat ia teringat sesuatu. Hal inilah yang akan ia sampaikan jika suatu saat bertemu kembali dengan Rizal. Mumpung semuanya belum terlalu jauh dan hatinya belum terlampau mengingini.


“Kak, aku mau bilang sesuatu. Ini cukup penting.” Laras mengaduk perlahan es kacang merah.


Rizal, yang sempat menatap layar ponsel untuk mengecek percakapan dalam grup WA, segera memperhatikan Laras dengan intens. “Ya, kakak denger. Kamu mau ngomong apa?”

__ADS_1


“Sebenernya, aku ini … seorang janda …..”


***


__ADS_2