
Tujuh tahun pernikahan.
...πππ...
Pada akhirnya selain mengajak Nadira, Rama pun mengajak juga pelayan Ana supaya jika nanti Nadira lelah bisa bergantian bersama Nadira menjaga Ruby.
Nadira, Ana dan Ruby menginap dalam satu kamar. Rama memesan kamar yang paling besar untuk mereka. Rama memang ingin menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Nadira, agar Nadira bisa mempercayainya.
Setelah makan siang bersama, Nadira dan Ana pun kembali ke kamar mereka. Sementara Ruby tanpa diminta menempel manja kepada Nadira.
Tiba-tiba terdengar pintu kamar mereka diketuk perlahan. Nadira yang kebetulan sedang berdiri di dekat pintu langsung membuka tanpa mengintip dulu siapa yang mengetuk. Dan saat melihat siapa yang ada di balik pintu, Nadira langsung merengut. Namun, ia mengerutkan dahi saat Rama menatapnya penuh minat, bahkan kedua tanduk giob Rama sudah terlihat.
''Ada apa dengan mu? Kenapa menatapku seperti itu.'' Nadira merasa heran.
''Kau sedang menggodaku yaa, Hmm.''
''Idih ... geer sekali. Siapa yang menggodamu?''Nadira melipatkan kedua tanganya di dada.
''Itu ... pakaian mu sangat seksi.'' Rama mengedipkan salah satu matanya dengan nakal.
"Pakaianku ke... Astaga...!"
Braak..
__ADS_1
Nadira langsung menutup pintu setengah membantingnya. Ia yakin saat ini wajahnya pasti merah karena malu. Bagaimana tidak, Nadira hanya memakai hot pants. Dan, ia lupa bahwa tank top yang ia kenakan amat tipis, sehingga memperlihatkan keindahan aset kembar miliknya yang sedang tidak mengenakan pakaian dalam.
"Aduuuh, Ana...!!" pekiknya panik.
Ana hanya menatap Nadira speechless, ia ingin tertawa sebenarnya. Tapi, melihat wajah Nadira yang sudah memerah karena malu, ia merasa iba juga.
"Ya, Mbak juga sih ceroboh. Nggak pakai dalaman segala. Mana tipis lagi."
"Aku lupa, aduuh dia pasti sudah melihatnya. Aku harus bagaimana ini?"
"Ya sudah, ganti dulu pakaianmu, Mbak. Lalu, kau bersikap angkuh seperti biasa," cicit Ana menahan tawa.
Ana dan semua pelayan sudah tau jika majikannya menyukai Nadira, dan semua pelayan di rumah Rama mendukungnya karna Nadira baik hati.
Nadira merengut kesal, ia pun mencubit hidung Ana. "Nakal ya, kau ini. Aku tau kau sedang menahan tawamu ya, Ana," sahut Nadira kesal. Dan tawa Ana pun meledak seketika. Sementara Ruby yang memang sudah mengantuk tidur di ranjangnya sambil memeluk boneka.
"Kau mau tetap berdiri seperti itu atau bagaimana?!" hardik Nadira kesal. Rama pun segera berbalik dan langsung tersenyum saat melihat pakaian Nadira sudah rapi.
"Nah, begitu dong. Kalau kau mau menggodaku dengan pakaian seperti tadi, nanti saja saat malam pertama kita, Nadira sayang," kata Rama sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.
"Ish, siapa juga yang mau menikah denganmu?"
"Tentu saja dirimu. Kau pikir, sekarang ini aku sedang apa? Aku sedang berusaha untuk menjadikanmu Ibu dari anakku."
__ADS_1
"Ish, jangan mimpi!"
"Mau bertaruh?"
"Ah, sudahlah. Berdebat denganmu membuat kepalaku sakit. Kau mau apa?"
Rama tersenyum dan langsung menarik tangan Nadira.
"Jangan galak-galak, sayang. Aku hanya ingin mengajakmu ke suatu tempat. Ana, aku pinjam Nadira dulu. Kau jaga Ruby dulu," kata Rama sambil menutup pintu kamar Nadira dengan satu tangannya ... sementara tangannya yang lain merangkul bahu Nadira dengan lembut.
"Kau ini menyebalkan sekali, lepaskan tanganmu dari bahuku!"
"Ya sudah, kau tidak mau dirangkul. Aku gendong atau aku gandeng?"
Nadira melotot, Rama tertawa kecil dan langsung menurunkan tangannya dari bahu Nadira, kemudian menggandeng gadis itu.
Di lobby hotel, ternyata sudah ada mobil yang menunggu mereka. Rama pun langsung membukakan pintu untuk Nadira masuk.
"Kau mau membawaku ke mana?" tanya Nadira.
"Tenang saja, aku bukan orang jahat yang akan menculik dan membuatmu menderita. Aku hanya ingin mengajakmu ke suatu tempat yang indah."
β’
__ADS_1
...πππ...
...LIKE.KOMEN.VOTE ...