Tujuh Tahun Pernikahan

Tujuh Tahun Pernikahan
Bab 57 : Akhirnya ...


__ADS_3

Tujuh tahun pernikahan.


...πŸ€πŸ€πŸ€...


Rama duduk dengan gelisah di dekat ranjang Nadira. Sudah satu jam berlalu, namun calon istrinya belum juga menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan terbangun.


"Bangunlah, sayang. Apa kau tega melihatku bersedih seperti ini? Aku sangat membutuhkan dirimu, Maafkan aku sudah berpura-pura selama ini." bisik Rama lirih di telinga Nadira.


Tiba-tiba saja, jari tangan Nadira bergerak perlahan. Rama tersentak kaget dan langsung menggenggam tangan Nadira. Dan, lelaki tampan itu menarik napas lega saat melihat kelopak mata Nadira terbuka.


''Ru-Ruby ...'' Saat baru membuka matanya, di ingatannya hanya Ruby yang ia khawatirkan.


"Nadira, kau sadar, sayang...aku panggilkan dokter."


Rama pun memencet tombol merah yang ada di samping ranjang Nadira. Dan, dalam beberapa menit beberapa perawat dan dokter pun masuk dengan tergopoh-gopoh. Rama pun berdiri menepi, agar dokter bisa memeriksa Nadira dengan baik.


"Pasien dalam kondisi baik, sekarang hanya butuh pemulihan saja. Makan yang banyak juga ya Bu, untuk memulihkan kondisi Ibu. Kemarin, Ibu sempat kehilangan banyak darah. Saya tinggal dulu, ya."


"Terima kasih, dokter, " ujar Rama.


Dengan perasaan bahagia, Rama menghadiri Nadira dan menciumi tangannya itu bertubi-tubi.


"Kau ini nakal sekali, tidak mau mendengar apa kataku. Kubilang jaga dirimu baik-baik, dasar sok jago.''


Nadira menatap lelaki itu dengan perasaan haru sekaligus geli melihat lelaki gagah dan tampan yang sedang mengomelinya.


"Kau ini lucu, Mas. Aku baik-baik saja," jawab Nadira dengan suara lirih sambil menahan nyeri di punggungnya.


"Sakit, sayang?"


"Pundakku nyeri, Mas."


''Tidak apa-apa, itu akan segera sembuh.''


''Dimana Ruby? Apa dia baik-baik saja.''

__ADS_1


''Dia ada di sebelahmu, di sudah tidur ... tadi dia menemaniku menjaga mu tapi dia mengantuk.''


''Ahh ... Syukurlah. Aku sangat takut kehilangan Ruby, dia segalanya bagiku.''


''Lalu, aku bukan segalanya untuk mu?''


Nadira menatap Rama. ''Tidak! Kau itu sudah membohongiku.''


''Maafkan aku, ini demi kebaikan kita. Sudahlah ... yang terjadi biarlah terjadi, kini fokus pada kesehatanmu. Karna setelah kau sembuh, aku akan segera menikahimu.''


Pipi Nadira seketika memerah, ia malu untuk memandang Rama.


β€’


...β€’...


^^^β€’^^^


_BEBERAPA BULAN KEMUDIAN_


Nadira pagi ini kelihatan cantik dengan kebaya dan riasan pengantin adat Jawa Barat. Nadira mengenakan siger di kepalanya, siger Sunda itu sendiri memiliki makna yang cukup. Dengan meletakkan siger pada kepala, pengantin wanita pada dasarnya telah meletakkan kearifan, rasa hormat, dan kebijaksanaannya sebagai prioritas dalam pernikahan. Sebagai istri, siger merupakan simbolisasi harapan kearifan, hormat dan kebijaksanaan.


Sebagai seorang gadis Sunda ... Nadira terlihat sangat cantik dengan untaian bunga melati dari sanggulnya, kemudiian jatuh ke bahunya hingga ke dada. Untaian bunga melati ini disebut dengan ronce melati. Ronce bunga melati itu bukan hanya sekedar hiasan. Di balik hiasannya yang cantik, ronce melati juga dimaknai sebagai kesucian dan kemurnian hati pengantin wanita.


