
Tujuh tahun pernikahan.
...πππ...
Rumah sakit.
''Bagaimana? Apa yang sudah kau temukan.''
Orang suruhan Rama memperlihatkan leptop miliknya, lalu memperlihatkan bukti yang ia dapatkan. Dimana sebelum kejadian kecelakaannya ada orang misterius datang ke kantor, bahkan bertubrukan dengan Nadira.
Di susul bukti dari basment kantor, di mana orang itu merusak mobil yang di pakai Rama. Dan besar kemungkinan orang itu mengincar Nadira.
Rama mengepalkan kedua tanganya ... sudah jelas ia tau pasti Susan adalah dalang di balik semua ini. Untuk itu, Rama sudah membuat rencana di mana dia memang pura-pura amnesia sementara untuk mengumpulkan bukti agar ia bisa menjebloskan mantan istrinya ke dalam penjara.
Ia curiga mengapa Susan datang lagi dan mengganggu kehidupannya, dan setelah di selidiki ... Ia sudah bercerai akibat suaminya bangkrut dan Susan ingin kembali padanya dengan dalih ia adalah ibu kandung dari putrinya.
''Cari pria yang ada di video ini sampai dapat!''
''Baik, Bos.''
Setelah kepergian anakbuah nya, Rama mengambil ponsel dan melihat poto kebersamaan dirinya dan Nadira beserta Ruby.
''Maafkan aku, untuk beberapa hari terakhir ini kau harus menguatkan hati. Ini demi kebaikan kita, agar Susan tidak pernah mengganggu hubungan kita di masa depan.''
β’
...β’...
^^^β’^^^
Ke esokan pagi...
"Kamu masih di sekolah Ruby, Nak?" tanya Oma Lili di sebrang telpon.
"Sudah mau pulang, Oma." Jawab Nadira.
"Setelah mengantarkan Ruby ke rumah ... kemarilah dan temani Rama. Kau harus dekat dengannya jika mau dia kembali sembuh dan mengingatmu.''
Nadira menghela napas panjang, ia ingin menolak. Rasanya ia tidak sanggup jika harus kembali menerima penolakan dari Rama seperti sebelumnya. Tapi ia tidak punya pilihan lain.
"Baiklah Oma, aku akan ke rumah sakit. Tapi, sebelumnya Nadira mau ke toko kue Tip Top dulu, Oma.''
__ADS_1
''Iya ... hati hati, Nak.''
Nadira pun mampir ke toko kue, lalu mengantarkan Ruby ke rumah terlebih dahulu ... setelah semua beres, Nadira pergi ke rumah sakit untuk melihat perkembangan Rama.
Beberapa menit di perjalanan...
Nadira pun langsung berjalan menuju kamar tempat Rama di rawat. Entah mengapa hati Nadira terasa berdebar-debar.
''Kenapa tiba-tiba perasaan aku nggak enak yaaa?'' cicit Nadira menghentikan langkahnya.
Nadira menghela nafas lalu mempercepat langkahnya, namun saat tiba di kamar perawatan Rama. Nadira harus melihat sesuatu yang membuat perasaannya jungkir balik seketika ... Bagaimana tidak, ia melihat Rama sedang memeluk seorang gadis dengan begitu mesra.
"S-Susan?"
Pelukan keduanya pun langsung terlepas saat mendengar suara Nadira.
Nadira menatap gadis yang berdiri di samping ranjang. "Bukannya besok kamu baru datang?" tanya Nadira heran.
"Iya, aku mempercepat kedatanganku." Jawab Susan, merasa di atas awan.
Rama melirik Susan, lalu melirik Nadira bergantian. "Khem! Kenalkan ini Nadira, Nadira ini Susan."
"Hai, aku Susan, istri Rama." Susan menyapa Nadira dengan ramah, sedangkan Nadira langsung berbuka masam.
''Ouhh masa sih? Kapan terakhir kali kita bertemu? Ahh ... Aku ingat. Sewaktu di sekolah Ruby, dan aku bertanya bagaimana perkembangan Ruby kan?''
