
Tujuh tahun pernikahan.
...πππ...
Rama masuk kedalam kamar hotelnya, sambil memijat keningnya yang terasa pening. Semenjak ia bercerai dengan mantan istrinya, Rama tidak lagi tertarik dengan seorang wanita ... bukan! Bukan dia yang tidak tertarik, tapi adik kecilnya yang tidak mau bangun.
Rama membuka kancing kemejanya lalu melemparkan baju itu ke atas ranjang, ia akan membersihkan tubuhnya dari keringat seharian. Ketika Rama melangkah ke kamar mandi, Ia di kejutkan ketika pintu kamar mandinya terbuka dan menampilkan seorang wanita cantik hanya memakai handuk saja.
Nadira ... ia mematung ketika melihat seorang pria tampan tanpa menggunakan baju dan memandangnya
''AAHHHKK!'' Keduanya berteriak karna terkejut.
Nadira menutupi bahu dengan kedua tangannya.
''Siapa kau!'' Sentak Rama.
''Kau yang siapa! Kenapa bisa masuk ke kamarku.'' Nadira tidak kalah galak.
''Ini kamar ku! Enak saja kamar mu.'' cetus Rama.
''Kamarku!''
''Kamarku!''
Keduanya tidak ada yang mau mengalah, hingga Rama berjalan dengan cepat ke arah pintu. Ia ingin memastikan jika ini adalah kamarnya.
''379. Ini kamarku!''
Nadira yang penasaran langsung melangkah dengan lebar untuk memastikan. Lali melihat nomer pintu, namun tanpa sengaja kulit tangan Nadira bersentuhan dengan dada Rama.
Rama langsung menoleh ke arah Nadira, ia seperti tersengat listrik beberapa detik saat kulit Nadira bersentuhan dengan kulitnya.
__ADS_1
''Iyaa ini kamarku, Kok! Tadi aku masuk ke sini.'' Nadira menoleh ke arah Rama, tapi Nadira terpaku karna kedua mata mereka saling tatap satu sama lain.
DEG.
''Aahh, awas ahh ... udah jelas jelas ini kamarku! Kamu saja yang mesum.'' cetus Nadira, sambil mendorong Rama dan masuk kedalam.
Rama yang tersadar langsung menahan pintu agar tidak terkunci dan masuk kedalam. Menarik tangan Nadira untuk menjelaskan, Namun ia terlalu kuat menarik tangan Nadira hingga Nadira menubruk dada bidangnya.
Kedua mata Rama melotot saat ada sesuatu yang kenyal menempel di dadanya.
'Apa ini? hangat sekali ... dan, lembut.'
''Ahhhkk ... handukku jatuh! Jangan Lihat.'' Nadira menutup kedua mata Rama, lalu mengambil handuknya yang jatuh.
Nadira segera memakainya.
''Kau benar-benar pria mesum! Keluarrrr ...''
''Keluar kemana? jelas-jelas ini kamarku.'' Jawab Rama dengan cetus, 'Perasaan apa ini ... kenapa,' Rama melihat ke arah bawah, di mana sang adik yang secara ajaib bangun dari tidur panjangnya dan berkedut kedut manjah...
'Ada apa dengan pria ini, apakah dia benar-benar pria cabul yang menyelinap ke kamarku.'
Nadira berlari dan memanggil resepsionis, untuk segera ke kamarnya karna ada seorang pria cabul yang masuk begitu saja ... Rama sudah menjelaskan mungkin mereka salah paham, namun Nadira tidak percaya dan masih mencurigai Rama.
Hingga tidak butuh waktu lama, resepsionis dan dua scurity datang dan meluruskan kesalah pahaman antara Nadira dan Rama ... di mana ia salah memberikan kunci pada Nadira, yang seharusnya Nadira berada di kamar sebelah.
Rama pun menyuruh mereka pergi, kini tinggal Rama dan Nadira saja.
Nadira terkekeh, ''Bukan salahku 'kan, itu salah petugas hotelnya. Kalau begitu saya pergi dulu ke kamar sebelah.'' Nadira akan pergi, namun Rama menghentikannya.
''Hei, berhenti!''
__ADS_1
Nadira menoleh. ''Kenapa?''
''Aku perlu memastikan sesuatu.''
Kening Nadira mengkerut bingung, "Hah, memastikan apa?''
Tiba-tiba tanduk di kepala Rama muncul dengan senyuman menyeramkan, membuat Nadira menelan salivanya ketika Rama melangkah ke arahnya dengan perlahan.
'Aku ingin menyentuh gundukkan itu. Aku tidak mau kehilangan wanita ini, karna hanya dia adik kecilku bisa bangun dari tidurnya.' Tangan Rama, mencoba untuk menggapai sesuatu.
'Bapak ... tolong! Dia benar-benar pria cabul.'
''Tunggu, jangan mendekat! Sebenarnya apa mau mu.''
''Temani aku sebentar.'' Ucap Rama yang membuat Nadira shock setengah modar.
''Kau pikir kamu ini siapa! Enak saja minta aku temani, kalau kamu kesepian! Kamu bisa pergi ke kebun binatang. Siapa tau di sana ada yang mau menemani dirimu.'' Ucap Nadira bersungut-sungut.
Ketika Nadira akan pergi, lagi dan lagi Rama menarik tangan Nadira dan memeluknya dengan erat. Membuat Nadira terdiam kaku seperti patung.
'Aroma tubuh wanita ini sangat harum ... ahhkk, kenapa dia semakin menegang.' Rama mengendus pucuk kepala Nadira dengan dalam.
Nadira yang benar-benar kesal langsung mendorong tubuh rama, dan...
BUUGGHH!
''Ahhh ... Adik kecilku.'' Rama meringis kesakitan saat merasakan jika dua telur puyuh miliknya pecah berkeping-keping. π
''Rasakan itu! Dasar pria cabul.''
β’
__ADS_1
...πππ...
...LIKE.KOMEN.VOTE...