
Tujuh tahun pernikahan.
...πππ...
Acara resepsi Nadira dan Rama diadakan di sebuah Hotel berbintang lima. Bukan pesta yang meriah seperti yang dulu Edgar berikan. Tapi, resepsi pernikahan mereka cukup elegan.
Nadira mengundang rekan- rekan dan sahabat baiknya. Pesta resepsi mereka dihadiri beberapa orang penting dan kolega bisnis Rama.
Berbeda dengan resepsi pada umumnya. Di mana biasanya tamu yang mengalami pengantin ke atas panggung, resepsi Nadira justru pengantin yang menyapa tamunya satu persatu.
"Aku tidak mau duduk seharian seperti boneka pajangan," demikian alasan Nadira yang mau tidak mau dituruti oleh Rama. Dan, kini mereka berdua tengah menggoda Nando dan Ana yang duduk berduaan di meja paling pojok.
"Belum muhrim, dilarang terlalu dekat dan mojok berduaan," goda Nadira pada keduanya.
Ana hanya tersipu malu. "Ihh ... mbak, mentang- mentang sudah sah ya. Sudah sana- sana kalian jangan dekat- dekat. Tamu kalian masih banyak yang belum disapa," ujar Ana.
''Dira ...'' Panggil Mella dari arah belakang.
Nadira menoleh dan mereka saling pandang lalu berpelukan. ''Selamat ya cinta ... aku turut bahagia melihat mu bahagia.''
''Makasih ya Mel ... sampai saat ini kamu selalu ada buat aku.''
''Sayang ... ayo.'' Ajak Rama.
"Aku masih mau di sini makan bersama sahabatku. Apa tidak boleh?" Ucap Nadira sambil menarik kursi di samping Mella, lalu dengan santai ia duduk dan menikmati zuppa soup yang sebelumnya ia ambil.
Mella hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya itu.
"Kau ini pengantinnya hari ini. Lagi pula ada- ada saja sih. Di mana-mana pengantin itu duduk manis di pelaminan dan menerima selamat dari tamu. Ini malah tidak bisa diam berkeliling ke sana kemari," kata Mella.
"Aku kan ingin pesta resepsi yang berbeda dengan pesta orang lain," elak Nadira.
"Ish, kau ini selalu memiliki alasan untuk menjawab sekarang ya. Menyebalkan sekali, Nadira," omel Mella.
Rama hanya tersenyum melihat Nadira yang di omeli oleh sahabatnya.
β’
...β’...
^^^β’^^^
Malam hari...
Nadira mengembuskan napasnya perlahan. Saat ini ia dan Rama sudah berada dalam satu kamar. Acara resepsi telah selesai dan saat ini Rama sedang mandi.
Ruby pun seolah bisa diajak kompromi, ia mau tidur bersama oma Lily di kamar sebelah. Nadira sendiri sudah mengganti gaun pengantinnya dengan gaun tidur yang sedikit menerawang pemberian Mella.
Nadira merasa ketegangan yang luar biasa.
__ADS_1
"Sayang, kau kenapa?"
Nadira tersentak, ia menoleh dan melihat Rama sudah keluar dari kamar mandi dan mengenakan piyama tidur. Dada Nadira mendadak terasa sesak. Rama mendekat dan memeluknya dari belakang sambil mencium teruk leher Nadira perlahan.
"Akhirnya, aku bebas untuk mencium dan menyentuhmu," kata Rama.
"Mas, aku ..."
Rama tersenyum lalu perlahan ia membimbing Nadira berjalan ke ranjang pengantin mereka.
"Kau mau menonton televisi?" tanyanya. Nadira melongo, tapi ia tak kuat menahan tawanya. Mereka pun tertawa terbahak-bahak, Rama mengambil sekotak es krim dari mini bar dan memberikannya pada Nadira.
"Aku tau kau suka coklat,kan?" katanya sambil menyuapi Nadira.
"Kau mau?" tanya Nadira. Rama tersenyum dan mendekat, perlahan ia mencium bibir Nadira dengan lembut. Sebelah tangannya memeluk Nadira dan satu tangannya yang lain meraih kotak es krim dan meletakkannya di atas nakas.
Kali ini Nadira menikmati dan membalas ciuman Rama perlahan. Ia merasakan tubuhnya sedikit bergetar. Perlahan-lahan, Rama membaringkan tubuh Nadira. Ia memulai dengan ciuman-ciuman kecil di leher Nadira hingga wanita cantik yang sudah sah menjadi istrinya itu mendesah perlahan.
Nadira berusaha untuk rileks dan menikmati sentuhan demi sentuhan yang diberikan oleh Rama disekujur tubuhnya. Hingga tanpa ia sadari bahwa saat ini tubuhnya telah polos tanpa sehelai benangpun.
Rama melakukannya dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin Nadira kesakitan dan menjadi trauma di malam pertama mereka. Memang, mereka berdua sama-sama pernah menikah. Tetapi, rasanya pasti akan berbeda karena mereka juga sudah lama tidak melakukan hal itu.
Perlahan, Rama kembali ******* bibir Nadira dan meremas dada istrinya itu perlahan hingga Nadira melenguh nikmat. Barulah ia menyatukan tubuh mereka. Air mata Nadira menetes seketika. Namun, Rama menghapusnya perlahan.
