
Surya melirik jam dinding berbentuk bunga yang ada di poli praktik. Laki-laki itu mondar-mandir gelisah memikirkan Kinanti. Sudah satu minggu ia mendiamkan sang istri. Hatinya benar-benar kacau menahan kerinduan sekaligus kecemburuan terhadap Kinanti.
Sepertinya, ia harus berdamai dengan rasa hati waswas yang terlalu berlebihan. Toh, setelah ia selidiki akun penulis ternama itu, tidak ada suatu hal memperlihatkan hubungan istimewa di antara mereka. Hanya sesekali ia melihat respons love dari Kinanti di beberapa postingan penulis itu.
Kali ini, laki-laki penyuka teh itu harus mencoba memahami pekerjaan sang istri. Apalagi ia sangat paham, jika Kinanti memang mempunyai keramahan yang cukup luar biasa sehingga siapa saja merasa nyaman di dekatnya.
Meski sedikit terganggu dengan beberapa postingan yang diunggah sang penulis, tetap saja ia coba meyakinkan dirinya sendiri jika itu bukan suatu hal besar. Ia tidak mau mahligai yang sudah belasan tahun terajut hancur karena cemburu buta dan emosi sesaat.
Surya mengambil tas kerjanya, lalu berlari menuju parkiran. Ia ingin pulang karena merindukan Kinanti teramat dalam.
Setelah sekian lama bertahan di atas kegersangan, Surya kembali menemukan telaga jernih dari senyum Kinanti yang menyambut kedatangannya sore itu. Bagaskara mulai menepi ke peraduan, sama seperti hatinya.
Sebuah senyum manis terulas dari wajah Surya. Setelah memikirkan dalam-dalam, ia sadar bahwa dirinya tidak mampu berlama-lama mendiamkan Kinanti. Ia rindu tatapan manja dari wanita itu. Perlahan, ia mendekat, membelai rambut kecokelatan milik sang istri.
Walau awalnya terkejut atas perhatian Surya, Kinanti mengikuti saja kehendak sang suami atas dirinya.
Surya menggandeng jemari Kinanti menuju kamar mereka. Ada sebuah hasrat tertahan dan sempat dibumbui rasa cemburu yang butuh pelepasan.
“Honey, maafin mas ka—” Surya berkata lembut, lalu meredam hasrat dalam kecupan hangat sang istri.
Seperti halnya Surya, Kinanti pun merasakan gairah yang menyelimuti seluruh pikirannya. Kehangatan menjalar di hatinya saat ia merasakan getar hasrat sang suami. Diletakkannya ponsel secara asal, lalu balas memeluk Surya.
Surya pun merengkuh pinggang Kinanti. Sebuah ciuman yang sudah lama ia rindukan, kembali membuncah tidak terbendung. Ia sangat mencintai Kinanti, begitu sangat.
Dua insan yang saling menahan sebuah rasa, kini bersama mencapai titik puncak melepaskan rindu.
Napas yang saling terengah dan detak jantung yang memompa lebih cepat. Peluh bermuara membasahi tubuh, menuntaskan sebuah rindu.
__ADS_1
Sejam berlalu, Surya tertidur nyenyak di sisi kanan Kinanti. Ada rasa nyaman saat Kinanti memandangi wajah Surya. Ia membelai rambut halus di sekitar pipi sang suami. Jari lentiknya terus menyusuri hingga pelipis kiri lelaki itu.
Ada bekas jahitan akibat kecelakaan yang pernah dialami suaminya dulu. Kecelakaan yang merenggut nyawa sang ibu.
Papi mertuanya pernah bilang, bahwa Surya sempat mengalami amnesia. Namun, sepanjang hampir lima belas tahun mereka menikah, Kinanti merasa Surya sudah sembuh total. Menurutnya, tidak ada ingatan yang terlupa, kenangan di lembar perjalanan hidup Surya dipaparkan jelas dalam setiap momen.
“Slept tight, Mas. I love you much.” Kinanti berbisik sembari mengecup kening Surya agak lama.
