
Tujuh tahun pernikahan.
...πππ...
Rama sedari tadi memperhatikan pertikaian antara dua wanita yang sedang bersaing memperebutkan dirinya. Dimana satu wanita yang ingin memanfaatkan hilang ingatannya, di satu sisi wanita yang sedang cemburu namun ia gengsi mengatakannya.
''Kau ingin aku kupaskan buah? cepat sembuh supaya kita bisa cepat halal. Eh, maksudku agar kau cepat sembuh.''
Susan mengepalkan kedua tanganya.
''Jadi, kau benar-benar ingin berpaling dariku? Baiklah, kalau kau sudah tidak mencintaiku lagi, aku akan pergi saja," kata Susan sambil pura-pura merajuk. Yang mana membuat hati Rama merutuki Susan.
"Nadira hanya bercanda. Masa iya aku mau menikah lagi dan memiliki dua istri. Emang iya yaa, aku pernah mengatakan akan menikahimu?'' Tanya Rama pada Nadira.
"Entah, kepalaku mendadak sakit, mungkin aku juga mendadak amnesia," jawab Nadira sebal.
Melihat pertikaian tak terlihat di antara ketiga gadis itu membuat Rama hanya bisa menepuk dahinya. Namun ia berkata dalam hati jika dia suka melihat Nadira merajuk, karna ia bisa tau jika Nadira cemburu.
"Aku mau tidur," kata Rama pada akhirnya.
"Aku pulang dulu kalau begitu, Ruby hanya sendiri," sahut Nadira.
''Baguslah. Lebih baik kau pergi dari pada kau menggangguku dan suamiku.'' Cetus Susan.
Tidak lama Oma Lili datang.
''Nadira, kamu mau kemana?''
''Pulang Oma, kasihan Ruby sendirian. Ruby tidak betah bersama Mira. Dia butuh aku karena ibu kandungnya sibuk dengan pekerjaannya dan harus di sini merawat ayahnya." Cetus Nadira.
__ADS_1
Nadira segera menyambar tas nya lalu bergegas keluar, Rama masih sempat melihat Nadira di sela matanya terpenjam. Ia bisa melihat air mata yang disembunyikan oleh gadis cantik itu, dan hatinya merasa kasihan. Ia tidak tega tapi ini adalah salah satu cara agar Susan masuk kedalam perangkapnya.
Susan yang melihat Nadira pergi, ia pun menyusul Nadira.
''Heh! Kamu.'' Panggil Susan.
Nadira menghela nafasnya. ''Apa lagi sih.''
''Besok tidak usah datang kesini! Kau itu tidak di harapkan disini.''
Nadira melipatkan kedua tangannya di dada. ''Sepertinya kau salah! Kau lah yang tidak di harapkan kehadirannya. Ck ck ck, mungkin Rama memang sudah tidak waras saat mengajakmu menikah dulu. Untung saja kalian sudah bercerai dan oma Lily sudah setuju jika Rama menikahiku." Ucap Nadira.
Susan tersenyum. "Tapi, Tuhan itu baik dan berpihak padaku. Dia membuat Rama kecelakaan supaya Rama bisa kembali lagi kepadaku. Dan aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku akan berusaha untuk membuatnya kembali kepadaku. Aku tidak peduli bagaimana caranya. Kita lihat saja nanti."
Nadira yang mendengarnya tertawa kencang. ''Ha ha ha ...''
"Ha ha ha ... ya ampun. Perempuan jahat seperti dirimu nggak pantes bawa-bawa nama Tuhan! Selama masih ada aku, jangan harap kau bisa leluasa mendekati Rama kembali. Aku akan membuka kedokmu, lihat saja nanti."
Susan menatap Nadira kesal, "Apa untungnya buatmu menghalangi niatku?"
"Are you stupid (Apa kau bodoh!) Tentu saja untung bagiku, Karna aku yang akan menjadi Nyonya Rama. Dan aku akan memberitahu tentang perselingkuhan mu, siapa tau Rama langsung ingat semuanya.''
"Kau tidak punya bukti kalau aku dulu selingkuh. Jika Rama saja sedang lupa ingatan ... bagaimana kau bisa memberitahu Rama jika aku dan dia sudah bercerai karena aku selingkuh?"
"Bukti bisa dicari, Susan."
"Silakan jika kau bisa."
"Kau menantang aku?"
__ADS_1
"Jelas, aku menantang dirimu! Jika kau berusaha dengan sejuta cara untuk kembali kepada Rama, aku juga akan berusaha jauh lebih keras dari usahamu untuk mendapatkan Rama seutuhnya."
Kedua wanita itu saling menatap penuh dengan kebencian. Baik Nadira maupun Susan tidak ada yang mau saling mengalah.
"Kalian sedang apa di sini? Susan, kau bisa pulang ke rumahmu, biar malam ini saya yang menjaga Rama," kata Oma Lily mengejutkan keduanya.
Wajah Susan yang semula menegang tiba-tiba langsung ceria hanya dalam waktu sedetik membuat Nadira kesal bukan main.
"Baik, Ma aku akan pulang ke hotel dulu. Besok biar aku yang menemani Rama kembali."
"Tidak! Kau harus ingat jika kau dan Rama tidak ada hubungan lagi. Jangan memanfaatkan keadaan, Susan."
"Lalu, siapa yang akan menjaga Rama?"
"Ada saya, ada Nadira. Saya masih sanggup juga membayar perawat untuk menjaga Rama. Nadira, dia itu calon istri Rama. Tidak masalah, jika kau tidak ada di sini," jawab Oma Lily dengan tegas.
Susan pun langsung pergi dan meninggalkan Oma Lily berdua dengan Nadira.
"Rama tidur, Oma?" tanya Nadira setelah Susan pergi.
Oma Lili mengangguk. ''Wanita itu tidak tau malu. Andai Rama tidak amnesia aku tidak mau melihat wajahnya lagi. Dia pasti punya niat yang tidak baik, kita harus awasi dia terus."
Tanpa mereka tau, jika Rama ada di balik pintu melihat dan mendengar apa yang yang terjadi.
β’
...πππ...
...LIKE.KOMEN.VOTE...
__ADS_1