Wajah Nadira yang memang pada dasarnya sudah cantik, pagi itu memang tampak benar-benar bersinar cerah. Berbeda saat ia menikah dengan Edgar, kali ini senyuman Nadira terlihat begitu merekah membuat auranya sebagai seorang pengantin wanita nampak keluar. Paramitha yang mendampingi sang putri merias diri nampak tersenyum bahagia.


Keluarga Rama sudah datang. Mereka bersama Iptu Johan dan istrinya. Mereka juga nantinya yang akan mendampingi Nadira di resepsi pernikahan sebagai pengganti keluarga Nadira.


"Pak Rama sudah datang," ujar Ana. Nadira bergegas bangkit namun langsung di cegah oleh Ana.


"Eh, Mbak mau ke mana?" tanya Ana.


"Kan acaranya mau di mulai?" jawab Nadira dengan polos.


"Nggak boleh, Mbak baru boleh keluar saat Rama sudah mengucapkan ijab qobul," ujar Ana sambil tersenyum.

__ADS_1


Nadira tersipu malu ... ia lupa jika dulu saat menikah dengan Edgar juga melakukan adat yang sama.


Nadira memang sudah merasa sedikit rindu, karena selama 2 minggu terakhir ia tidak diizinkan keluar rumah apalagi bertemu dengan Rama.


Dari dalam kamar, mereka dengan jelas bisa mendengar Pak Ustaz memberi siraman rohani terlebih dahulu. Sampai pada akhirnya nadira mendengar...


"Bagaimana para saksi? Sah?"


"Saah...."


Air mata Nadira sedikit menitik haru. Akhirnya ia resmi menyandang status sebagai seorang istri dan kali ini dengan orang yang betul-betul mencintainya. Tak lama kemudian, oma Lily masuk ke kamar untuk menjemput Nadira keluar.


Dengan didampingi Ana dan Oma Lily, Nadira berjalan keluar kamar dengan anggun dan penuh senyuman. Rama yang melihat pujaan hatinya itu menatap penuh dengan tatapan cinta yang mendalam sekaligus kekaguman melihat kecantikan Nadira hari ini.


Nadira langsung duduk di sebelah Rama lalu mencium punggung tangan suaminya sebagai tanda hormat dan bakti seorang istri. Dengan penuh cinta Rama mengecup dahi Nadira kemudian ia memasangkan cincin ke jari manis Nadira.


Selanjutnya acara dilanjutkan dengan sungkeman. Nadira dengan penuh haru memeluk oma Lily.


β€œTerima kasih sudah mau menjadi istri dari anakku dan juga menjadi ibu sambung Ruby.”


β€œInsya Allah akan saya jaga Rama dan Ruby dengan baik, Ma,” kata Nadira.


"Jalani hidupmu yang sekarang dengan sebaik-baiknya, Rama. Mama akan selalu mendoakanmu. Kau anak yang baik. Jangan berbuat kesalahan yang kelak akan merugikan dirimu sendiri ya. Jadilah imam dan kepala rumah tangga yang baik dan bijaksana untuk Nadira dan anak kalian nanti," Oma Lily memberikan petuah.


"Saya janji Mama," jawab Rama mantap.


Setelah semua selesai. Mereka semua bersiap untuk melanjutkan acara di tempat resepsi. Sebelum pergi, Nadira menyelipkan sesuatu di tangan Ana.


"Apa ini, Mbak?" tanya Ana.


"Itu ronce melati. Mitosnya kalau diberi izin meminta ronce melati pada pengantin wanita, yang meminta itu akan segera menyusul. Karena kau ini terkadang sangat menyebalkan dan tidak mau meminta padaku, jadi aku berikan saja, supaya kau dan Bang Nando cepat menikah," bisik Nadira di telinga Ana yang langsung membuat wajah gadis cantik itu memerah seketika karena malu.


Sementara Nadira hanya terkekeh melihat wajah Ana yang sudah memerah seperti kepiting rebus itu. Ia pun segera menyusul langkah Rama menuju ke mobil yang akan membawa mereka ke tempat resepsi.


β€’

__ADS_1


...πŸ€πŸ€πŸ€...


...LIKE.KOMEN.VOTE ...


__ADS_2