Tujuh Tahun Pernikahan

Tujuh Tahun Pernikahan
Bab 22 : Kabur...


__ADS_3

Tujuh tahun pernikahan.


...πŸ€πŸ€πŸ€...


Pagi hari ... Nadira membuka kedua matanya, ia tersenyum dan menggeliatkan tubuhnya lalu berguling guling di atas tempat tidur yang sangat empuk.


''Ahh ... nyaman nya, kenapa nggak dari dulu aku nginep dihotel mewah. Nyiksa diri banget aku kumpulin uang buat beli rumah ditempatin berdua sama Edgar pula, ihhh ... nyesel tujuh turunan aku punya pikiran ke sana.''


Nadira terus menggerutu sambil berguling guling di atas kasur, lalu Nadira menyambar ponselnya yang ada di atas nakas dan mengaktifkan ponsel itu, karna semenjak Nadira pergi dari rumah Edgar ... Nadira sudah tidak lagi memainkan ponselnya.


Tak lama seseorang mengetuk pintu, di mana pelayan hotel mengantrkan menu sarapan untuk Nadira.


Nadira bangun dari ranjang lalu memberikan tips untuk pelayan hotel, setelah itu ia duduk di kursi sambil menikmati sarapan yang mewah.


Terlihat di layar notifikasi ada puluhan panggilan yang tidak terjawab dari Edgar, lalu ada puluhan pesan permohonan maaf dan ingin bertemu. Nadira menggidikkan bahunya tidak perduli, ia bisa keluar dari rumah neraka saja sudah membuat Nadira bahagia.


Taklama Edgar menelpon dirinya, yang mana membuat Nadira diam sejenak untuk menimbang apakah dia haus menjawab telpon dari suaminya.


Dengan pertimbangan yang matang, akhirnya Nadira menjawab telpon dari Edgar.


(Hm.)


Lama diam tidak bersuara. (Nadira, sayang ...)


Nadira yang mendengar panggilan itu mencibikkan bibirnya, mengutuk Edgar dengan kata kata kasar.

__ADS_1


'Bagaimana seseorang tidak punya rasa malu.' gerutu Nadira.


(Kenapa.) tanya Nadira dengan nada malas.


(Kamu di mana? Kenapa belum pulang, aku merindukanmu.)


Preeett.


(Aku nggak mau pulang dan nggak akan pernah pulang! Aku nyaman di sini.)


(Memangnya kamu di mana?)


(Hotel)


Edgar diam tidak bersuara. (Sendirian?)


(Nadira, sayang ... jangan bercanda.) Edgar sedikit meninggikan suaranya.


(Heh, aku tidak bercanda kali ... Aku juga ingin merasakan bagaimana tidur di hotel bersama seorang pria yang bisa memuaskan hasratku! Memangnya kau pikir hanya kamu yang bisa menyewa pe la cur? aku juga bisa Edgar.)


(Nadira ...) Edgar mencoba sabar menghadapi Nadira, namun kesabarannya itu di uji ketika ia mendengar Nadira tengah berbicara dengan seseorang.


(Aaahhkk ... baby, itu sangat geli! Jangan sebelah sana hmmm aahhkk.) Nadira mencoba untuk membuat Edgar marah, dengan berpura-pura seakan dirinya tengah melakukan hal yang tidak pantas.


Edgar mengepalkan tangannya manahan amarah. (Nadora ayo kita bertemu, kita bisa bicarakan semua dengan kepala dingin.)

__ADS_1


(Aku belum ada waktu, nanti saja yaa.)


(Nadira aku mohon, ada sesuatu hal yang harus kamu tau.)


Nadira diam sejenak. (Baiklah, ingin bertemu di mana?)


(Di restoran xxx.)


(Baik, aku akan datang ke sana nanti.)


TUT.


Nadira mematikan sambungan nya dengan sepihak, membuat Edgar yang berada di ujung telpon sana mengepalkan kedua tanganya karna merasa jika Nadira benar-benar sudah berubah.


Di sisi lain, para perawat rumah sakit iiwa tengah mencari Ibu Mumun yang menghilang entah kabur ke mana. Semua sudut sudah mencari hanya saja Ibu Mumun belum di temukan.


Sedangkan ibu Mumun sendiri baru saja berhasil kabur dan sekarang ia sedang berjalan untuk pulang ke rumahnya.


Ibu Mumun merasa bahagia, karna ia bisa lepas dari rumah yang akan membuatnya hilang akal. Lalu akan memberikan pelajaran pada menantunya.


''Nadira ... Tunggu saya pulang! Akan ku bunuh kau.''


β€’


...πŸ€πŸ€πŸ€...

__ADS_1


...LIKE.KOMEN.VOTE ...


__ADS_2