
Tujuh tahun pernikahan.
...πππ...
Jurang Kanigoro adalah tempat tujuan wisata yang baru dikembangkan di daerah Dlingo, Bantul, bertepatan dengan objek wisata lainnya, termasuk Tebing Watu Lawang, Songgo Langit, dan Bukit Mojo yang semuanya saling berdekatan.
Sebuah perahu yang dibangun dari bambu yang diletakkan di tepi jurang menjadi tujuan utama. Sedangkan pemandangan latarnya nampak mirip dengan pemandangan dari Puncak Kebuh Buah Mangunan, dengan hanya sedikit perbedaan, yaitu Sungai Oyo di bagian bawah yang dikelilingi perbukitan hijau yang indah. Yang terakhir namun tak kalah pentingnya, kabut yang mengalir juga menambah pesona yang tak diragukan lagi untuk tempat ini.
Dan, Rama membawa Nadira ke sana. Ia mengajak Nadira mencoba sensasi naik perahu bambu. Bagi Nadira rasanya agak 'menggelitik' berada di atasnya, seolah-olah ia benar-benar terbang dengan kapal.
Kabut mengalir tepat di bawah kakinya dan tidak lagi ada di depan mata. Nadira merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Kau suka?" tanya Rama.
"Kau mau membunuhku dengan mendorongku ke bawah sana?" cetus Nadira yang membuat Rama tertawa terbahak-bahak, lalu mengeluarkan ponselnya dan meminta Nadira untuk berfoto.
Awalnya Nadira tidak mau. Tapi, kemudian ia berpikir kapan lagi ia bisa berfoto dengan pemandangan yang indah. Rama dengan senang hati mengambil foto Nadira. Bahkan ia sempat meminta seorang pengunjung untuk mengambil foto mereka berdua.
"Kau cantik..." kata Rama melirik Nadira yang tampak kagum dengan pemandangan di sekitarnya.
"Semua lelaki sama saja, pintar berkata-kata."
"Kau memang cantik, itu fakta."
"Sudah berapa wanita yang kau bawa kemari?" tanya Nadira, masih dengan mode cetus.
"Baru kau."
"Lalu, tau dari mana tempat indah ini?"
"Mbah google dong."
Nadira hanya tersenyum mendengar perkataan Rama. Melihat senyuman Nadira, Rama merasa sangat senang sekali.
"Senyummu manis, Nadira. Aku akan membuatmu selalu tertawa seperti ini."
"Alahh ... Laki-laki memang pandai bermulut manis."
Tanpa banyak bicara, Rama menarik Nadira ke dalam pelukannya. Dan, tanpa apa-apa ia menempelkan bibirnya ke bibir Nadira dan mulai merasakan manisnya bibir merah itu dengan lembut.
Sementara Nadira merasakan jantungnya berhenti berdetak.
Melihat Nadira yang diam terpaku, Rama tertawa kecil.
Sedetik kemudian Nadira tersadar dan...
TUINGGG.
Rama hanya tertawa saat Nadira mentoyornya.
__ADS_1
"Kurang ajar! Berani sekali mencuri kesempatan dariku.''
"Hahaha... Kau tidak akan pernah melupakannya, Nadira. Yang pertama itu akan selalu membekas dalam ingatan. Dan, percayalah kau akan mengingat hari ini sepanjang hidupmu dan juga sampai kita menua bersama."
"Kau ini sudah tidak waras! Begitu caramu memperlakukan wanita?!Aku memang janda tapi aku bukan janda horeong dan gatal seperti yang ada di luaran sana."
"Aku benar-benar ingin menjadikanmu istriku. Apa kau tidak mau menjadi ibu sambung dari Ruby?β
"Kau benar-benar sudah tidak waras. Aku mau pulang," sentak Nadira.
Rama hanya tersenyum, ia menarik tangan Nadira dan melangkah turun.
"Tidak perlu memegang tanganku. Aku bisa berjalan sendiri."
"Kalau kau jatuh? Sudah, diam saja nona cantik."
Nadira mengakui Rama memang anti mainstream. Ia mendekat dengan caranya yang sedikit menyebalkan. Tapi, kini Nadira tau dia sedang berusaha untuk mencuri hatinya dengan cara yang berbeda.
"Nadira, kriteria suamimu seperti apa?" tanya Rama saat mereka sudah kembali duduk di dalam mobil.
"Tidak ada."
