
Tujuh tahun pernikahan.
...πππ...
Nadira dan wanita itu kini duduk menghadap kepala sekolah setelah bisa di pisahkan. Pakaian dan rambut mereka berdua terlihat acak-acakan dan tidak berturan, bahkan kedua orang itu saling membuang muka.
''Bagaimana kalian bisa berkelahi di depan anak-anak? Itu tidak baik untuk di contoh oleh anak-anak,'' ujar pak kepala sekolah.
Nadira yang mendengarnya langsung menoleh dan menggebrak meja.
BRAAAK!
''Bagaimana anda bisa membiarkan Putri saya di tampar oleh nya? Apa Bapak juga mencontohkan perilaku yang baik dan adil pada setiap murid?''
Bapak kepala sekolah itu terdiam. ''Bu, say--''
''Dengar ya Pak, saya tidak bisa menterorir permasalahan ini! Bagaimana jika Ayah Putri saya mengetahui kejadian ini, apa dia bisa mema'afkan.''
''Cih, memangnya suami mu memiliki jabatan apa sehingga kami harus takut.''
Nadira menoleh dan menatap tajam pada wanita itu.
''Ayah Putri saya mungkin tidak memiliki jabatan tertentu! Tapi seorang Ayah tidak akan rela jika Putrinya di sakiti orang lain.''
Nadira berdiri dari duduknya dan membawa Ruby bersamanya, sebelum ia pergi ... ia menatap Bapak kepala sekolah dan wanita itu secara bergantian.
''Dengar yaa! Ini belum selesai.'' Ancam Nadira, lalu pergi bersama Ruby.
Oma Lili yang melihat kejadian yang terjadi merasa haru dan bangga pada Nadira, karna dia benar-benar tulus menyayangi sang cucu apa lagi rela berkelahi dengan orang yang baru di kenal.
'Terlepas bagaimana masalalunya, Nadira adalah kandidat Ibu sambung yang baik untuk Cucuku.'
Oma Lili pergi dari kerumunan, lalu menelpon seseorang untuk membereskan Bapak kepala sekolah dan wanita yang sudah berani menampar cucunya.
β’
__ADS_1
...β’...
^^^β’^^^
Nadira dan Ruby berjalan keluar sekolah dan masuk kedalam mobil. Keduanya terdiam lalu menoleh secara bersamaan, saling pandang dan langsung tertawa.
''Ha ha ha ha ...''
Nadira dan Ruby tertawa secara bersamaan.
''Ha ha ... tante, kau benar-benar hebat berkelahi.'' Puji Ruby mengacungkan dua jempolnya.
''Tentu saja, mereka yang meremehkan mu harus mendapatkan balasan! Kita tidak boleh mengalah, jika kita mengalah maka orang-orang sepertinya akan besar kepala.''
Ruby langsung memeluk Nadira.
''Makasih ya, Tante.''
''Makasih untuk apa? Ruby sudah menjadi tanggung jawab Tante sekarang ... jangan takut jika ada yang menjahili atau mengejek mu sayang, Tante akan menjadi ganda terdepan untuk Ruby.''
Ruby semakin erat memeluk Nadira, baru kali ini Ruby merasakan hidupnya di lindungi dan aman dari siapapun. Ia senang sudah di pertemuan dengan sosok yang baik seperti Nadira ... Ruby memang masih anak kecil, namun pikirannya sudah dewasa kerna keadaan dan kondisi di mana kedua Orangtuanya sudah bercerai, bahkan sang Ibu tidak pernah memperdulikannya.
''Kenama Tante?''
''Ayo kita pergi ke Mall dan jalan-jalan menghabiskan uang dari Ayah mu.'' Ucap Nadira tersenyum, sambil menaik turunkan kedua alisnya.
''Ayo tante, Apa ruby boleh beli eskrim?''
''Tentu saja boleh. Pak, Ayo kita pergi ke Mall terdekat.''
''Baik.''
Pak supir membawa Nadira dan Ruby ke salah satu Mall di jakarta, mereka berdua bersenang-senang dan bermain. Nadira sengaja mengajak Ruby bermain agar Ruby bisa melupakan kejadian tadi, apa lagi Ruby di tampar oleh orang dewasa yang mana Nadira tidak mau jika Ruby mengalami trauma berkepanjangan.
Nadira sudah terlanjur sayang pada Ruby, hingga ia merasa harus melindungi Ruby bagaimana pun caranya ... terlepas dari Rama yang terus menerus mengajaknya menikah, tapi ia belum siap jika menyandang status sebagai seorang istri lagi.
__ADS_1
Nadira takut jika Rama dan keluarganya tidak bisa menerima dirinya yang kekurangan, seperti keluarga Edgar yang selalu mengatakan jika dirinya tidak bisa memiliki seorang keturunan.
β’
...β’...
^^^β’^^^
Di kantor.
''Kau tau Ram, dia sangat hebat. Aku sangat menyukai Nadira.'' Ucap Oma Lili yang tengah membicarakan bagaimana Nadira berkelahi untuk membela Ruby.
Rama yang mendengarnya hanya tersenyum, ia tidak pernah melihat Ibunya sebahagia ini menceritakan orang lain ... tapi sekarang sang Ibu menceritakan bagaimana Nadira membela Ruby.
''Dia memang wanita baik.''
''Ya, dia memang wanita baik. Jadi kapan kau akan menikahinya?''
Rama diam sejenak lalu menggidikkan bahunya, ''Tidak tau, dia selalu menolak untuk menikah ... Mungkin dia masih trauma dengan pernikahan pertamanya.''
''Separah itu kah?'' Tanya Oma Lili penasaran.
Rama mengangguk. ''Mungkin bagi orang-orang kulot dan pikiran sempit itu sangat parah. Nadira tidak bisa memberikan keturunan untuk keluarga suaminya, untuk itu tujuh tahun pernikahan hanya sia-sia.''
''Ya Tuhan, kasihan sekali nasib Nadira.''
''Ya ... dia mengabdi selama tujuh tahun di keluarga suaminya, tapi yang dia dapat malah hinaan dan penghianatan dari suaminya. Jika Nadira kelak menjadi istriku, apa kau juga akan menuntut seorang anak dari Nadira?''
Oma Lili diam mengerutkan keningnya, ''Apa kau pikir semua mertua itu sama? Keluarga mantan suaminya sangat egois, jika mereka ingin memiliki keturunan ya usaha kek, sekarang banyak pengobatan yang sangat canggih. Mereka hanya bisa menuntut, tapi tidak bisa memberikan solusi dan modal.'' Geram Oma Lili.
''Apa Mama setuju jika aku menikahi Nadira?''
Oma Lili tersenyum, ''Kejar dia dan dapatkan kepercayaannya ... Bahagiakan dia selagi dia ada di sisimu.''
β’
__ADS_1
...πππ...
...LIKE.KOMEN.VOTE ...