Tujuh Tahun Pernikahan

Tujuh Tahun Pernikahan
Bab 25 : Katakanlah ia jahat.


__ADS_3

Tujuh tahun pernikahan.


...πŸ€πŸ€πŸ€...


Kadang manusia harus sampai kepada titik kehilangan untuk mengerti arti sebuah kehadiran, kasih sayang, dan kesetiaan... Kehilangan membuat kita belajar untuk menerima dan mensyukuri dengan apa yang masih kita miliki.


Edgar duduk bersedih di depan makam sang Ibu yang baru saja di makamkan, tanahnya masih basah dan berwarna merah ... ia sedih mengapa Ibunya begitu cepat meninggalkan dirinya sendirian di saat hidupnya hancur.


Satu persatu semua orang pergi, hanya tinggal Edgar dan Sandi saja yang masih duduk.


''Sudahlah, ayo kita pulang ... jangan terus bersedih, do'ain aja Ibu supaya amal ibadahnya di terima.''


Sandi membantu sang Kakak untuk berdiri, mereka berdua pun berjalan gontai dengan lutut masih lemas. Setelah beberapa menit, akhirnya mereka sampai di depan rumah mereka, namun Edgar dan Sandi saling pandang melihat jika ada mobil mewah terparkir di depan rumah mereka.


''Ada yang melayat, ayo.''


Edgar dan Sandi melangkah masuk rumah, namun mereka berdua terkejut melihat Nadira duduk di sofa.


''Nadira ... Kamu pulang?'' Edgar bahagia melihat Nadira pulang.


Nadira menoleh dan membuka kecamata hitamnya dan menatap Edgar, ''Tidak, saya nggak pulang! Saya kesini untuk melayat karna saya dengar mantan Ibu mertua meninggal.''


''Nadira ...''


''Aisshh, sudahlah! Jangan menampilkan muka yang menyedihkan seperti itu, karna aku tidak akan luluh apa lagi kasihan. Aku kesini berniat baik untuk melayat dan sekalian memberikan ini.''


Nadira menaruh amplop warna coklat di atas meja.


''Cepat tanda tangani, aku tidak punya waktu lama.''

__ADS_1


''Mbak, bagaimana bisa kamu berubah dalam waktu dekat? Apa kamu nggak kasihan liat kita yang masih berduka.''


Nadira kini melirik Sandi dan terkekeh, ''Aku tidak perduli, toh Kakak mu yang selalu melihatku berduka selama tujuh tahun di siksa lahir batin sama Ibu, dia tidak kasihan tuh sama saya ... Kenapa aku harus perduli sekarang? Lagian aku sudah memaafkan semua kesalahan Ibu kamu yang sudah meninggal, tapi tidak dengan Kakak mu.''


Edgar diam menunduk.


''Tapi Mbak, bagaimana pun dia masih suami mu.''


''Lalu Rima? Hah, jika kau berkata se-enteng itu ... bagaimana dengan Rima yang langsung kau talak, dan merasa jijik berada di sekitarnya.''


Skakmat! Sandi tidak bisa berkata kata.


''Aku tidak akan menceraikan mu.''


Nadira menyunggingkan bibirnya lalu memasukan file itu kedalam tasnya, ''Jadi kau lebih suka aku menggugat mu di pengadian, di bandingkan kau menandatangani ini. Haissshhh, kau bodoh sekali Edgar.''


Edgar langsung mendongkak dan menatap Nadira. ''Jangan, aku mohon jangan lakukan ini Nadira ... kita masih bisa perbaiki semuanya.''


''Tapi aku tidak mau, minggir!'' Nadira akan melangkah, namun Edgar memeluk kaki Nadira hingga Nadira tidak bisa bergerak.


''Lepaskan!''


''Tidak, jangan pergi Nadira ... aku mohon.''


DHUK!


Nadira menendang Edgar hingga Edgar mundur kebelakang.


''Jangan berani menyentuhku! Semenjak kau selingkuh, kita bukan suami istri lagi. Dasar menjijikkan!''

__ADS_1


Nadira pergi dengan cepat, dan Edgar menyusul Nadira ke arah mobil dan mengetuk pintu mobil ... memanggil nama Nadira dengan penuh penyesalan.


Sementara Nadira, ia langsung menelpon seseorang untuk melakukan tugasnya. Ia mau Edgar hancur sehancur hancurnya hingga Edgar tidak memiliki apapun, katakanlah ia jahat! Tapi Edgar dan keluarganya jauh lebih jahat karna sudah menyiksa dirinya lahir batin selama tujuh tahun lamanya.


β€’ β€’ β€’ β€’


Belum sembuh kesedihan Edgar di tinggalkan oleh sang ibu, belum juga sembuh penyesalannya atas kehilangan Nadira. Kini Edgar kedatangan tamu yang mengacak ngacak semua barangnya, bahkan separuh barang yang ada di rumah mereka di lempar begitu kejam oleh sekelompok orang.


''Pak, saya mohon jangan seperti ini Pak!''


''Sudah tidak ada waktu lagi! Kalian harus pergi dari sini.'' Sentak pria berotot seperti pereman, (Orang suruhan Nadira)


''Saya janji akan melunasinya pak, tapi tidak sekarang ... kami baru saja kehilangan Ibu kami dan sedang berduka atas kehilangannya."


''Memangnya kami perduli? Bos kami menyuruh untuk mengusir kalian karna rumah ini akan di jual oleh Bos kami.'' Ucapnya sembari menyeret kerah baju Edgar dan melemparnya keluar dari rumah.


Edgar merasa prustasi, apa lagi semua orang hanya menontonnya saja.


''Kenapa kalian tidak menolongku Hah! Ini bukan tontonan! Pergi kalian.''


''Pergii ...''


Para tetangga yang melihat itu merasa kasihan, tapi apalah daya ... mungkin saja itu karma instan yang harus di terima oleh Edgar atas kesalahannya yang sudah menghianati Nadira, dan menulikan telinganya di saat Nadira selalu mengeluh atas perlakuan Ibunya selama tujuh tahun dalam satu atap.


β€’


...πŸ€πŸ€πŸ€...


...LIKE.KOMEN.VOTE ...

__ADS_1


__ADS_2