
Tujuh tahun pernikahan.
...๐๐๐...
Rama membaringkan tubuhnya perlahan, ia merasa begitu lelah setelah menjalani terapi. Sudah seminggu ini ia tidak melihat kedatangan Nadira. Padahal, ia merindukan Nadira.
''Aku benar-benar harus cepat pulih. Lihat saja jika kaki ku sudah sembuh ... aku tidak akan melepaskannya.'' Ucap Rama melihat ke arah jendela sambil melihat ponsel di tangannya.
Ia tau jika Nadira pasti sibuk mengurus Ruby, dan ia tidak keberatan sama sekali jika Nadira sibuk dengan putrinya ... asalkan jangan sibuk dengan pria saja.
Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk perlahan, dan Susan muncul dibalik pintu dengan senyuman manisnya.
''Sayang ...''
'Haisss wanita ini benar-benar.'
''Bagaimana kabarmu hari ini, Hm ... kau sudah makan?'' Tanya Susan duduk di sebelah Rama.
''Sudah.'' Jawab Rama dengan cetus.
Susan memonyongkan bibirnya. ''Heiii kenapa nada bicara mu seperti itu? Padahal aku sangat merindukanmu. Dan lagi kena sekarang kau tidak mau tidur berdua denganku? Rama ... aku sangat merindukan mu, tidakkah kau merindukanku juga?''
Rama menepis tangan Susan yang berkeliaran di dada bidangnya, lalu menatap menatap Susan dengan intens. ''Entahlah, sepertinya ada rasa benci saat aku melihatmu. Ada sesuatu hal yang membuat aku enggan melihatmu, aku penasaran apa kita benar-benar sudah bercerai?'' tanya Rama pura-pura.
Susan menjadi gugup. ''Ka-kata siapa? Kita itu saling mencintai ... mana mungkin kita bercerai.''
'Wanita ini benar-benar pembohong ulung! Bagaimana bisa dulu aku mencintai dan mengaguminya.'
__ADS_1
''Benarkah?'' Tanya Rama memastikan.
Susan mengangguk yakin. Membuat Rama semakin sebal melihat Susan yang penuh dengan kepalsuan.
''Susan, kau tau konsekuensinya jika kau berbohong padaku, Bukan? aku tidak akan pernah melepaskan mu apa lagi meaafkan mu.''
Glek.
Susan menelan salivanya susah parah, entah mengapa ia menjadi gugup saat Rama menatapnya seperti itu ... tatapan itu seperti mengingatkan dirinya di mana Rama yang dulu.
โข
...โข...
^^^โข^^^
Ke esokan pagi ... di salah satu restoran ternama.
โNyonya.'' Panggil Mira.
''Lama banget sih!''
''Maaf Nyonya, aku harus liat situasi dulu saat pergi. Terlebih akhir-akhir ini Ruby bersama saya. Oh iyaaa, ada apa Nyonya memanggil saya kesini?โ tanya Mira kepada Susan.
โApa Ana masih sering mengawasimu, atau mencurigaimu?โ tanya Susan.
Mira menggelengkan kepalanya. โTidak, sejak Tuan Rama kecelakaan, Ana kan di rumah Nyonya besar terus,โ kata Mira. ''Sedangkan Mbak Nadira pulang pergi karna Ruby maunya sama Mbak Nadira.''
__ADS_1
Susan menghela nafasnya lalu menceritakan semua rencananya kepada Mira. Saat ini ia benar-benar membutuhkan sekutu yang bisa membantunya menghadapi Nadira dan Oma Lili.
"Jadi, sebenarnya Nyonya memanfaatkan amnesia tuan Rama untuk menariknya kembali?"
"Tentu saja, dia itu pengusaha muda yang kaya. Jadi, siapa yang tidak mau menjadi istrinya? Hanya orang yang kurang waras saja yang tidak mau."
โTapi, kenapa Nyonya tidak membuat Nadira celaka saja?โ tanya Mira.
"Aku sudah berusaha menyingkirkannya, tapi entah jimat apa yang dimiliki oleh gadis sok pintar itu. Sehingga dia menjadi begitu beruntung bisa selamat. Bahkan dari kecelakaan yang aku buat."
"Tunggu.'' Mira mengerutkan keningnya. ''Jadi waktu Nyonya minta plat nomer mobil pada saya waktu itu untuk ...''
"Iya, aku yang menyuruh orang untuk menyingkirkan Nadira. Tapi sayangnya malah Rama yang celaka karna bertukar mobil. Tapi, tidak apa-apa ... itu menjadi keuntungan tersendiri untukku.''
Mira diam...
''Jadi begini. Aku memerlukan dirimu untuk selalu mengawasi apa saja yang akan dilakukan oleh Nadira dan Oma Lili. Tolong jaga juga anakku dengan baik."
''Tidak perlu di minta, saya pasti menjaga Non Ruby dengan baik Nyonya. Jadi apa rencananya?''
Susan tersenyum.
Kedua wanita itu terus bicara. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatap penuh senyuman karna berhasil menemukan bukti yang di minta oleh bosnya.
Bawahan Rama pun melangkah pergi setelah merekam segalanya, ia akan segera melaporkan pada Bosnya.
โข
__ADS_1
...๐๐๐...
...LIKE.KOMEN.VOTE...