
Tujuh tahun pernikahan.
...🍀🍀🍀...
''Haaaa ... Papa.'' Ruby menangis.
Melihat kondisi Ruby yang terjepit dengan ancaman senjata tajam membuat Rama segera berlari menghampiri ... namun Susan semakin nekat.
"Mendekat selangkah lagi, Ruby akan kehilangan nyawanya!" seru Susan.
“Kau sudah gila! Dia itu anakmu juga,” kata Rama.
“Aku tidak peduli. Selama ini aku hanya ingin kau kembali menjadi suamiku. Tetapi, kau malah mau menikah dengan janda gatel itu! Aku tidak mau hidup susah, Rama.''
“Lepaskan Ruby, Susan! Kalau kau mau uang aku akan berikan,” kata Oma Lily, yang panik melihat cucu kesayangnnya menangis.
“Tidak! Biarkan aku pergi bersama Ruby. Kalian tidak akan bisa bertemu dengan Ruby lagi, kecuali Rama cabut laporan dan kembali menikah denganku!” teriak Susan.
“Jangan mimpi!” seru Rama.
IPTU Johan langsung mengeluarkan senjata miliknya, "Kami juga tidak segan untuk melukai Anda jika tidak melepaskan Ruby," seru Johan.
"Tembak saja, dan gadis kecil ini juga akan mati bersamaku," kata Susan sambil menekan pisau itu ke arah Ruby.
Ia tidak memperdulikan darah dagingnya yang menangis. Matanya sudah gelap dengan keinginan yang tidak bisa ia capai.
''Susan ... aku mohon jangan lukai Ruby. Ak-aku akan pergi dari hidup Rama. Tapi lepaskan Ruby.'' Mohon Nadira.
''Hisk ... tante.''
''Diam! Diam kau wanita sialan. Kalian belum mau mundur juga, Hah. Biarkan aku membawa Ruby!" seru Susan.
"Kau pikir, aku akan membiarkan anakku menjadi sandera, begitu?!" hardik Rama.
"Mau atau tidak mau, kau tidak memiliki pilihan."
"Saya akan hitung sampai tiga, jika Anda tidak mau melepaskan Ruby, saya tidak segan untuk melukai kalian!" kata Johan.
"Satu...dua...tiga..."
Dor...
__ADS_1
...Dor......
Dor...
Johan melepaskan tembakan, pelurunya menyerempet kaki Ruby sehingga gadis itu merosot turun dan membuat Susan kesulitan ... hingga akhirnya ia melepaskan Ruby dan melemparkan pisau itu ke depan Rama.
Melihat Rama dalam bahaya, Nadira dengan sekuat bangkit dan menghambur ke dalam pelukan Rama. Namun, sayangnya pisau itu menacab dan menembus ke punggung Nadira.
Melihat itu, Johan melepaskan kembali tembakan untuk melumpuhkan Susan dan langsung mengamankannya.
''Dira ...''
Rama yang melihat darah dari punggung Nadira meraung dan memeluknya. Nando segera berlari dan menghampiri Rama dan Nadira.
"Kita bawa Nona Nadira ke rumah sakit, biar Bang Johan yang mengurus sisanya. Ayo, kau bawa ke mobilku, ayo Pak Rama, cepat!" seru Nando.
Rama pun menurut dan segera menggendong Nadira ke dalam mobil Nando. Mereka pun segera meluncur dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
"Ya Allah, Nadira. Kenapa kau nekad sekali,kau harus kuat, sayang..." kata Rama.
Sementara Nadira sendiri sudah kehilangan kesadarannya.
"Sabar, Bos. Nadira pasti kuat, percayalah kepadaku. Kita akan sampai sebentar lagi, sabarlah."
"Silahkan tunggu, kami akan langsung menangani pasien," kata salah seorang perawat. Masih dengan tubuh gemetar karena panik dan cemas juga tangan yang penuh dengan darah milik Nadira, Rama terduduk lemas di kursi. Air matanya menetes, napasnya terasa begitu sesak. Tak lama, Nando menghampiri dan duduk di sampingnya.
