
Tujuh tahun pernikahan.
...πππ...
Rama berada di ruang kerjanya, ia melihat file yang berisi informasi tentang Nadira. Ada sedikit rasa iba ketika nasib rumah tangga Nadira tidak jauh berbeda dengan dirinya, di mana sang istri mengkhianatinya dulu.
Rama dan mantan istrinya dulu saling mencintai, namun cinta yang Rama miliki terlalu besar untuk mantan istrinya ... sehingga ia terlalu posesif dan takut kehilangan. Rama pikir dengan ia memberikan segalanya untuk istrinya, maka sang istri tidak akan pernah meninggalkan dirinya. Namun se-iringnya waktu berjalan, cinta yang di miliki sang istri perlahan pudar di saat ia tidak sengaja memperkenalkan rekan kerjanya pada sang istri.
Istrinya dan rekan kerja Rama menjalin cinta, bahkan sampai bermain ranjang, hingga suatu hari Rama mengetahui perselingkuhan sang istri dan ia merasa jijik melihat istrinya bermain kuda kudaan bersama pria lain ... hingga membuat pusaka Rama sendiri tidak bangun lagi.
Sudah tiga kali puasa, tiga kali lebaran ... Rama tidak pernah menyentuh yang namanya seorang wanita, bukan karna ia tidak berminat. Namun sang pusaka memang tidak bisa bangun lagi, dan puji syukur untuk ke empat kali puasa akhirnya Tuhan mengirimkan seorang wanita yang membuat pusakanya bisa di hidupkan kembali tanpa menyentuhnya sekali pun.
Ketika Rama sedang fokus dan mengenang masalalu, ponselnya berbunyi dan tertera nama sang Ibu di layar ponsel.
(Hollo, Mah.)
(Kau di rumah?) tanya Ibunya Rama.
(Ya, Ma.)
(Siapa wanita itu? Apa dia baik, cantik, penyayang?)
(Maa ... aku baru mengenalnya, jangan mengacaukan segala yang sudah aku susun.)
(Baiklah ... Mamah tidak akan ikut campur, yang jelas jika kamu menyukainya dan dia sayang sama cucuku, Mama setuju saja asalkan kalian bahagia.)
(Baiklah Mah, Nanti Rama kabari lagi.)
Sambungan pun terputus, Rama memanggil kepala pelayan untuk melihat Nadira apakah dia berhasil menidurkan Ruby atau tidak.
__ADS_1
β’
...β’...
^^^β’^^^
Nadira dengan senang hati membacakan buku dongeng untuk Ruby ... entahlah, sejak pertama kali melihat Ruby waktu itu. Hati Nadira sedikit menghangat dengan perasaan yang tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata.
Nadira melihat Ruby yang sudah terlelap tidur, ia menutup buku dan menaruh buku itu di samping tempat tidur. Nadira membenarkan anak rambut Ruby dengan perasaan hangat, rasa yang ia rasakan besar kemungkinan karna Nadira ingin memiliki anak, tapi ia sadar diri jika ia tidak bisa memiliki keturunan.
''Selamat malam, Ruby.''
Nadira turun dari atas ranjang dengan perlahan, lalu keluar dari kamar Ruby.
''Nona.'
''Astagfirullah!'' Nadira terkejut, ketika di belakangnya ada orang.
''Ahh, baiklah.'' Nadira mengikuti pria itu menuju ruang kerja Rama.
''Silahkan masuk Nona.''
Nadira mengangguk dan mengetuk pintu.
''Masuklah.''
Nadira membuka pintu lalu masuk kedalam, ia melihat Rama yang sedang duduk di kursi kerjanya.
''Ruby sudah tidur, aku mau pulang.''
__ADS_1
Rama melihat Nadira, lalu berdiri menghampiri Nadira.
''Kenapa kau ingin pulang? Bukankah kau dari kampung ingin bekerja?''
''Maksudmu?''
Rama menghela nafasnya, sambil memasukan kedua tanganya di dalam saku lalu berkata. ''Tinggalah di sini bersamaku, Khem! Maksudku, jadilah pengasuh untuk Ruby dan aku akan memberikan mu gaji yang tinggi.''
Nadira diam sejenak. ''Memangnya kau berani bayar aku berapa?''
Rama menyunggingkan bibirnya, lalu memepet Nadira hingga Nadira mundur dan tersudutkan di sisi tembok. ''Kau ingin berapa? katakan saja dan aku pasti setuju.'' Bisik Rama, membuat Nadira menelan ludahnya susah payah.
'Sadar Nadira, kau baru sebulan lebih jadi janda. Masa kau tergoda... tapi kenapa dia sangat tampan.'
''Ada apa hmm ... apa pikiran mu sedang melayang?'' Bisik Rama dengan sensual.
Nadira panik.
''Menjauhlah dariku! Atau aku akan berteriak.''
''Berteriaklah.''
''Tolo-- Ummm ...''
Rama membungkam Nadira dengan ciuman, hingga Nadira tidak bisa berteriak.
'Um ... rasa yang aku rindukan.'
β’
__ADS_1
...πππ...
...LIKE.KOMEN.VOTE ...