"Sakit, sayang?" tanyanya lirih. Nadira mengangguk sambil menggigit bibirnya perlahan. Rama membelai rambut Nadira dan memulainya dengan perlahan-lahan sampai ia melihat Nadira mulai menikmati permainan mereka. Dan, saat mereka mencapai puncaknya Nadira memeluk Rama dengan kuat dan membiarkan Rama mengeluarkan semua di dalam rahimnya. Rama mengecup dahi Nadira dengan lembut.
"Terima kasih, sayang," kata Rama sambil membaringkan tubuhnya di samping Nadira.
"Terima kasih, kau susah memberikan milikmu yang paling berharga kepadaku," jawab Rama.
"Sudah menjadi kewajibanku untuk melayanimu. Dan lagi, itu sudah menjadi hakmu sebagai suamiku untuk memiliki aku seutuhnya, bukan?"
"Hmm...sepertinya aku akan kalah jika berdebat dengan ibu yang satu ini," kekeh Rama sambil menggelitik pinggang Nadira hingga sang istri memekik kecil. Dan, pada akhirnya mereka mengulang percintaan mereka lagi dan lagi hingga akhirnya mereka lelah dan tertidur pulas.
Paginya Nadira terbangun karena ciuman yang lembut di dahinya.
"Bangun, sayang. Kita solat subuh dulu, aku baru saja mandi. Kau mandilah dulu," bisik Rama lirih. Nadira mengerjapkan matanya dan tersenyum menatap wajah suaminya.
"Kau sudah mandi, Mas?" tanyanya.
Rama mengangguk, "Sudah, kau mandilah ya. Aku sudah siapkan air hangat di dalam bath tub," kata Rama. Nadira pun mengangguk, perlahan ia bangkit.
"Kenapa?" tanya Rama saat melihat pipi Nadira yang bersemu merah. Nadira hanya menggelengkan kepalanya sambil berjalan perlahan ke kamar mandi. Melihat Nadira yang tampak sedikit kesakitan saat berjalan, Rama langsung menggendong sang istri dan membawanya ke kamar mandi. Kemudian memandikan Nadira dengan lembut.
Nadira hanya bisa memejamkan mata dan menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Kau kenapa, sayang?" tanya Rama.
"Aku malu, aku kan bukan anak kecil," jawab Nadira. Rama hanya tertawa kecil.
__ADS_1
Selesai mandi dan berwudhu mereka pun melakukan ibadah solat subuh berjamaah. Setelah selesai solat, Nadira mencium punggung tangan suaminya dan Rama mengecup dahi Nadira dengan lembut.
"Kita sarapan? Ganti pakaianmu, sayang," kata Rama.
Nadira mengangguk, ia mengenakan midi dress selutut berwarna coklat tanpa mengenakan make up yang berlebihan, hanya bedak dan lipstik berwarna nude yang membuat Nadira bertambah cantik dan segar.
Keluarga besar mereka masih menginap di hotel yang sama dengan mereka, sehingga saat mereka turun tampak Oma Lily dan Ruby sedang menikmati sarapan pagi bersama dengan Ana dan Nando. Nadira dan Rama pun langsung berjalan menghampiri kedua orangtua mereka.
"Duh, aura nya pengantin baru, bersinar sekali," goda Oma Lily pada menantunya.
"Mama ini, jangan bikin malu sih," protes Rama.
"Jadi, nanti kalian mau cek out hari apa?" tanya Oma Lily pada Rama.
"Besok pagi, kami langsung ke Ternate, Ma. Jadi, nggak pulang ke rumah dulu nggak apa-apa, kan? Aku titip Ruby, ya" kata Rama.
"Hati-hati ya, nak." Kata Oma Lily.
β’
β’
Pagi itu, Nadira dan Rama sudah berada di Bandar internasional Soekarno-Hatta. Mereka akan terbang ke Ternate untuk berbulan madu.
Yanto, supir pribadi Rama yang mengantarkan mereka ke bandara.
"Jangan lupa yang tadi saya sudah pesan ya, pak," kata Rama pada Yanto.
"Iya, pak. Bapak tenang saja, pokoknya bapak pulang semua sudah siap."
"Ya sudah, Terima kasih banyak ya, pak."
"Sama-sama, pak."
Rama dan Nadira pun langsung masuk. Tidak banyak yang mereka bawa, bahkan mereka tidak membawa koper satupun.
"Kamu aneh deh, Mas. Masa mau pergi bulan madu nggak bawa apa-apa. Setidaknya kita bawa pakaian, kan?" protes Nadira.
"Kita kan bisa beli di sana sih, sayang. Uangku masih cukup kok, untuk beli pakaian," canda Rama.
"Kamu ini, Mas."
"Loh, kenapa? Aku mau bikin istriku senang jadi, ya sudah nggak usah dibuat ribet hanya karena masalah pakaian. Tujuan kita kan untuk bulan madu, malah kalau bisa kau tidak usah memakai apapun, sayang," goda Rama.
"Maas..." rajuk Nadira manja sambil mengerucutkan bibirnya membuat Rama tertawa geli.
β’
...πππ...
__ADS_1
...LIKE.KOMEN.VOTE ...