
Tujuh tahun pernikahan.
...πππ...
Edgar turun dari mobilnya dan masuk kedalam rumah, namun ia sedikit tertegun melihat sang Ibu yang tengah membersihkan kekacauan rumah sambil menggerutu di setiap langkahnya.
''Ibu ...'' Panggil Edgar.
Ibu Mumun menoleh, yang mana membuat Edgar langsung menghampiri dan memeluk Ibunya.
''Ibu sudah pulang ... Ibu sudah sembuh?''
Ibu Mumun memeluk sejenak anaknya lalu melepaskan pelukannya.
''Kapan Ibu sakit? Bukankah Ibu kata jika Ibu tidak gila! Eishh ... lupakan! Kemana menantu kurang ajar itu! Kenapa dia tidak membereskan rumahku. Lihatlah, rumah ini seperti gudang yang sudah puluhan tahun tidak di bersihkan.''
Edgar diam, ia tidak tau ingin menjelaskan dari mana.
''Edgar! Kenapa bengong. Mana Nadira?''
''Nadira pergi dari rumah Bu.''
''Apa! Kok bisa.''
Edgar menghela nafasnya, lalu mengajak sang Ibu untuk duduk dan menceritakan segalanya ... apa yang sudah terjadi pada karirnya dan juga rumah tangganya, bahkan menceritakan jika rumah ini sudah di jual oleh Rima. Namun Edgar tidak menceritakan tentang perselingkuhannya dengan Rima.
Ibu Mumun begitu shock saat mendengar jika Nadira sudah menghancurkan karir anaknya, apa lagi mendengar jika Rima menantu kesayangannya menjual rumah ini. Awalnya dia tidak percaya jika menantu yang dia banggakan bisa melakukan ini semua padanya, namun Edgar memperlihatkan bukti padanya hingga ia tidak bisa berkata kata.
''Apa salahku ya Tuhan ... Kenapa semua menantuku tidak ada yang beres! Yang satu kurang ajar, yang satu tidak tau diri.'' Keluh Ibu Mumun yang tidak menyadari kesalahannya selama ini.
''Dimana adikmu?''
''Sandi pergi Bu, dari kemarin belum pulang ... Tadi Edgar bertemu sama Nadira dan mengobrol.''
''Apa katanya?''
''Dia mau ngasih uang, asal Edgar tanda tangani surat cerai yang akan dia kirim ke sini.''
Ibu Mumun diam, ia heran dari mana Nadira memiliki uang sebanyak itu untuk menebus rumah ini.
__ADS_1
''Yasudah Edgar, lebih baik seperti itu! Ceraikan saja dia, Ibu 'kan sudah pernah bilang dari dulu jika Nadira itu tidak beres! Kamu ngeyel banget pengen kawin sama dia.''
''Tapi Edgar nggak mau cerai sama Nadira Bu, Edgar sangat mencintainya.''
TUING!
Ibu Mumun mentoyor kepala anaknya.
''Apa kamu bodoh! Kalau kamu mencintainya, mana mungkin kamu mau selingkuh di belakang si Nadira!''
Edgar terdiam, ia juga bingung kenapa ia bisa selingkuh dari Nadira yang menurutnya begitu sempurna.
Ketika mereka saling diam, suara ketukan pintu mengejutkan mereka.
Edgar dan Ibunya saling pandang, lalu Ibu Mumun mengintip siapa yang mengetuk pintu. Seketika raut wajah Ibu Mumun langsung ketakutan, membuat Edgar mengerutkan keningnya heran.
''Ada apa bu?''
''Ada perawat rumah sakit jiwa! Ibu nggak mau balik lagi ke sana, Ibu itu nggak gila Edgar.''
Edgar mengintip, lalu melirik sang Ibu.
''Trus harus gimana, Bu?''
Edgar membuka pintu, ''Siapa yaa?''
''Selamat sore Pak Edgar, kami kesini untuk mengabari jika Ibu anda sudah kabur dari rumah sakit. Apa dia kesini?''
Edgar menggelengkan kepalanya, ''Tidak ada di sini, bagaimana Ibu saya bisa kabur? apa kalian tidak becus menjaganya.'' Edgar pura-pura marah.
''Maafkan kami Pak, kami sudah lalai.''
''Saya tidak mau tau, cepat cari Ibu saya sampai ketemu! Kalau tidak, saya akan tuntut kalian.''
BLAAM!
Edgar menutup pintu dengan kencang, membuat dua perawat saling pandang dan mengangguk.
''Bu, mereka sudah pergi.''
__ADS_1
Ibu Mumun segera keluar dari kamarnya, ''Ahhh, syukurlah ... Ibu nggak mau kembali lagi ke sana Edgar.''
''Iya, Bu. Edgar juga nggak mau di tinggal Ibu.''
BRAAAK!
Pintu di dobrak oleh kedua perawat itu, yang mana membuat Ibu Mumun dan Edgar terkejut.
''Cepat bawa dia.''
''Tidak! Aku tidak mau.''
''Hei! Jangan bawa ibuku.''
''Pak, saya mohon jangan melawan, ini demi kebaikan bersama. Ibu anda masih dalam fase penyembuhan.''
''Edgar, tolong Ibu Nak.''
''Tapi Ibu sudah nggak gila, saya mohon lepaskan.''
''Jika anda mau, anda bisa berbicara pada atasan kami! Kami hanya menjalankan tugas.''
''Edgar ... ibu tidak gila!''
''Edgar!''
Kedua perawat itu menyeret Ibu Mumun dengan paksa, Edgar tidak bisa berbuat apa apa selain melihat ibunya di bawa pergi.
Edgar mengacak ngacak rambutnya, ia tidak menyangka jika hidupnya yang damai kini berantakan dan tidak karuan. Ia merasa sendiri sekarang, tidak ada yang menguatkan dirinya ... entah itu dari istri, ibu, atau adiknya. Semua orang meninggalkan dirinya dengan keadaan terpuruk.
Ibu Mumun yang di seret paksa terus memberontak, hingga ia bisa terlepas dan berlari ke arah jalan untuk kabur. Namun Ibu Mumun tidak melihat jika dari arah kanan ada sebuah truk yang melaju kencang.
BRAAAKK!
''IBU ...''
Edgar berteriak karna terkejut melihat ibunya tertabrak truk hingga terpental jauh.
β’
__ADS_1
...πππ...
...LIKE.KOMEN.VOTE...