
Tujuh tahun Pernikahan.
...πππ...
Setelah sampai di Hotel tempat ia menginap. Susan melempar tasnya dengan kesal.
''Ahhkk sialan!''
Ia benar-benar merasa tidak nyaman saat Nadira yang dia pikir kampung mampu melawan dirinya ketika berdebat. Terlebih Oma Lili mendukung Nadira dalam segala hal.
Susan membaringkan tubuhnya di atas ranjang, melihat langit langit kamarnya. Sungguh ia menyesali telah mengkhianati lelaki tampan dan baik hati yang dulu mencintai dirinya. Tapi, ia merasa kesal karena Rama terlalu lurus dan jujur, dan ia juga tidak pernah aneh-aneh membuat Susan merasa bosan berumah tangga dengan Rama.
Sedangkan ia adalah wanita yang memang memiliki fantasi sedikit liar. Dan keliarannya itu membawa petaka bagi dirinya dan masa depannya ... Setelah ia memutuskan unuk menggugat cerai rama, dia menikah dengan Arya dan hidup di luar negri.
Setelah beberapa tahun menjadi Nyonya Arya, sang suami malah bangkrut dan ia memutuskan untuk menceraikan Arya dan kembali pada Rama demi Ruby dan kesejahteraan masa depannya, karna Rama semakin maju dalam bidang usahanya.
'Bagaimana pun aku harus bisa membuat Rama kembali jatuh ke dalam pelukanku. Kalau bisa kami harus menikah kembali sebelum ingatannya kembali. Jika sudah menikah dia pasti tidak akan tega untuk menceraikan aku, apa lagi ada ruby,' batin Susan.
Wanita itu memang sangat keras kepala dan tidak gampang untuk menyerah. Apapun akan dia lakukan agar tujuannya bisa tercapai.
Susan bergegas membereskan pakaiannya ke dalam koper, ia berencana akan tinggal dengan Rama agar bisa mempercepat niatnya.
β’
...β’...
^^^β’^^^
Ke esokan pagi...
Nadira baru saja menyelesaikan semua pekerjaannya dan ia pun sudah memberikan tugas kepada Mira untuk menjaga Ruby sementara. Dan, ia pun bergegas menuju ke rumah sakit.
Hari ini Rama akan dioperasi. Nadira tidak ingin membuat Oma Lily kecewa. Saat ia tiba di rumah sakit, Oma Lily langsung menyambutnya dengan gembira dan langsung memeluk Nadira dengan penuh kehangatan.
"Akhirnya kau datang juga. Sebentar lagi Rama akan masuk ruang operasi. Kau mau menemuinya terlebih dahulu?" tanya Oma Lily.
Nadira mengangguk. "Boleh, Mama?" tanyanya.
__ADS_1
"Tentu saja boleh sayang. Ayo, ikut Mama."
Rama sudah berada di ruangan steril untuk masuk ke dalam, Nadira harus memakai baju khusus. Susan tampak berada di dalam ruangan sambil menggenggam tangan Rama. Hati Nadira terasa begitu sakit saat melihat pemandangan di depan matanya. Namun, ia berusaha untuk tegar. Terlebih, Oma Lily merangkul bajunya seolah memberinya kekuatan.
"Rama, Nadira di sini," kata Oma Lily.
Rama tersenyum. 'Aku senang kau datang ... kenapa tidak dari tadi sih! Tanganku jadi kotor saat memegang tangan Susan.' Gerutu Rama dalam hati.
"Kau harus kuat, ya. Aku yakin, sehabis operasi dan terapi kau akan kembali sehat. Kaki mu akan cepat sembuh.'' Kata Nadira dengan tulus.
''Ak--''
"Tentu saja dia akan kembali sehat, Nadira. Karena ada aku, istrinya di sini," sahut Susan penuh percaya diri.
Rama menghantupkan kedua giginya saat melihat Susan menjawab Nadira penuh percaya diri. Ia pun melepaskan genggaman tangannya dari Susan dan menarik tangan Nadira.
"Aku memang belum ingat bagaimana kita memulai hubungan. Tapi doakan aku, ya."
'Agar aku bisa cepat menikahimu.'
Nadira menggenggam tangan Rama. "Tentu saja, aku akan mendoakan dirimu. Ya sudah, kami harus keluar, ya. Semangat ...''
"Kau bawa mobil sendiri tadi?" tanya Oma Lily.
βIya, Ma. Aku mengantarkan Ruby dulu baru ke sini,β kata Nadira.
''Oma dan Ana akan mengambil minuman dulu, tunggulah di sini.''
Nadira mengangguk.
Melihat Nadira dan Oma Lily yang tampak akrab membuat Susan tampak iri. "Kau mau terus berada di sini?" tanyanya sinis pada Nadira.
"Aku di sini karena permintaan Mama. Jadi, suka tidak suka ya kau mesti terima."
"Aku ini istrinya Rama."
"Mantan, kalau kau perlu aku ingatkan. Yang amnesia Rama bukan kau," jawab Nadira dengan santainya.
__ADS_1
"Kau!"
Nadira menatap Susan dengan tenang.
"Aku? Kenapa?"
"Kau jangan coba-coba mencari gara- gara denganku, ya. Aku bisa saja menyingkirkanmu!"
"Coba saja, kau pikir ini di mana? Apa di sini bukan negara hukum sehingga kau bisa bebas begitu saja mengancam orang lain?"
"Tidak perlu menggunakan tanganku. Aku bisa membayar orang lain untuk melenyapkan dirimu."
Nadira menatap Susan dari atas sampai bawah. ''Ouhh ... sekarang kecurigaan ku benar rupanya. Jangan-jangan memang benar kamu yang sudah membuat Rama celaka?''
Susan nampak gugup. ''Jangan menuduh tanpa bukti. Yang jelas jika kamu masih mengganggu kehidupan Rama, lihat saja nanti.''
"Kau pikir aku takut? Ingat, saat ini kau bisa saja mengatakan bahwa bukan kau dalang di balik kecelakaan Rama. Sepandai pandainya bangkai pasti akan tercium juga.''
Susan mendelik, ia merasa sangat kesal semua jawabannya dapat dengan mudah dipatahkan oleh Nadira. Apa lagi Nadira memcurigainya.
"Kau ini ternyata pintar bicara juga. Menyebalkan sekali!" ucap Susan.
Kesal karena tidak bisa melawan Nadira, Susan menghentakkan kakinya dan langsung pergi menjauh. sedangkan Nadira tidak peduli ke mana gadis itu akan pergi. Ia kembali fokus pada layar ponselnya, karna Ruby mengirimkan beberapa pesan padanya.
Kemudian ia pun duduk menunggu dengan tenang. Tak lama kemudian, Ana dan Oma Lily datang dengan beberapa botol minuman dan mengulurkan sebotol air mineral dingin kepada Nadira.
"Terima kasih, Ma."
"Ke mana, Susan?"
"Tadi dia pergi entah ke mana, mungkin kesal pada saya."
"Jangan terlalu didengarkan ucapan wanita itu, ya. Dia menang begitu, sejak dulu selalu sedikit kurang sopan dan bicaranya sering kali pedas. Entah mengapa dulu Rama mencintainya," kata Oma Lily.
"Betul Mbak, aku saja tidak terlalu suka dengan gayanya yang sok artis dan sok cantik itu," kata Ana.
β’
__ADS_1
...πππ...
...LIKE.KOMEN.VOTE...