
Tujuh tahun pernikahan.
...๐๐๐...
Ke esokan pagi...
Nadira menatap tubuh yang tampak tak berdaya di hadapannya. Rama berbaring dengan bantuan alat yang dipasang ditubuhnya. Semua itu membuat Nadira merasa sedih.
''Seharusnya, aku yang berada di situ, berbaring dengan semua alat-alat itu,'' gumam Nadira dalam hati, lalu teringat tentang pembicaraan dirinya dan Ana sebelum ia datang ke rumah sakit.
'Mbak, pak Rama itu adalah bosku yang paling baik. Apa lagi Oma Lili baik banget sama aku. Jujur aku merasa sedih melihat kondisi pak Rama sekarang ... Tadi, aku baru saja ke rumah sakit menjenguk pak Rama. Dokter bilang, kalau sampai 72 jam pak Rama tidak juga terbangun. Pak Rama bisa koma, dan kita tidak tau kapan dia bisa kembali bangun.''
Nadira yang mendengarnya merasa bersalah.
''Hanya Mbak yang bisa membuat pak Rama sadar. sekarang Mbak mending jenguk pak Rama gantian. Mungkin jika dia mendengar suaramu dia bisa sadar. Aku tau mungkin mbak masih ragu dengan cintanya. Tetapi, dia sangat tulus kepadamu, Mbak" kata Ana.
Nadira menatap Ana, untuk pertama kalinya Nadira melihat Ana begitu sedih. Sorot matanya menggambarkan kedukaan yang begitu dalam. Nadira tau jika selama ini Ana adalah orang yang paling dipercaya oleh Rama. Dan saat ini ia sendiri merasa sangat sedih karena kondisi Rama.
Itulah obrolan Nadira dan Ana sebelum Nadira ke rumah sakit, apa benar dia bisa membuat Rama sadar? Iya tidak terlalu oercaya akan hal itu, tapi Nadira berdo'a supaya Rama cepat sadar dan berkumpul bersama lagi.
''Nadira ...'' Panggil seseorang.
Nadira menoleh ke belakang di mana seorang wanita separuh baya yang tampak tersenyum ramah kepadanya.
''Iya.''
__ADS_1
Wanita paruh baya itu tersenyum dan menghampiri Nadira. ''Saya Oma Lili.''
Nadira sedikit terkejut lalu memperkenalkan dirinya. "Sa-saya Nadira, Nyonya," kata Nadira sambil membungkuk hormat pada wanita itu.
"Terima kasih mau menjenguk Rama Dan juga menjaga Ruby," kata Oma Lili dengan tulus.
"Sama-sama, Nyonya. Itu sudah tanggung jawab saya sebagai bawahan Pak Rama.''
Oma Lili tersenyum. โJangan panggil saya Nyonya, Nadira. Rama sudah banyak bercerita tentang dirimu. Jadi, panggil saja saya Mama seperti Rama,โ kata Oma Lily.
โRama sudah mengatakan jika kamu adalah wanita yang sangat baik dan sangat cocok menjadi ibu sambung untuk Ruby. Dan saya setuju.โ
Nadira menatap Oma Lily tak percaya.
โNyo โ Ma ... saya ini bukan wanita yang sempurna. Saya juga hanya seorang janda. Apa mama bisa menerima saya dengan segala kekurangan saya?โ kata Nadira.
Oma Lily mengelus pipi Nadira dengan lembut. โJika anak dan cucuku bisa menerima dirimu, kenapa aku tidak? Lagipula jika kau tidak bisa memberi keturunan, bukankah sudah ada Ruby?โ
__ADS_1
Nadira merasa bingung dari mana Oma Lili tau jika dia tidak bisa mengandung. ''Nyonya saya ...''
Oma Lili memegang tangan Nadira. โSaya mohon, Nadira. Siapa tau jika Rama mendengar kamu mau menerima lamarannya dia akan sadar,โ kata Oma Lily.
Nadira menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
Oma Lily menyentuh bahunya dengan lembut. โDia menunggumu,โ kata Oma Lily.
Nadira pun mendekat ke ranjang tempat Rama berbaring, ia bingung harus berbicara apa. Hingga Oma Lili pergi meninggalkan Nadira dan menunggunya di luar ruangan.
"Hei ... Pria mesum dan menyebelin, sampai kapan kau mau tidur terus seperti ini? Ayo bangun, kau bilang akan mengejar cintaku dan menemaniku dan membesarkan Ruby bersama? Kalau kau tidak mau bangun ... aku akan menikah saja dengan lelaki lain," ujar Nadira sambil memegang tangan Rama perlahan.
Tanpa terasa airmata Nadira menetes tanpa dapat ditahan lagi.
"Hiks ... Seharusnya aku yang terbaring di sini. Seandainya kita tidak bertukar mobil. Aku yang menjadi target orang itu, tapi kenapa kau harus selalu menjadi perisaiku? Kau memang penyelamatku, jadi ayo kita buat perhitungan. Karena kau sudah menyelamatkan aku. Aku akan memberi hadiah dengan menikahimu. Tapi, kau harus bangun terlebih dahulu."
โข
...๐๐๐...
...LIKE.KOMEN.VOTE ...
__ADS_1