Tujuh Tahun Pernikahan

Tujuh Tahun Pernikahan
Bab 43 : Rencana si Mantan.


__ADS_3

Tujuh tahun pernikahan.


...🍀🍀🍀...


''Jadi, Susan mendatangimu saat kamu di sekolah Ruby?'' Tanya Rama yang langsung di angguki oleh Nadira.


Rama terlihat kesal. ''Jangan sampai wanita itu bertemu dengan Ruby, aku tidak mau Ruby nanti diracuni pikirannya oleh mamanya sendiri,” lanjut Rama kepada Nadira.


Saat ini Nadira memang sedang berada di kantor Rama. Setelah menjemput Ruby ... Nadira langsung ke kantor Rama dan melaporkan soal pertemuannya yang tidak sengaja dengan Susan. Karna Nadira tidak mau terjadi kesalah pahaman antara Rama dan Susan.


''Nadira ...'' Rama memegang kedua tangan Nadira.


''Hm?''


“Aku tidak pernah berniat untuk menikahi Susan kembali, Nadira. Aku hanya mau kamu yang menjadi istriku dan Ibu sambung untuk Ruby,” kata Rama menegaskan.


Nadira menghela napas panjang, “Aku ...”


“Tolong buatkan aku kopi, bisa?” Rama mengalihkan pembicaraan, karna dia tau apa yang akan Nadira katakan.


Nadira mengangguk dan langsung keluar dari ruangan Rama, namun ia tidak sengaja menubruk seseorang.


Dhug!


''Eh, Maaf.''


''It's ok.''


Nadira sedikit membungkuk dan langsung menuju ke pantry membuatkan kopi untuk Rama. Namun di sela Nadira membuat kopi, ia ingat dengan kejadian barusan di nana ia sempat bertubrukan dengan seorang lelaki bertubuh tinggi dan ada bekas luka di wajahnya.


''Dia siapa yaa? Ganteng sih, tapi kok bisa ada bekas luka di wajahnya yang ganteng.'' Cicit Nadira yabg berpikir dia adalah salah satu karyawan di kantor Rama. Jadi, Nadira meneruskan langkahnya membawakan kopi ke ruangan Rama.


''Ini kopinya.''


''Terima kasih istriku.'' Rama tersenyum menggoda, sedangkan Nadira memutar kedua matanya ke atas.


''Idih ...''


Tiba-tiba saja telepon Rama berbunyi, dan ia tampak sangat serius.


''Ada apa?''


“Ada meeting yang harus aku hadiri. Kamu bisa pulang sendiri bersama Ruby.''


“Iya, nggak apa-apa ... masih ada pak supir yang nunggu di bawah kok.''


“Ya sudah kalau begitu. Kamu bawa saja mobil yang baru. Biar aku bawa mobil yang lama,” kata Rama memberikan kunci mobil pada Nadira.


“Tapi, Pak-“


“Sudah nggak apa-apa, aku pegi yaa ... Ruby sayang, Papah pergi meeting dulu ok.''


Ruby mengangguk. ''Baik, Papa.''


Rama pun pergi dari ruangannya, membuat Nadira menghela nafasnya. Entah mengapa saat melihat Rama yang berlalu keluar dari pintu ruangan ... Nadira merasakan firasat yang kurang baik. Namun, ia berusaha menepiskan semua perasaan itu.


''Ruby ... sayang, ayo kita pulang.''

__ADS_1


''Bentar dulu ya Tante, ini beresin ini dulu.''


•


...•...


^^^•^^^


Sementara itu, Rama yang mengemudikan mobil Nadira merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan mesin mobilnya.


"Ck. Padahal beberapa hari yang lalu baru saja di bawa servis bulanan juga, kenapa rasanya ada yang aneh ya," gumam Rama yang Memasuki jalan tol, Rama pun menginjak pedal gas. Namun, di perjalanan kecepatan mobil tiba-tiba menjadi tidak terkontrol, Rama menjadi sedikit panik dan berusaha menepi unruk menginjak rem, tapi sia-sia ... ia merasa jika remnya blong.


''Astagfirullah! Ada apa dengan mobil ini.'' Rama merasa panik membuat, hingga ia jadi kurang fokus untuk memperhatikan jalan, dan...


BRUUAAKK!


Kecelakaan pun tak bisa dihindari, mobil yang dikendarai Rama keluar dari jalur dan bertabrakan dengan sebuah bus hingga mobil itu terbalik dan berguling.


"Ruby ... Nadira! " lirih Rama sebelum akhirnya tak sadarkan diri.


•


•


•


Sementara Nadira baru saja sampai di rumah.


''Asalamualaikum ...''


''Walaikum salam.'' Jawab Ana menyambut Nadira dan Ruby.


“Nggak, tadi Pak Rama ada keperluan dulu, jadi aku pulang duluan,” kata Nadira, yang duduk di sofa.


"Mbak Nadira! Mbak ...'' Teriak Mira, yang membuat Nadira dan Ana lansung menoleh.


''Ada apa?''


