Tujuh Tahun Pernikahan

Tujuh Tahun Pernikahan
Bab 53 : Yang sakit sebelah mana?


__ADS_3

Tujuh tahun pernikahan.


...πŸ€πŸ€πŸ€...


Satu minggu kemudian...


Sudah satu minggu pasca oprasi, akhirnya Rama sudah di perboleh pulang untuk pulang. Yang mana Rama di bawa ke rumah Oma Lily, bukan ke rumah Rama.


Sedangkan Susan merasa sedikit tidak kerasan sejak ia tinggal di rumah Oma Lily. Bukan karena rumah itu nyaman. Justru, kamar tamu yang saat ini dia tempati cukup besar dan tidak kalah nyaman dengan kamar hotel. Tapi, yang menyebabkan Susan tidak kerasan adalah karena ia merasa Nadira dan juga oma Lily kurang menyukai kehadirannya di rumah itu.


Tapi ia harus tetap bertahan demi masa depannya.


"Masih betah, di sini?" tanya Nadira sinis, kini mereka tidak sengaja papasan di dekat kolam renang.


"Maksudmu berkata seperti itu apa, ya?" tanya Susan.


"Kau sudah harus tau lah kenapa aku bertanya seperti itu. Aku tidak menyukai keberadaanmu di sini. Terlebih jika kau berada di dekat Rama."


"Aku ada di sini karena mertuaku sendiri yang meminta aku datang."


"Hah ... Mertua? Jangan mimpi!"


Nadira dengan kesal langsung menabrak bahu Susan hingga gadis itu hilang keseimbangan dan terjatuh ke kolam renang. Melihat hal itu Nadira hanya tertawa kecil sambil mengacungkan jari tengahnya ke arah Susan lalu pergi.


''Menjadi jahat untuk kebenaran tidak apa apa.'' Gumam Nadira.


"Sayang, siapa yang berenang pagi-pagi?" tanya Oma Lily.


"Tau tu, ada bayi tua kepeleset jatoh ke kolam renang," jawab Nadira menahan tawa.


"Kamu dorong Susan ke kolam?"

__ADS_1


"Dia jatuh sendiri kok, Oma. Bukan aku yang dorong." Enak Nadira.


"Sabar, nggak ada yang setuju kok, kalau Rama kembali dengan Susan. Oma tidak menyangka sama sekali dia bisa seperti itu, untung saja Rama sudah bercerai dengannya."


"Baiklah Oma, Nadira ke kamar dulu," kata Nadira yang ingin melihat keadaan Rama.


Sementara itu, dengan hati kesal, Susan keluar dari kolam renang dan bergegas masuk ke dalam rumah. Namun, baru saja ia hendak melangkah masuk, Oma Lily terdengar menjerit, "Tunggu, jangan masuk dulu, nanti lantai becek semua. Bibik akan ambilkan handukmu!" seru Oma Lily.


Dan tak lama kemudian pun seorang asisten rumah tangga datang membawa handuk untuk Susan.


"Pakaian basahnya dibuka saja, non. Non pakai dalaman, kan?"


Susan mengangguk dan melepaskan bajunya yang basah hingga hanya mengenakan dalaman, kemudian ia membungkus tubuhnya dengan handuk dan langsung melangkah ke dalam dan masuk ke kamarnya dengan wajah cemberut.


β€’


...β€’...


^^^


Di kamar.


''Bagaimana?''


''Pria ini sudah ada bersama kita, Bos. Tapi pria ini tidak mengatakan apapun.''


''Sialan! Aku tidak mau tau. Pokonya dia harus mengatakan semuanya. Lakukan apapun agar dia bicara.''


''Baik, Bos. Tapi akan lebih mudah jika wanita itu berbicara dengan sendirinya.''


''Maksudmu?''

__ADS_1


Bawahan Rama membisikkan sesuatu pada Rama yang langsung di setuju oleh Rama. ''Lakukan apapun dengan cepat.''


Bawahan Rama pergi, dan tidak sengaja menubruk Nadira yang akan masuk ke kamar.


''Eh, maaf Pak.''


''Tidak apa-apa, Nona.''


Nadira melihat kepergian orang itu, lalu melihat pada Rama yang pura-pura tidak melihatnya sambil bersiul.


Nadira memincingkan kedua matanya lalu menghampiri Rama. ''Jadi ... ada sesuatu yang aku tidak tau?''


''A-a-aaadooyyy kakiku sakit, Dira ...''


''Yang mana yang sakit?''


''Ini ... boleh di pijat nggak?''


Nadira mengerutkan keningnya. ''Yang sakit kakimu, tapi kenapa yang kau tunjuk adek mu?''


''Eh, masa?''


Nadira memutar kedua matanya. ''Sebenarnya kamu itu ingat aku apa nggak sih? Tapi kok yang aku rasain kamu nggak hilang ingatan. Masih tetap sama ... Mesum!''


Rama tidak menjawab namun ia hanya terkekeh.


β€’


...πŸ€πŸ€πŸ€...


...LIKE.KOMEN.VOTE...

__ADS_1


__ADS_2