
Tujuh tahun pernikahan.
...πππ...
Setelah kepergian Nadira yang sudah memberikan semua orang pelajaran ... rumah Edgar menjadi berantakan, barang-barang banyak yang pecah dimana dimana.
Ada dua kepala rumah tangga yang merasakan sakit secara bersamaan, di mana keduanya saat ini sedang terpuruk. Bahkan semalam Sandi dan Rima bertengkar hebat, di mana Sandi benar-benar muak dan jijik pada Rima karna Rima tidak mau pergi dari rumah ini.
Sedangkan Edgar dari semalam mengurung diri di dalam kamar, di mana kamar itu tidak ada cahaya sama sekali. Gelap seperti masa depannya.
Edgar memandang poto pernikahannya dengan Nadira, ia tidak menyangka jika Nadira akan membalas semua perbuatannya dengan cara mempermalukan dirinya di depan semua orang.
Ia tau dirinya sudah salah, tapi mengapa balasan Nadira begitu menyakitkan hingga ia tidak berani keluar rumah karna ia malu bertemu dengan orang-orang.
''Kenapa Nadira ... kenapa kamu membalasku dengan cara seperti ini hanya karna hal sepele.'' Ucap Edgar yang masih belum menyadari jika kesalahannya sangat fatal.
''Hal sepele kata mu?''
Edgar menoleh di mana sang adik sudah ada di belakangnya.
''Cih, dasar laki-laki kurang bersyukur! Sudah mendapatkan istri cantik dan baik, malah embat istri adik sendiri.''
''Aku tidak mau berdebat, San.''
Sandi menggertakkan giginya dengan kedua tangan mengepal, namun ia melihat Kakak nya yang memprihatinkan seperti itu membuat ia menghela nafas dengan berat.
Sandi melangkah dan duduk di atas ranjang, sedangkan Edgar duduk di bawah ranjang sambil bersender.
''Kau tau, ingin sekali aku mencaci maki mu, memukuli mu sampai hatiku lega. Tapi sialnya aku tidak bisa melakukan itu, di saat Kakak ku terpuruk seperti ini.''
''Apakah Nadira belum kembali?'' Tanya Edgar dengan tatapan kosong.
Sandi menyunggingkan bibirnya, ''Apa kau pikir Nadira akan kembali di saat dia sudah mengetahui sifat mu? jangankan Nadira, aku saja sebagai adikmu begitu jijik padamu.''
''Tapi kenapa ia melakukan ini semua? Bukankah dia jahat, aku ini suaminya.''
Sandi menghela nafas, ''Sekarang aku tanya, kenapa kamu melakukan perselingkuhan? Bukankah kau juga sama jahatnya? Nadira hanya membalas rasa sakit hatinya padamu, kau pikir seorang wanita ingin berbagi hati. Kau saja yang tolol bin bego, setiap wanita bisa menerima apapun keadaan suami ... tapi tidak dengan perselingkuhan.'' Ucap Sandi, lalu berdiri ingin meninggalkan Edgar, namun sang Kakak memegang tangannya.
''Maafkan aku.''
Sandi memejamkan kedua matanya ingin menjawab, namun di hentikan saat mereka berdua mendengar teriakan dari Rima.
''Mas ...'' Teriak Rima dari ruang tamu.
Edgar dan Sandi saling pandang, lalu berlari menghampiri Rima.
__ADS_1
''Ada apa?'' Tanya Sandi, yang sedikit terkejut melihat ada beberapa pria dengan tampilan preman yang ingin menerobos masuk kedalam rumah.
''Selamat siang Pak, kami di utus oleh bos kami untuk segera mengosongkan rumah ini.''
''Tunggu, maksud kalian apa?'' Edgar bingung.
''Apa kalian tidak tau, jika rumah yang kalian tempati sudah di jual pada bos kami?''
Rima, Sandi dan Edgar terkejut secara bersamaan.
''Ti-tidak, kalian salah paham! Ini rumah saya dan saya tidak menjualnya pada siapapun! Mana buktinya jika rumah ini sudah di jual pada Bos kalian.''
''Ini salinan sertifikat rumah beserta nota pembayaran dan ada tanda tangan hitam di atas putih, di mana Nona Rima menjualnya pada bos kami.''
JEDEEEERRR.
Edgar dan Sandi langsung melihat Rima secara bersamaan.
''Ti-Tidak mas! Demi Tuhan aku tidak tau apapaun!'' Rima menggelengkan kepalanya takut.
