
Tujuh tahun pernikahan.
...πππ...
Oma Lili membawa Nadira ke Cafeteria yang ada di rumah sakit. Oma Lili sengaja membawa Nadira yang terlihat masih emosi saat berdebat sudah dengan Susan.
''Di minum Nak, Susunya nanti dingin. Oma tau kamu malas bertemu Susan apa lagi berdebat tiada habisnya, tapi Oma juga tidak bisa berbuat apa apa jika menyangkut Rama.''
Nadira memaksakan senyumnya.
"Tidak apa apa, Ma. Bukan aku tidak mau menjaga Rama. Tapi, melihat Susan ... jujur saja Nadira merasa tidak enak hati. Seperti ada amarah di dalam hati melihat Ayahnya Ruby berduaan bersama Mantan istrinya. Terasa ada yang membeludak tapi tidak bisa di katakan,'' Kata Nadira bermelong diri.
Nadira menghela napas, kini kedua netranya tampak berkaca-kaca. entahlah ... Nadira merasa cengeng akhir-akhir ini saat ia teringat bagaimana Rama bisa kecelakaan. "Saya menyesali satu hal itu, Ma. Seharusnya saya yang celaka, bukan Rama. Saya minta maaf," kata Nadira dengan tulus.
Oma Lily menghela napas panjang, "Tidak ada yang menyalahkanmu, Nadira. Memang sudah takdirnya harus begini. Siapa sih yang mau celaka atau mendapatkan musibah? Mama mengajak mu kemari karena Mama ingin mengenalmu lebih dekat. Jujur saja, Rama pernah bercerita bahwa ia sedang mengejar cinta seorang wanita. Dan mama merasa heran, karena selama ini Rama belum pernah mengejar seorang wanita. Jika dia sampai melakukan hal itu, artinya kau adalah wanita yang istimewa. Selama ini, mama hanya mengawasimu dari jauh. Tetapi, mama tau jika kamu wanita yang baik."
Nadira menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
__ADS_1
βSaya janda, mandul pula,β lirih Nadira.
βYang paling penting anak dan cucuku nyaman bersamamu, Nak. Aku sendiri melihatmu sebagai wanita yang baik. Aku yakin kau akan menjadi istri dan ibu yang baik. Aku mohon jangan mundur hanya karena batu kerikil seperti Susan.β
Oma Lily menggenggam tangan Nadira sambil tersenyum membuat Nadira merasa mendapatkan kekuatan baru.
βBaik, Ma. Saya akan berjuang untuk mendapaykan pak Rama dan Ruby,β jawab Nadira.
Oma Lily menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
"Mama tidak pernah menginginkan mereka untuk bersatu kembali. Kenapa dia tidak amnesia total saja sekalian, begitu jauh lebih baik dari pada mengingat setengah-setengah." keluh Oma Lili.
"Jika dia melupakan semuanya, akan jauh lebih baik, Dira. Ahh lupakan! Lusa Rama akan menjalani operasi pada kakinya. Setelah itu dia bisa memulai terapi hingga kembali normal. Apa kamu bisa datang saat Rama akan menjalani operasi? Katakan pada Ruby jika kau harus menemani Oma. Biar dia bersama Mira dulu."
"Baik, Ma."
"Satu lagi, apakah kau mencintai Rama?"
__ADS_1
Nadira menghela napas panjang."Tadinya saya ragu, tapi sekarang saya yakin untuk menerima cinta mas Rama.β
"Kalau begitu, berjuanglah atas nama cinta. Karena cinta tidak akan pernah salah, Dir. Mungkin ingatan Rama saat ini tidak dapat mengingat dirimu. Tapi, hatinya akan selalu mengingat dirimu."
"Baik, Ma. Saya akan berjuang atas nama cinta."
Keduanya mengobrol tanpa tau jika Rama tidaklah amnesia, Rama hanya berpura-pura.
"Kita ke kamar Rama kalau begitu, dia tadi hanya ditemani oleh suster.''
''Aku pulang saja Oma, ini sudah malam kasian Ruby.''
Nadira dan Oma Lili akhirnya perpisahan.
β’
...πππ...
__ADS_1
...LIKE.KOMEN.VOTE...