Nadira bercecih, lalu menatap Rama. ''Aku bawakan kue kesukaan mu.'' cetus Nadira.
''Kue apa itu?'' Susan nimbrung.
''Eh! Ini kue untuk orang sakit. Apaan sih, klau mau beli donk sendiri ... nggak modal banget.''
Susan langsung memonyongkan bibirnya, lalu melihat Rama dengan manja.
''Sayang ... bole---''
''Susan! Aku sudah disini ... lebih baik kau pulang saja, aku yang akan mengurus Pak Rama.''
Susan menautkan kedua alisnya sambil menatap Nadira. "Aku? Kenapa harus aku? Aku kan sengaja datang ke sini karena menjenguk suamiku. Apa kau lupa?"
"Apa aku harus membuka aibmu di sini? Sekarang?" tanya Nadira dengan sinis. Susan langsung memicingkan matanya.
__ADS_1
"Kita harus bicara," kata Susan langsung menarik tangan Nadira ke luar, sedangkan Rama menyunggingkan bibirnya melihat mantan dan calon istrinya akan berkelahi.
'Kau harus terbiasa melawan Nadira, jangan mau orang lain mengambil hak mu.'
''Wahhh kue ini sangat enak.'' Ucap Rama sambil memasukan kue kedalam mulutnya.
Sedangkan di luar ruangan.
"Kau sudah tidak waras?!" bentak Susan.
Nadira melipat kedua tangannya di dada. "Kau ke sini hanya karena Rama amnesia, bukan untuk kembali menjadi istrinya. Apa kau lupa kalau dulu kau yang sudah mengkhianati Rama?"
Susan terkekeh. ''Apa masalahnya jika aku memanfaatkan amnesia Rama agar aku bisa kembali padanya, Aku sudah bilang jika aku tidak mau kau menjadi Ibu sambung dari anakku. Kau itu tidak pantas.''
''Lalu, siapa yang pantas? Kau! Ha ha ha ... Wanita macam keripik singkong modelan seperti mu juga tidak pantas menjadi Ibu kandung Ruby.''
''Ka--!''
"Dasar tidak tau malu! Aku tidak mau tau, lebih baik kau sekarang pergi ke hotel atau ke mana saja, aku malas melihat wajahmu!" hardik Nadira.
"Enak saja, aku tidak mau. Kau itu siapa? Hanya seorang pengasuh, tidak usah belagu," kata Susan dengan gaya tengilnya dan langsung melangkah masuk.
Nadira mengepalkan kedua tangannya melihat hal itu, ia pun langsung menyusul masuk ke dalam. Dan melihat Rama sedang memakan kue yang dia bawa.
"Kuenya enak, rasanya aku pernah memakannya, tapi aku lupa," kata Rama pura-pura.
"Sayangku ... biasanya kamu nggak suka kue murah kaya gini, Sayang," sahut Susan sambil berusaha mengambil kue di tangan Rama. Namun, Rama menepiskan tangan Susan.
"Kue ini enak. Kalau kau mau, ambil saja di meja. Tuh, masih ada," kata Rama. Kemudian ia pun kembali memakan kue yang dibawa Nadira dengan enaknya.
Hal itu tentu membuat Nadira senang dan mengejek Susan. ''Mbleee.''
"Nadira, kemarin mamaku bilang kau adalah perawat Ruby dan kau tinggal di rumahku. Apa benar begitu?" tanya Rama.
Nadira mengangguk, "Iya, aku bekerja denganmu."
"Kita dekat?" tanya Rama.
"Tentu saja, Sayang. Kau sering menceritakan tentang Nadira kepadaku. Kau bilang dia adalah sahabatmu, makanya kau menolongnya karena dia janda," sahut Susan berdusta membuat Nadira mendecih.
β’
__ADS_1
...πππ...
...LIKE.KOMEN.VOTE...