Tujuh Tahun Pernikahan

Tujuh Tahun Pernikahan
Bab 30 : Rumah mewah.


__ADS_3

Tujuh tahun pernikahan.


...πŸ€πŸ€πŸ€...


Setelah beberapa menit berlalu, mobil mewah itu masuk ke pekarangan rumah yang sangat luas dan super megah ... membuat Nadira bingung, lalu menoleh pada Rama dengan tatapan heran.


''Aku dimana?'' Tanya Nadira.


''Rumahku, ayo keluar dan masuk kedalam.'' Ajak Rama, sambil membuka sabuk pengaman.


Kedua mata Nadira membulat sempurna sambil bergumam. 'Apa kata dia? rumah ... ini rumah, untuk apa dia mengajakku ke rumahnya."


''Mau ngapain kamu ngajakin aku ke rumah mu? Jangan-jangan ...'' Nadira langsung melipat kedua tangannya di dada. ''Jangan macam-macam yaa! Dasar cabul.''


PLETAK!


Rama menyentil jidat Nadira hingga Nadira meringis kesakitan.


''Awww, sakit tau.''


''Sepertinya otakmu yang bermasalah, otak mu yang cabul karna baru saja menjanda.''


Nadira mencibikkan bibirnya. ''Ishh ...''


Rama menatap Nadira cukup lama, lalu keluar dari mobil dan membuka pintu mobil untuk Nadira.


''Cepat keluar.''


''Aku tidak mau.''


''Baiklah, jika kamu tidak mau keluar! Aku akan ...''


''Oke, oke, oke aku keluar.'' Nadira dengan cepat keluar dari dalam mobil dan melihat ke arah rumah yang sangat megah di depannya.


'Ya ampun ... ini rumah apa istana.'


''Nadira ... cepatlah!''

__ADS_1


''Eh, iya.'' Nadira berlari menyusul Rama, namun seketika ia heran dan menatap Rama. 'Dia tau namaku? Bagaimana bisa.' Nadira menggelengkan kepalanya.


Rama dan Nadira masuk kedalam rumah secara bersamaan, terlihat di dalam rumah lebih mewah dan elegan yang mana membuat Nadira terkagum kagum melihatnya.


''Jadi apa maksud semua ini?''


Rama menoleh dan tersenyum, ''Aku membawa mu ke sini untuk--''


''Papa ...'' Teriak anak kecil dari lantai atas, yang mana membuat Nadira dan Rama menoleh secara bersamaan.


''Non, jangan lari-lari ...''


''Papah ... papah pulang.'' Ucapnya dengan riang.


Nadira mengerutkan keningnya ketika melihat anak kecil yang tengah berlari ke arahnya, sementara Rama memejamkan kedua matanya karna dia pikir anaknya sedang berada di rumah kedua Orangtuanya.


'Ceroboh.'


''Papah ...'' anak itu merentangkan kedua tangannya, lalu Rama menyambut, memeluk dan menggendong anaknya.


''Kenapa belum tidur hemm ...''


''Loh, Mbak.'' Suster itu pun mengenali Nadira.


Rama dan anaknya menoleh secara bersamaan.


''Tante, kau 'kah itu?'' Tanya anak cilik yang tidak lain adalah Ruby, yang sempat bertemu dengan Nadira di danau.


''Ruby ...''


Ruby tersenyum dan turun dari gendongan Rama, lalu berlari ke hadapan Nadira.


''Tante, kau disini?'' Tanya Ruby begitu senang. ''Apa kedua matamu sudah sembuh?


Nadira tersenyum dan mengusap kepala Ruby dengan lembut, ''Sudah dong, akan ada anak cantik yang menolong Tante.''


Ruby tersenyum. ''Tante kenal Papah?''

__ADS_1


Nadira menoleh pada Rama.


''Dia teman Papah, Nak. Beberapa hari kedepan Tante Nadira akan menginap di sini dan menemani mu ti, dur.'' Ucap Rama menyunggingkan bibirnya, namun perkataan Rama seakan mengatakan jika Nadira di sini untuk menemaninya tidur, bukan Ruby.


Nadira melotot pada Rama, sementara Ruby mengangguk senang karna Nadira akan menginap dan menemani dirinya.


''Yeyyy, benarkah itu?'' Tanya Ruby memastikan.


Nadira hanya bisa tersenyum dan mengangguk.


''Kalau begitu, apa Tante bisa membaca dongeng?''


'Membaca dongeng?' Gumam Nadira, hatinya sedikit tersentak karna membaca dongeng untuk anaknya adalah impiannya dulu.


''Tante?''


''Ya, tentu saja ... apa Ruby ingin tidur dan di bacakan dongeng oleh Tante?''


Ruby mengangguk dan menarik tangan Nadira menuju kamarnya, sedangkan Rama yang melihat itu merasa heran karna putrinya cepat sekali akrab dengan orang asing.


''Kau ingin kemana?'' Tanya Rama pada suster.


''Mau bantuin Mbak itu, takutnya kerepotan sama Non Ruby, Pak.''


''Tidak usah dibantu dan biarkan saja, biarkan dia terbiasa dengan adanya Nadira.''


''Tapi Pak.''


''Tidak perlu khawatir, karna di masa depan dia yang akan mengurus segala keperluan Ruby dan aku. Kau pergilah istirahat dan besok tanyakan pada Pak Samir tentang pekerjaan lain untukmu.''


Suster itu terkejut. 'Omooo ... Omooo ... jangan-jangan, wanita itu bakal jadi mama tirinya Non Ruby.'


Suster Mira melihat kepergian majikannya, lalu dia mengambil ponsel di dalam saku untuk menghubungi seseorang.


(Hallo, Bu. ini gawat! Gawat darurat gaswat..)


β€’

__ADS_1


...πŸ€πŸ€πŸ€...


...LIKE.KOMEN.VOTE...


__ADS_2