Tujuh Tahun Pernikahan

Tujuh Tahun Pernikahan
Bab 48 : Nadira bertekad.


__ADS_3

Tujuh tahun pernikahan.


...πŸ€πŸ€πŸ€...


Ana menghela napas panjang lalu menganggukkan kepalanya


"Oma sudah menelepon Susan. Dia akan datang ke sini."


Nadira termangu, ia berusaha menenangkan dirinya. Perlahan ia menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan perlahan.


"Kenapa ini harus terjadi," gumam Nadira seperti ditujukan kepada dirinya sendiri.


"Takdir. Ada kalanya kita tidak bisa mengubah takdir. Kau harus kuat dan tegar. Kau bisa bertahan, Nadira. kamu ini wanita yang pintar. Oma tau kalau kau adalah wanita yang kuat dan berani. Tolong jangan menyerah untuk Rama. Kecuali kau rela dia bersama wanita lain yang sama sekali tidak pantas untuk mendampinginya."


"Lalu bagaimana dengan mu, Oma?"


Oma Lili mendecih. "Oma jelas tidak mau Susan di sini. Tapi, keinginan Rama untuk bertemu Susan juga tidak bisa dicegah."


"Apa yang kalian katakan saat dia bertanya bagaimana dia bisa berada di rumah sakit?"


"Soal itu dokter yang menceritakan kepadanya. Hanya memang dia mengatakan bahwa dia tidak tau bagaimana kecelakaan itu terjadi."


"Apakah dia akan mengingat semuanya kembali, Oma?''


"Dokter bilang bisa. Hanya saja tidak tau sampai kapan dia seperti ini. Ada beberapa kasus di mana ingatan seseorang itu tidak pernah kembali lagi. Tapi, sekalipun dia tidak bisa mengingat dirimu di hari kemarin. Maka, dia akan mengingat dirimu di masa sekarang dan kau pasti bisa mengetuk pintu hatinya supaya ia bisa kembali menatap dirimu penuh cinta. Percayalah, cinta tidak akan salah, Nadira. Dia pasti akan kembali pada sang pemilik hati."


Nadira memicingkan matanya dan menatap Oma Lili.

__ADS_1


Sedangkan Rama yang terbaring di atas brangkar tidak memperdulikan omongan antara dirinya dan Oma Lili. Oma Lili perlahan menghampiri Rama.


"Rama, kamu benar-benar tidak mengenali Nadira?" tanya Oma Lily memastikan.


Rama menggelengkan kepalanya. "Aku nggak inget, Ma. Lagi pula nggak mungkinlah aku dan Susan sudah bercerai."


"Kalian sudah bercerai dan Nadira itu adalah calon istrimu."


"Ma, aku hanya mau Susan yang merawat aku. Apa lagi kakiku harus dioperasi, kan?"


"Mama sudah memintanya untuk datang. Dan dia akan datang lusa nanti. Tapi, Mama minta kau bersikap ramah juga pada Nadira. Saat ini ingatanmu sedang terganggu. Jadi, jangan bersikap tidak sopan pada orang lain. Nadira itu sangat dekat dengan anakmu dan kalian itu tinggal satu atap. Bahkan kau beberapa kali meminta Nadira untuk menjadi Ibu sambung Ruby."


"Maafkan aku, Mama. Aku benar-benar tidak ingat. Tapi, yang aku mau saat ini hanya Susan, Ma."


Oma Lily hanya mengangguk dan menghela napas panjang.


"Tadi kau mengusirnya, mengapa sekarang kamu ingin tau bagaimana hubunganmu?"


"Entahlah, Mama. Tadi, saat aku melihatnya menangis aku merasa hatiku sakit sekali. Aku ingin mengusap air matanya, tapi aku tidak berdaya. Aku tidak tau harus bagaimana. Tapi, aku tidak dapat menghilangkan bayangan wajah Susan begitu saja."


"Tanyakan pada hati kecilmu, Nak. Hati kecil tidak bisa berbohong."


β€’


...β€’...


^^^β€’^^^

__ADS_1


Ana menatap Nadira yang tampak tidak bersemangat malam itu. Padahal, ia sudah memasak makan malam favorit Nadira. Malam ini ia memang bertugas menemani Nadira dan Ruby di rumah ... sementara Oma Lily juga pulang dan Rama ditemani oleh Nando asistennya.


"Mbak, dari tadi kamu hanya menatap nasi di hadapanmu tanpa di sentuh sama sekali. Masakanku tidak enak ya?" tanya Ana.


"Ana ... Ak--"


"Tante sakit?" tanya Ruby yang baru saja datang dan langsung duduk di samping Nadira.


Nadira tersenyum hangat. ''Nggak kok, kata siapa Tante sakit. Tante itu wanita kuat.'' Ruby memperlihatkan otot tanganya yang membuat Ruby tertawa.


''He he he ... Tante, Ruby mengantuk. Aku ingin tidur di temani Tante.''


''Tentu saja sayang ... ayo kita tidur.''


Nadira mengajak Ruby naik le lantai atas, membaringkan tubuh kecilnya di atas ranjang dan membacakan buku dongeng untuk Ruby.


Beberapa menit setelah Nadira membacakan dongeng, Ruby sudah terlelap tidur dan masuk ke alam mimpi.


Nadira menutup bukunya, memandang wajah Ruby yang mungil.


''Pertama kali aku melihatmu, aku sudah jatuh cinta. Aku sudah di vonis tidak bisa memiliki anak oleh dokter, dan aku tidak mau kehilangan kesempatan menjadi ibu untukmu ... walau aku harus menjadi Ibu sambung. Aku akan melakukan cara apapun agar Ayah mu mengingatku lagi.''


Nadira bertekad jika dia tidak akan mengalah pada Susan.


β€’


...πŸ€πŸ€πŸ€...

__ADS_1


...LIKE.KOMEN.VOTE...


__ADS_2