
Tujuh tahun pernikahan.
...πππ...
Alam bawah sadar Rama...
Rama menatap sekelilingnya dengan kening mengkerut dan merasa heran ... Tempat ini begitu indah dengan air terjun yang airnya jernih. Pepohonan yang rindang dan bunga-bunga yang bermekaran dengan begitu indahnya. Di dekat air terjun ada tangga yang terbuat dari awan tampak menjulang tinggi ke atas.
''Aku di mana?''
''Kau belum waktunya di sini?" Ucap seseorang dari arah belakang, membuat Rama langsung menoleh.
βPapa!β seru Rama tidak percaya dan berlari memeluk sang ayah dengan penuh kerinduan.
''Hai Son, apa kabarmu hm ...''
''Aku baik-baik saja Pah, bagaimana keadaan Papah? aku tidak percaya bisa bertemu denganmu, Pah.''
Ayah Rama tersenyum dan mengusap pundak Rama. ''Kau tumbuh besar, Nak. Papa bangga padamu.''
Rama tersenyum. ''Oh iya Pah, ini kita dimana?'' Tanya Rama melihat sekeliling.
"Ini adalah tempat peristirahatan, kau bisa langsung naik ke atas atau turun kembali melalui pintu tempat kau masuk tadi. Kau bisa memilihnya.β
"Apa aku sudah meninggal dunia, Pa?"
__ADS_1
Sang Ayah terkekeh. βBelum, Nak. Tapi, pilihan sekarang ada di tanganmu. Apa kau mau ke atas atau kembali untuk memperjuangkan cinta dan juga menjaga cucuku.β
"Lalu, kenapa Papa tidak naik ke atas? Kenapa masih berada di sini?" tanya Rama.
"Karena Papa masih menunggu kedatangan seseorang di sini. Kelak, jika waktunya tiba aku akan naik bersama-sama dengannya. Dan, mungkin juga tidak lama lagi, entahlah. Yang jelas aku akan menunggu kedatangannya di sini."
"Siapa?"
"Mamamu tentunya, ha ha ha ... memang kau pikir papa menunggu siapa?"
Rama ikut tertawa. Papanya ini memang sangat bucin kepada mamanya.
βAku merasa banyak sekali kepahitan dalam hidupku, Pa. Kisah cintaku ga semulus papa dan mama.β Ucap Rama menghela napasnya.
βTapi, Papa rasa kamu sudah menemukan cintamu yang sejati. Lalu apa kau mau menyia-nyiakannya? Kau tega meninggalkan Ruby dengan ibu kandungnya? Atau menitipkan kepada mamamu? Sana, pulang. Tempatmu bukan di sini.''
Ayah Rama melangkah dan memanggil anaknya untuk melihat sesuatu. "Kau lihat ke dalam kolam ikan ini.β
Rama melihat ke dalam kolam ikan yang ditunjukkan oleh ayahnya. Dan ia bisa melihat dengan jelas tubuhnya yang terbaring dengan bantuan alat pernapasan dan alat bantu lainnya. Ia juga melihat Nadira dengan jelas.
"Rama, kalau kau bangun aku janji akan mempertimbangkan keinginanmu untuk menjadi suamiku. Tapi, kau harus bangun dulu. Bagaimana mungkin kita bisa menjadi kekasih jika kau tidur seperti bayi besar begini. Aku janji akan menjadi istri yang baik dan ibu yang baik untuk Ruby. Ayo bangunlah dulu."
Rama tertawa kecil mendengar perkataan Nadira. Jantungnya langsung berdetak saat Nadira mengatakan itu semua.
"Pulanglah, kasian wanita itu. Dan kau juga masih harus menyelesaikan satu masalah sebelum kau bersatu dengannya. Itu pun kalau kau berani.β
__ADS_1
Rama tampak mengerutkan dahinya. Ucapan sang ayah menjadi seperti sebuah petunjuk untuknya.
"Apakah aku harus ke atas, Pa?"
"Mungkin."
"Jika aku kembali apa ada yang terjadi?"
"Banyak air mata dan pengorbanan jika kau memutuskan untuk kembali. Tapi, Papa yakin kau akan dapat melewati itu semua. Kau anak yang baik dan kau juga memiliki orang-orang yang begitu mencintaimu dengan sepenuh hati, termasuk mamamu."
Rama merasa galau dan bimbang. Di satu sisi rasanya ia ingin naik dan memulai hidup di tempat yang abadi. Tapi, di satu sisi ia ingin kembali dan menemani Nadira. Tapi, apakah ia bisa jika ia hanya akan membuat Nadira nantinya menangis?
"Pilihan ada di tanganmu," kata papanya dengan lembut.
"Pa, apa jika aku melanjutkan ke atas, Nadira dan Ruby akan baik-baik saja?"
"Jika kau ditinggalkan oleh orang yang kau cintai apakah kau akan baik-baik saja?"
Rama menggelengkan kepalanya, "Aku memilih untuk kembali, Pa."
"Ingat, Rama. Setiap pilihan ada konsekuensinya. Tapi, percayalah bahwa cinta tidak akan pernah salah."
Rama menganggukkan kepalanya. Kemudian ia membalikkan tubuhnya dan melangkah kembali ke pintu di mana ia tadi masuk.
β’
__ADS_1
...πππ...
...LIKE.KOMEN.VOTE ...