
"Surya.” Sarma menegur pelan dan coba mengingatkan sang menantu.
“Maaf, Bu,” ucap Surya menyadari kesalahannya.
Kemudian, Sarma meninggalkan Kinanti dan Surya di dapur.
Surya mendesah lelah menyadari perbuatannya.
Kinanti menatap Surya putus asa. Sepertinya acara makan malam yang sudah ia persiapkan hari ini tidak berjalan baik. “Gak seharusnya kamu gitu ke mereka, Mas!”
“Iya, mas ngerti mas salah, Honey. Mas gak sengaja keceplosan,” tukas Surya dengan nada setengah kesal.
“Seharusnya itu gak terjadi kalo Mas gak bawa masalah pekerjaan ke rumah. Kami juga punya hak atas dirimu, Mas.”
__ADS_1
“Resiko bersuamikan dokter memang seperti ini, Honey. Bukankah kamu udah paham selama ini? Tolong mengertilah sedikit!”
“Apa selama ini Kinan kurang ngertiin Mas? Sampe kapan kami harus ngertiin kamu, Mas? Salah satu alasan Kinan gak ngizinin Mas buka praktek di rumah, karena ngarep Mas bisa luangin waktu ke anak-anak, ke Kinan juga.”
Kinanti mengeluarkan semua unek-unek yang mengganjal di hatinya. “Mas lebih mentingin pasien-pasien di rumah sakit dibandingin kami. Bahkan, waktu untuk di rumah pun, masih juga ngurusin pasien!” Kinanti terus memprotes Surya dengan luapan rasa yang semakin tidak terarah.
“Loh, kok Honey ngomongnya gitu? Honey, kamu jadi kayak anak kecil! Kita udah hampir lima belas tahun nikah, seharusnya hal sepele seperti ini tidak lagi jadi masalah yang harus dibesarkan! Satu lagi, Honey jangan lupa, betapa mas juga mencoba memahami pekerjaan kamu di luar sana!” tukas Surya yang mulai terpancing emosi dan coba menepis rasa cemburu karena kedekatanmu bersama penulis sialan itu.
“Tapi, Kinan gak ngelupain tugas di rumah, Mas!”
“Cukup, Honey! Mas gak mau memperpanjang masalah ini!”
Surya bergeming, hening. Bukan karena tidak tahu harus berkata apa, ia hanya tidak ingin memperpanjang debat kusir yang tidak ada ujungnya. Belum lagi kecemburuannya terhadap Aksar yang masih coba ia pendam.
Surya menghela napas berat, lalu mengusap wajahnya frustrasi. Ia mengambil kunci mobil dan tas kerja yang tadi diletakkan di sofa ruang tengah.
__ADS_1
“Mas nginep di rumah sakit malem ini.” Surya berlalu dengan langkah seribu tanpa memandang Kinanti.
“Mas, kita belum selesai ngomong!”
Setengah berlari, Kinanti mengejar. Namun, yang tersisa hanya asap mobil yang dilajukan dengan kecepatan tinggi.
Tanpa disadari, kesedihan juga tergambar dari dua sosok remaja yang memperhatikan ibu mereka dari sudut pintu. Kinanti tersedu dalam pilu, sesak di dadanya kian membelenggu.
Malam ini, ia butuh seseorang, tempat ia berbagi cerita.
Setengah jam kemudian, mobil Kinanti membelah jalan, kerlap-kerlip keindahan Jembatan Ampera sedikit banyak mengobati sejenak gundah gulana di hatinya. Mobilnya berhenti di pelataran Benteng Kuto Besak. Perlahan Kinanti turun dari mobil lalu menikmati hembusan angin dari Sungai Musi yang cukup kencang.
Bayangan Aksar menari-nari di hadapannya. Kinanti tidak memungkiri bahwa Aksar terkadang hadir dalam mimpinya. Lalu Kinanti mengambil ponsel dari tas di sisi kiri kursi pengemudi. Ada nama Aksar tertera pada layar ponsel. Namun, setelah itu dihempaskannya ponsel tersebut ke dashboard mobil. Kinanti menutup kedua wajahnya frustasi. Rasa rindu kepada Aksar berkecamuk dengan rasa bersalah kepada Surya.
__ADS_1
Kinanti kembali masuk dan menyalakan mesin mobil, ia tahu kemana harus pergi malam ini.
***