
Tujuh tahun pernikahan.
...πππ...
Susan yang merasa patah hati duduk di sudut sebuah tempat hiburan. Suara musik yang berdentum keras, menemani kegalauan hatinya.
Ia tidak menyangka jika Rama sudah memiliki perempuan idaman, bahkan perempuan itu sudah tinggal di rumah Rama.
''Sialan! Sia-sia aku kembali ke Indonesia jika Ayah dari anakku sudah memiliki pasangan.'' dumel Susan, lalu meneguk bir yang baru saja di sajikan.
"Susan?" Panggil seseorang dari arah belakang.
Susan menoleh dan terkejut melihat teman lamanya. "Iya, ka-- Jack?"
"Kau masih ingat aku? Ha ha ha ... luar biasa. Apa yang membuat mu berada di sini?''
''Aku sedang kesal, galau dan putus asa.'' Jawab Susan.
''Memangnya kenapa? Apa yang bisa saya bantu?" tawar Jack.
Susan melihat kanan kiri lalu menunjuk kursi di hadapannya. "Ayo kita duduk."
Pria yang di panggil Jack itu duduk sambil menatap Susan. Ia tau bahwa Susan adalah seorang model majalah sampul yang saat ini sedang naik daun. Susan baru saja menyandang status janda, tapi statusnya itu tidak masalah karena Susan memiliki wajah yang cukup cantik dan dengan mudah ia bisa menjadi model sampul majalah dewasa dan bintang iklan.
Susan Juga menerima endorse dari produk-produk kecantikan bermerk, setidaknya dari sana Susan bisa bertahan hidup setelah bercerai ... karena notabennya Susan tidak pernah merasakan hidup susah dan tidak mau hidup susah.
"Ada apa? siapa tau aku visa bantu kesusahanmu, tapi aku yakin ini bukan persoalan uang.''
"Yap, memang betul. Bukan uang masalahku, tapi ini...
Susan mengeluarkan ponselnya, dan memperlihatkan foto seseorang pada Jack.
__ADS_1
"Aku tidak suka pada wanita ini. Dia sudah merebut segalanya dariku! Pertama-tama tolong buat gadis ini celaka. Kalau bisa mati sekalian, aku tidak perduli!"
Jack terdiam memandang layar ponsel Susan.
"Aku bisa saja membantu mu, tapi bayarannya nggak sedikit. Kamu pasti nggak mau kan kalau namamu ikut terbawa jika polisi sampai mencium siapa pelakunya?''
"Maksudmu?"
Jack tersenyum menyeringai.
"Kamu perempuan pintar kan? Apa yang akan saya lakukan ini bertentangan dengan hukum. Jika keluarga korban sampai melapor pada polisi, kemudian diselidiki aku pasti akan dicari. Jika aku sampai tertangkap maka ada dua hal yang akan terjadi. Yang pertama aku diam dan mengatakan bahwa aku berniat merampok korban atau yang kedua aku akan mengatakan bahwa aku dibayar oleh seseorang, yaitu dirimu."
"Aku akan membayarmu, tapi jangan sampai aku terbawa dalam hal ini. Percuma aku membayarmu jika namaku masih terseret, aku ini seorang model! Dan aku tidak mau karirku sampai hancur! Wanita ini sudah merebut mantan suami pertamaku, aku tidak mau jika anakku memiliki ibu tiri. Aku mau kembali kepada mantan suamiku itu."
"Kalau begitu kau harus menyiapkan bayaran yang sesuai. Dan juga bayaran itu harus uang cas. Supaya tidak ada jejak sama sekali."
"Berapa? Katakan saja, aku akan membayarmu!" kata Susan.
''Apa!''
Susan tersentak kaget, ia melotot ke arah Jack. Kalau pun ia harus membayar seratus juta ... baginya tidak masalah. Tapi, tiga hari melayani di hotel? Susan menatap Jack, mengamati lelaki itu dari atas sampai bawah. Jack memang tidak jelek, bahkan tubuhnya cukup berisi dan wajahnya manis. Hanya sayang ada luka memanjang dari pelipis kiri sampai pipi kanannya, mungkin itu bekas perkelahian.
"Tiga hari?" tanya Susan sekali lagi.
"Iya, tiga hari. Selama tiga hari tiga malam kau harus berada di kamar hotel bersamaku. Bahkan untuk makan pun kau harus di kamar memesan dari room service. Juga aku tidak mau kamar hotel yang biasa. Harus hotel bintang lima."
Susan menelan salivanya, namun wanita itu akhirnya mengangguk.
"Baik, aku bersedia. Yang penting kau harus bisa melenyapkan wanita gatal itu."
"Aku akan melakukan tugasku setelah kau melayaniku. Setelah itu kau transfer 50 persen di muka dan sisanya setelah aku berhasil. Jika sampai meleset, kau tidak perlu membayar sisanya."
__ADS_1
"Tapi..."
"Ya atau tidak. Kalau ya, sekarang juga kita ke hotel."
"Baiklah, kita berangkat sekarang."
Jack menyeringai puas. Kapan lagi ia mendapat durian runtuh bisa menikmati tubuh fotomodel yang cantik dan mulus seperti Susan. Mereka pun berjalan menuju keluar.
"Aku membawa mobil sendiri. Kau mengemudi di depan dan langsung cek in kamar hotel. Setelah itu kau bisa meneleponku dan menyebutkan nomor kamar."
Susan mengangguk dan langsung masuk ke dalam mobilnya sendiri. Untung saja ia membawa beberapa pakaian ganti di dalam mobilnya untuk keperluan foto sehingga ia tidak perlu pulang ke apartemennya dan membawa pakaian ganti.
Jika tidak mengingat dendam kesumatnya, ia rela melakukan apa saja. Susan segera mengemudikan mobilnya ke sebuah hotel berbintang lima di kawasan Gajah Mada. Tak tanggung Susan mengambil suite room. Ia pun segera masuk ke kamar dan langsung menelepon Jack dan memberitahu nomor kamarnya.
Dengan sedikit berdebar, Susan menunggu hingga akhirnya bel di pintu kamarnya berbunyi.
Susan membuka kamar dan Jack langsung masuk.
"Wah, kau rupanya memilih kamar yang terbaik untuk melayaniku, perempuan pintar."
"Asal kau bisa menyelesaikan tugas dengan baik setelah ini."
Jack menyeringai dan langsung membawa Susan ke atas ranjang dan tanpa menunggu lama dia pun langsung menikmati tubuh Susan.
Susan yang memang pada dasarnya sedikit murahan tak keberatan untuk memuaskan Jack. Toh, ia juga sudah lama tidak pernah mendapatkan kehangatan dari lelaki jadi lebih baik dinikmati saja, bukan?
β’
...πππ...
...LIKE.KOMEN.VOTE ...
__ADS_1