Edgar mengambil salinan bukti dan membacanya secara rinci, ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia baca. Di sini tertulis jika Rima benar-benar menjual rumah ini tanpa sepengetahuan semua orang.
''RIMA!'' Benatak Edgar mengeram marah, membuat Rima mundur karna takut.
''Ti-Tidak Mas, aku tidak tau apapun.''
''Rima! Kau benar-benar membuat aku kecewa!'' Sandi melempar kertas itu tepat di depan wajah Rima.
''Jadi bagaimana? Sudah jelas bukan, dan sekarang kalian boleh pegi.'' Ucap salah satu orang yang bertubuh kekar.
''Begini pak, beri kami waktu karna aku merasa tidak pernah menjualnya.''
Para pria itu saling pandang dan mengangguk, ''Baiklah, dalam tiga hari kalian harus pergi dari rumah Bos kami.''
Setelah mengatakan itu, para preman itu pergi meninggalkan tiga orang yang sedang shock, apa lagi Rima ... ia benar-benar tidak tau apapun, dan belum menjual rumah ini. Bahkan sertifikat rumahnya saja masih ia sembunyikan, lalu bagaimana ini semua bisa terjadi.
Belum sempat rasa terkejut mereka reda, kini datang sebuah mobil yang berhenti di depan teras rumah, yang mana turun wanita paruh baya dan pria yang sudah berumur yang tidak lain adalah kedua orangtua Rima.
''Asalamualaikum ...'' sapa mereka dengan ramah, seakan mereka tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.
''I-Ibu ... Bapak.'' Rima terkejut melihat kedua Orangtuanya datang, memakai mobil dan perhiasan serta baju yang bagus.
Sandi dan Edgar pun terheran melihatnya.
''Uhh ... anakku, mantu kebanggaan Ibu apa kabar nak? Yallo yallo yallo ... Ibu kesini mau berterima kasih berkat pertolongan mu, hutang Ibu sama bapak semuanya lunas!'' Ucapnya yang mana membuat Sandi mengerutkan keningnya.
__ADS_1
''Maksud Ibu apa?''
''Ihh, mantuku iki pura pura ndak tau he he he ... Tempo hari Rima mengabari jika dia akan mengirimkan uang untuk melunasi hutang kita, dan alhamdulillah tadi Bapak sama Ibu sudah lunasi semua hutang kami. Yaaa, ada sedikit sisa yo Ibu belikan sama perhiasan dan mobil bekas untuk jalan jalan.''
Tidak ada yang tidak terkejut, bahkan Rima sekalipun yang mendengarnya ingin pingsan di tempat.
''Rima mengirim uang?'' Tanya Edgar.
Ibunya Rima mengangguk bodoh dan mengatakan jika Rima mengirim uang sekitar lima ratus juta.
Edgar mengepalkan tanganya dan menatap Rima dengan tatapan membunuh! ''Jadi kau benar-benar menjual rumah ini, HAH!''
''Astagfirullah, nggak Mas.''
PLAK!
Sandi menampar Rima.
''Dasar istri durhaka! Kamu tega menjual rumah ini demi melunasi hutang keluarga mu. Wanita macam apa yang aku nikahi Tuhan ... dia benar-benar monster.''
Rima menangis dan berlutut, ia tetap membela dirinya sendiri jika dia tidak merasa menjual rumah ini. Ia juga tidak tau mengapa semua bisa terjadi.
Sandi yang sudah geram langsung menyeret Rima keluar bersama kedua Orangtuanya.
''Tidak Mas, jangan ... aku mohon.''
''Pergilah dari hadapanku! Karna mulai hari ini kau bukan lagi istriku! Aku menalak tiga dirimu.''
BLAAM!
Sandi menutup pintu rumah dengan kencang, sedangkan Rima langsung berdiri dan menggedor kaca memanggil Nama suaminya.
''Mas, Mas Sandi ... buka pintunya Mas! Aku tidak salah, aku tidak tau apapun Mas.''
Sekuat tenaga Rima memohon untuk masuk, namun Sandi tidak membuka'kan pintu. Membuat Rima menangis hingga menjadi tontonan para tetangga..
Sedangkan di sudut lain ... Nadira menyunggingkan bibirnya dengan bahagia, lalu ia memberikan amplop pada preman bayarannya.
''Kerja bagus.''
''Wiihh ... terima kasih Bos, senang bekerja sama dengan mu.''
β’
...πππ...
__ADS_1
...LIKE.KOMEN.VOTE...