“Nyonya dan Ruby dalam perjalanan ke rumah sakit juga, kaki Ruby terluka dan Bu Susan sudah diamankan," kata Nando.
"Bagaimana jika Nadira ..."
"Anda jangan berpikir yang macam-macam, Pak, semua akan baik-baik saja," kata Nando dengan tegas.
Rama tidak tau lagi, ia tidak sanggup berkata-kata. Selain memanjatkan doa-doa dalam hati. Tiba-tiba, seorang dokter keluar dan menemui Rama.
"Kami kekurangan darah, apa ada keluarga pasien yang memiliki golongan darah A+?"
"Darah saya A+, dokter. Silakan, ambil..." jawab Nando. Rama yang hampir saja merasa putus asa, menarik napas lega. Ia menatap Nando penuh rasa terima kasih. Walau tanpa kata-kata yang terucap.
Tak lama kemudian, Oma Lily datang bersama Ana dan Ruby. Ruby yang terserempet peluru pun segera ditangani. Melihat sang putra duduk terpekur sambil menangis, Oma Lily pun langsung menghampiri dan memeluk putranya itu.
"Ma, Nadira..."
__ADS_1
"Sabarlah, nak. Dokter pasti sedang melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan Nadira dan anakmu. Kau harus bisa tenang. Cucilah dulu tanganmu," kata Oma Lily. Rama menatap orang tuanya itu. Tampak jelas kecemasan di wajah Oma Lily, ia melihat tangannya yang masih berlumuran darah. Rama pun bangkit dan menuju ke toilet rumah sakit untuk mencuci tangannya.
Sambil mencuci tangannya, ia juga membasuh wajahnya dengan air. Berharap ada ketenangan yang tercipta saat wajahnya terkena air dingin. Beberapa kali ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan-lahan. Setelah merasa sedikit tenang ia pun segera keluar dan bergabung bersama Ana dan Oma Lily
"Nadira akan baik-baik saja, percayalah." kata Nando.
Lama mereka menunggu, sampai akhirnya dokter pun keluar dari ruangan ugd. Rama pun segera menghampiri dokter.
"Bagaimana kondisi calon istri saya, dokter?"
"Luka di punggungnya sudah kami tangani. Untung tidak terlalu dalam. Kita hanya tinggal menunggu pasien sadar, dan Untuk pasien yang bernama Ruby ... luka di kakinya tidak parah karena hanya tergores peluru.''
Rama menganggukkan kepalanya, "Terima kasih banyak, dokter."
"Sama-sama, Pak. Saya tinggal dulu."
Nadira dan Ruby di pindahkan ke kamar VVIP. Rama tentu menginginkan yang terbaik untuk calon istrinya itu.
"Kenapanya di miringkan seperti ini, suster?" tanya Rama.
"Luka Ibu Nadira tidak boleh tertekan, ini di bagian punggung sini harus tetap seperti ini."
"Terima kasih suster."
Rama menarik kursi dan duduk di samping ranjang Nadira. Perlahan dikecupnya tangan Nadira dengan lembut.
"Kau ini kenapa nekad sekali, Nadira. Apa kau tidak tau aku begitu khawatir dan cemas kepadamu. Ayo, bangunlah dan segeralah sehat. Aku tidak mau melihatmu tidur terus seperti ini," kata Rama.
Oma Lily menepuk bahu putranya perlahan.
"Kau harus sabar. Jagalah Nadira dan Ruby di sini baik-baik. Apa yang kau perlukan? Biar Mama ambilkan dari rumah."
"Bawakan saja pakaianku, Ma.”
"Sabar dan berdoa, Nadira wanita yang kuat. Dan, Nadira sanggup menjadi perisai bagimu. Itu adalah tanda bahwa dia sangat mencintaimu. Mama yakin dia akan kuat. Kau jaga dia baik-baik, ya."
"Terima kasih, Ma."
•
...🍀🍀🍀...
__ADS_1
...LIKE.KOMEN.VOTE...