''It-itu ... itu Mbak.''


''Itu itu apa kamu tuh Mir!''


''Ada polisi di depan!" teriak Mira panik.


Nadira langsung berdiri dan bergegas menghadiri para polisi yang ada di depan. Di susul oleh Anak dan Mira yang kepo.


''Ada apa, Pak?''


"Selamat siang, Bu. Apakah benar ini rumah saudara Rama?" tanya salah satu polisi.


"Benar, Pak. Saya Nadira asisten pak Rama, ada apa ya, Pak?"


"Apa Pak Rama belum pulang?"


"Belum. Kami sedang menunggunya, Pak. Memang ada apa ya, Pak?"


"Pak Rama mengalami kecelakaan dan sekarang ada di rumah sakit."

__ADS_1


''APA!'' Teriak Nadira terkejut. Seketika itu juga Nadira merasakan dunianya berputar dan ia pun terjatuh dan tidak mengingat apa-apa lagi.


Saat membuka mata, Nadira melihat Ana duduk di pinggir ranjang.


"Mbak udah sadar? Mbak Mir!" teriak Ana nyaring.


•


...•...


^^^•^^^


Di sisi lain...


"Mobilnya terbalik, dia saat ini mungkin sedang berada di rumah sakit." Susan menatap Jack dan langsung memeluk lelaki kekar itu dengan gembira.


"Ini sisa uang pembayaranmu. Tapi, apakah kau tidak ingin bermain dengan tubuhku sebentar? Kau pasti lelah dan ingin sedikit bersenang- senang. Kebetulan hari ini aku sudah selesai. Dan, aku pulang cepat karena ingin beristirahat. Siapa sangka kau ada di apartemenku."


Susan mengedipkan matanya dengan genit dan gerakan yang menggoda. Dan, tak lama kemudian terjadilah hal yang tidak-tidak. Seperti kucing yang melihat ikan, begitu juga Jack melihat Susan yang dengan sengaja menantang bahkan memberikan kepuasan. Dan sepanjang siang sampai malam itu keduanya bermain- main hingga keduanya merasakan puas.


Sementara itu Ana dan Nadira sedang bersama di rumah sakit. Di depan kamar operasi. Tidak ada satupun yang bersuara, semua hanyut dalam lamunan masing-masing.


"Apa Ibu Pak Rama sudah dihubungi?" tanya Nadira memecahkan kesunyian.


"Astagfirullah, untung mbak mengingatkan, saya belum sempat menelepon Oma Lili," kata Ana. Ia pun segera menelepon iparnya di Singapura untuk mengabarkan kondisi Rama.


"Polisi sedang menyelidiki penyebab kecelakaannya, Oma," kata Ana kepada Oma Lily melalui telepon. Tak lama kemudian seorang dokter tampak keluar dari ruangan operasi.


"Keluarganya saudara Rama?"


"Iya, saya asistennya," kata Ana.


"Operasinya berjalan dengan lancar. Tapi, kita harus menunggu sampai pasien bisa melewati masa kritisnya."


"Terima kasih banyak, Dokter."


Nadira dan Ana pun bisa bernafas dengan lega karena operasi Rama berhasil dengan lancar.


“Sebenarnya apa yang terjadi kata polisi, Ana?” tanya Nadira saat mereka sudah berada di kamar perawatan Rama.


"Polisi memberitahuku tadi saat Mbak tidak sadarkan diri. Ada yang menyabotase mobil yang di bawa oleh Pak Rama. Polisi bilang mobil pak Rama mengalami understeer. Mbak tau kan jika keadaan understeer dianggap sebagai keadaan mobil yang sangat berbahaya. Ketika melaju dengan kecepatan tinggi, mobil yang mengalami understeer akan begitu sulit dikendalikan bahkan mampu menyebabkan kecelakaan. Selain itu, rem mobil pak Rama juga disabotase. Kemungkinan, ketika understeer pak Rama sedikit panik dan dia malah menginjak gas, sehingga kecepatan bertambah dan tidak bisa lagi dikendalikan lagi."


"Seharusnya aku yang celaka, karena tadi Mas Rama menukarkan mobilnya denganku. Seandainya saja tadi aku menolak, ini semua salahku," kata Nadira.


Ana menggelengkan kepalanya, “Bukan salahmu. Tidak ada yang tau jika ada yang menyabotase mobil itu. Aku akan meminta orang kepercayaan Pak Rama untuk mencari tahu.”


“Apa ini ada hubungannya dengan bu Susan?” tanya Nadira.


Ana mengerutkan dahinya, “Susan? Mantan istri pak Rama?”


“Ya, tadi dia menemuiku saat aku di sekolah,” kata Nadira.


Ia pun menceritakan semua kejadian kepada Ana.


“Ah, semua masuk akal, bisa jadi dia yang menyuruh orang mencelakai dirimu. Tetapi, ternyata kalian bertukar mobil sehingga pak Rama yang celaka,” kata Ana.


•

__ADS_1


...🍀🍀🍀...


...LIKE.KOMEN.VOTE...


__ADS_2