Walau menikmati setiap momen mereka bersatu, Kinanti sedikit mendesah frustrasi. Terkadang, ia menginginkan afterplay dan bertukar kata-kata manis setelah percintaan. Namun, dengkuran halus dan teratur membuatnya tidak tega untuk membangunkan Surya. Ia menatap langit-langit hingga kantuk menyerang dan membuatnya tertidur.
***
Minggu pagi kali ini terasa lebih ceria di rumah Kinanti. Si Kembar sedang lari pagi di taman kompleks Perumahan Alexandria Jakabaring. Taman bermain dan jogging track yang menjadi fasilitas dari perumahan itu memang tidak jauh dari rumah mereka.
Sarma sedang menggunting pucuk daun yang menguning. Ia menata ulang letak pot-pot bunga di sisi teras rumah.
Surya mengulas senyum tertampan yang ia punya. Betapa ia bahagia karena hubungan dengan istrinya kembali mesra.
“Udah, Honey duduk manis aja di situ.” Surya berujar kepada Kinanti saat sang istri hendak membantunya masak.
Kinanti hanya tersenyum dengan tangan memangku dagu. Bosan memandangi punggung sang suami, ia beringsut memeluk Surya dari belakang. Dihidunya aroma tubuh lelaki itu layaknya candu.
Surya menikmati pelukan sang istri sambil terus mencuci piring di wastafel. Pelukan Kinanti baru terlepas saat suara kedua putri dan ibu mertuanya makin jelas terdengar dari arah pintu.
“Yeaaay, papa masak nasi goreng seafood.” Arqee berteriak kegirangan sembari mendekati Surya.
“Kamu, kek gak pernah makan nasi goreng seafood aja, sih, Qee,” imbuh Sharqee kalem.
__ADS_1
“Bukannya gak pernah, tapi papa udah lama banget gak masakin kita nasi goreng beginian. Hmmm, enaaak.” Gadis itu duduk mencicipi sesuap nasi.
“Cuci tangan dulu, ah. Kamu kebiasaan kalo dari luar langsung nyomot makanan, Cu.” Sarma menepuk pelan lengan cucu kesayangannya itu.
Surya dan Kinanti hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah putri bungsu mereka. Di tengah waktu sarapan, Surya mengeluarkan sebuah amplop panjang bewarna putih. Disodorkannya amplop tersebut ke arah Kinanti.
“Apa ini, Mas?”
“Buka aja, hadiah buat Honey.” Surya duduk di depan Kinanti sembari meneguk air.
“Dalam rangka apa Mas ngasih hadiah ke Kinan? Ultah masih lama, anniversary juga masih beberapa bulan lagi.” Kinanti melirik sang suami, lalu membuka bagian atas amplop.
Kinanti menjerit histeris saat melihat isi di dalam amplop tersebut. Dua lembar tiket konser musik VIP terselip di sana.
“Celine Dion!” Kinanti sedikit berteriak menutup mulutnya dengan tangan kanan.
Rasa haru menyelimutinya. Ia beranjak dari kursi untuk memeluk sang suami dari belakang. Betapa ia bahagia karena akan menonton secara langsung penyanyi favoritnya sejak masa sekolah dulu.
“Cie ... cie ... keknya ada yang mau jalan-jalan gak ngajak kita lagi nih, Kak.” Arqee menggoda ibunya. Si Bungsu memang lebih ekspresif dibanding saudara kembarannya.
Pasutri itu hanya tersenyum mendengar celetukan Arqee.
“Makasih, ya, Mas. Kinan seneng banget.” Kinanti masih memeluk Surya.
Sekarang, gantian Sarma yang geleng-geleng kepala melihat tingkah manja Kinanti.
“Itu adalah hadiah sebagai penebus karena kesibukan mas beberapa bulan terakhir dan permintaan maaf tentang yang kemarin.” Surya menatap wajah Kinanti seraya mengelus lengan sang istri.
Hati Kinanti dipenuhi bunga. Binar bahagia terpancar dari manik matanya. Sungguh, rasa cinta sang suami memang tidak pernah alpa kepadanya.
__ADS_1
Bersambung...