"Serius? Bagaimana kalau aku yang menentukan kriterianya? Bagaimana kalau tampan seperti aku, bisa menerima dirimu apa adanya. Yang mencintaimu dan setia hanya pada satu wanita. Dan semua itu ada padaku, Nadira."
Nadira menepuk dahinya. "Aku jadi ingin bertemu dengan kedua orangtuamu."
"Untuk apa, Ra? Kau setuju menjadi istriku?"
Tawa Rama pun meledak seketika. "Tapi, kau menyukainya kan? Akui saja, tidak ada kan lelaki seperti diriku?"
"Sekali lagi kau melakukan hal seperti tadi kepadaku, aku akan menuntutmu."
"Tentu aku akan melakukan hal itu lagi. Bahkan lebih dari itu, tapi nanti saat kau sudah resmi menjadi istriku. Kita lihat bulan depan. Aku pastikan bulan depan kau akan menerima lamaranku. Aku sudah mempersiapkan semuanya. Sehingga, saat kata iya terucap dari bibirmu semua sudah siap."
"Apa yang kau persiapan?"
"Tentu saja penghulu, tempat resepsi, konsep pernikahan. Semuanya itu sudah siap. Hanya tinggal tanggalnya saja dan persetujuan darimu."
"Tidak waras."
Rama terkekeh melihat lirikan mata Nadira yang begitu tajam. Tapi, ia menyukai lirikan itu.
"Nanti malam, kita makan bersama. Aku sudah memesan tempat untuk kita," kata Rama saat mobil tiba di hotel.
Rama kembali membukakan pintu untuk Nadira dan menggandeng gadis cantik itu kembali ke kamarnya.
"Foto-foto yang tadi akan aku kirimkan ke ponselmu," katanya sambil melangkah menuju ke kamarnya sendiri. Nadira hanya bisa menggelengkan kepala, dan langsung masuk saat Ana membukakan pintu.
"Kau baik-baik saja, Mbak?" tanya Ana.
__ADS_1
"Memangnya, aku terlihat tidak baik?"
Ana menggelengkan kepalanya, tapi untuk pertama kali ia melihat binar bahagia di mata Nadira. Juga pipi yang bersemu merah. Dan, Ana cukup dewasa untuk dapat mengerti apa yang Nadira rasakan sekarang.
βTidak, bahkan Mbak terlihat bahagia. Oya, kalo mbak mau mandi silakan. Nanti baru kita bangunkan non Ruby.β
"Baiklah, ya sudah aku mandi sore dulu ya."
"Iya, Mbak."
Nadira langsung masuk ke kamar mandi dan mengisi bath tub dengan air hangat. Ia menatap wajahnya di cermin. Perlahan ia mengusap bibirnya dan menutup matanya perlahan.
"Astaga, apa yang kau pikirkan, Nadira. Dia itu hanya lelaki menyebalkan yang kurang ajar," Nadira bermonolog. Tapi, kemudian Nadira harus jujur mengakui bahwa untuk pertama kalinya ia merasakan jantungnya berdebar lebih cepat. Dan ia merasa seperti ada jutaan kupu-kupu yang beterbangan saat Rama menggandeng tangannya dan memeluknya seperti tadi.
"Tapi, dia itu kurang ajar, Nadira. Lelaki yang sangat menyebalkan. Berani-beraninya menyentuh bibirmu, aarrggn...!"
Tok...
...tok.....
tok.
"Mbaaak...Mbak baik-baik saja kan, di dalam?!" seru Ana dari luar.
"I-iya...!"
"Trus, kenapa teriak Mbak?!"
"Kena air panas!"
Nadira terpaksa berdusta pada Ana. Ia tidak mungkin menceritakan hal yang memalukan itu kepada Ana. Gadis itu pasti akan menertawakannya habis-habisan.
Merasa bertambah pening di dalam kamar mandi, Nadira pun menyambar jubah mandinya dan segera keluar.
"Tumben lama sekali di dalam, Mbak. Jadi penasaran Mbak habis dari mana sih tadi."
"Jurang Kanigoro."
"Waaah, aduh kok nggak bilang, Mbak. Aku tu pengen banget ke sana loh," keluh Ana kecewa.
"Aku mana tau mau diajak ke sana. Orang aneh seperti majikanmu itu menyebalkan sekali."
"Awas loh, Mbak jangan terlalu benci. Nanti malah jadi cinta. Pak Rama itu orang baik. Saya rasa beliau memang sangat mencintai Mbak."
"Ish, kau ini..."
β’
...πππ...
__ADS_1
...LIKE.KOMEN.VOTE ...