
Tujuh tahun pernikahan.
...๐๐๐...
Pagi hari ... Nadira bangun dari tidurnya dan langsung menceburkan dirinya ke bathub yang sudah terisi air. Ketika Nadira sedang asik berenang ... tiba-tiba saja telepon Nadira berdering, ia pun segera menjawabnya.
"Mbak Nadira, pak Rama sudah sadar!" seru Ana di seberang telpon sana.
"Serius kamu, Ana?" tanya Nadira, ia pun langsung keluar dari kolam renang.
"Iya, cepatlah ke sini Mbak. Antarkan dulu Ruby sekolah ... trus Mbak langsung ke sini. Biar pak Nando yang menjaga Ruby selama di sekolah.''
Nadira pun tersenyum senang dengan hati yang gembira langsung keluar dari kamar mandi dan mengganti pakaiannya, ia bergegas turun untuk sarapan bersama Ruby yang sudah menunggunya.
โSayang, nanti tante ga bisa temenin kamu di sekolah. Nanti kamu ditemenin sama-โ
"Sama om Nando kan Yaa ... Tadi, Mbak Ana sudah menelepon Ruby, Tante.''
Nadira mencubit pipi Ruby dengan gemas. โAnak siapa sini ini pintar bangetttt ... Tante ada keperluan dulu sebentar, tapi Tante janji ga lama kok.''
โJanji?โ
โIya Sayang, janji.โ
Nadira benar-benar merasa senang mendengar kabar bahwa Rama sudah sadar. Ia pun menikmati sarapan paginya dengan lahap. Ia ingin terlihat segar dan gembira di hadapan Rama. Nadira berjanji akan selalu mendampingi Rama mulai sekarang. Ia merasa sangat berhutang nyawa pada Rama.
Saat tiba di rumah sakit, Oma Lili dan Ana menyambut Nadira.
"Ada apa, apa semuanya baik-baik saja?''
Oma dan Ana saling pandang.
"Nak, masuk dan sapalah dulu Rama. Kami tunggu di luar ya." Oma Lili merasa tidak enak mengatakan keadaan Rama, biarlah Nadira tau dengan sendirinya.
Nadira melihat wajah-wajah yang penuh dengan ketegangan. Ia melirik pada Ana yang menganggukkan kepalanya. Perlahan, Nadira pun masuk ke dalam kamar tempat Rama di rawat. Tampak Rama sedang berbaring sambil disuapi makan oleh seorang perawat.
"Syukurlah kau sudah sadar? Aku senang sekali sewaktu Ana meneleponku dan mengatakan bahwa kau sudah sadar," sapa Nadira dengan riang.
__ADS_1
Rama menoleh dan menatap nadira dengan heran dan dahi yang berkerut. "Kau siapa, dan mau apa di sini?"
Nadira terkejut. ''Kenapa bertanya seperti itu? kenapa kau berpura-pura tidak mengenaliku.'' Nadira pura-pura bersedih, lalu duduk di kursi sebelah Rama.
''Aku memang tidak mengenal mu, Nona.''
Nadira menghela nafasnya. ''Baiklah, aku Nadira.'' Jawab Nadira tanpa menyadari jika ada yang aneh pada Rama.
Rama mengerutkan dahinya. "Nadira?''
"Hei, pria mesum! Aku tau kau marah padaku, karna aku menolak menjadi istrimu. Emmm, tapi akan aku pertimbangkan untuk menerima mu.''
''Calon istri? Itu tidak mungkin! Istriku bernama Susan, kami sudah punya anak bernama Ruby. Aku tidak mengenalmu.''
Nadira merasa ada yang aneh pada Rama.
''Rama, apa kau lupa padaku? Benar-benar melupakan aku?" tanya Nadira.
"Aku tidak ingat, aku bahkan tidak ingat kenapa aku bisa sampai masuk rumah sakit. Jadi, aku minta kau keluar, aku mau beristirahat!" hardik Rama.
Nadira berdiri terpaku, ia masih heran kenapa Rama pura-pura tidak mengalnya. Apakah ini sebuah rencana Rama karna ia sudah menolak Rama beberapa kali? Tapi ini tidak lucu.
Oma Lili dan Ananmasuk, lalu Oma Lili menepuk bahu Nadira yang masih kebingungan.
__ADS_1
"Kata dokter ... Rama mengalami amnesia lakunar .Pengidap amnesia ini akan mengalami hilangnya ingatan mengenai suatu peristiwa secara acak. Rama masih mengingat keluarganya, tapi Rama tidak akan ingat mengapa dia sampai celaka.''
Nadira mendongkakkan kepalanya menatap Oma Lili.
''Jadi ...''
Oma Lili mengangguk. ''Rama tidak akan ingat sesuatu yang telah membuat hatinya sakit apa lagi mengingat perceraiannya dengan Susan. Dia malah menganggap jika ia masih suaminya Susan."
Nadira menggelengkan kepalanya tidak percaya. ''Jadi kau melupakan ku? melupakan tentang kita.'' Nadira menatap Rama dengan tatapan sendu.
Nadira memejamkan matanya, tiba- tiba ia merasakan kerinduan yang begitu dalam kepada Rama. Nadira ingat dengan jelas bagaimana pertama kali mereka bertemu. Pria mesum yang selalu mencuri ciuman darinya dan selaku meminta agar dirinya mau menjadi istrinya kini melupakan semuanya.
''Nadira ...''
''Iya Oma.''
''Kaki Rama tidak bisa digerakkan. Dokter bilang ia bisa kembali berjalan, dengan cara menjalani operasi dan terapi. Oma tidak yakin jika wanita yang pernah berkhianat bisa merawat Rama. Oma dan Ana akan membantumu supaya kau bisa tetap dekat dengan Rama sekalipun Susan ada di sini nanti."
"Di-dia akan kemari?" tanya Nadira.
Oma Lili mengangguk, membuat Nadira merasakan ketidak nyamanan saat Susan akan berada di sekitarnya.
'*Jika dia melupakan aku, aku akan membuatnya mengingatku lagi ... aku tidak akan menyerah dan kehilangan kebahagiaanku untuk kedua kalinya. Ini demi Ruby ... aku sangat mencintai anak itu, aku tidak mau kehilangannya. Aku tidak akan pernah membiarkan Susan merebut Ruby ku*.'
โข
__ADS_1
...๐๐๐...
...LIKE.KOMEN.VOTE...