Tujuh Tahun Pernikahan

Tujuh Tahun Pernikahan
Bab 34 : Memangnya siapa kau!


__ADS_3

Tujuh tahun pernikahan.


...πŸ€πŸ€πŸ€...


Sudah dua hari Nadira bekerja di rumah Rama, dua hari pula dia sudah terbiasa dengan perlakuan Rama mau pun Ruby yang hangat dan terbuka padanya.


Nadira baru saja selesai membuat bekal untuk Rama dan Ruby, tak lama mereka berdua pun turun dari kamar masing-masing dan duduk di meja makan.


''Tente, hari ini buat bekal apa untuk Ruby?''


''Tante buat bekal spesial untuk Ruby.'' Nadira mengedipkan sebelah matanya, yang membuat Ruby terkekeh bahagia.


Rama yang melihat interaksi kedua wanita yang dia sayangi merasa bahagia dan hangat, ia seperti menemukan keluarga baru yang sudah lama dia cari.


Beberapa menit kemudian ... Rama dan Ruby berangkat dari rumah, tidak lupa Nadira mengantarkan mereka sampai halaman rumah dan berdarah dadah ria, layaknya seorang istri dan Ibu.


'Hais ... lama lama kok aku jadi terbiasa.' Gumam Nadira dalam hati.


Setelah mobil Rama pergi, Nadira masuk kedalam rumah dan pergi ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya yang lengket. Karna jadwal Ruby pulang sekolah pukul sepuluh siang, dan ini masih jam delapan.


Setelah selesai mandi membersihkan tubuhnya, Nadira duduk di ruang tamu menonton Tv. Ia melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul sembilan pas.


''Masih ada waktu untuk nonton Tv.''


Nadira baru saja akan menyalakan tv, namun telpon yang ada di sebelahnya berdering.


Nadira menjawab telpon itu.


(Hallo.)


(Apa! Kok bisa.)


(Baik, aku akan segera ke sana.)


Nadira berlari mengambil tasnya untuk pergi ke sekolah Ruby, Ia mendapatkan kabar jika Ruby berkelahi dengan teman sekelasnya.


β€’


...β€’...

__ADS_1


^^^β€’^^^


Tak lama ... Nadira sudah sampai di sekolah Ruby, Ia melihat kesana kemari dan bertanya dimana ruang kepala sekolah. Setelah Nadira mengetahuinya, ia segera berlari untuk mengetahui kabar Ruby.


Ketika akan masuk ke ruang kepala sekolah, Nadira tidak sengaja berpapasan dengan Ibunya Rama yang datang ke sekolah setelah mendapatkan kabar jika sang cucu memukul teman sekelasnya.


''Ruby.'' Panggil Nadira.


Ruby yang sedang menunduk langsung menoleh ketika namanya di panggil oleh Nadira.


''Tante.'' Ruby berlari menghampiri Nadira.


Nadira berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Ruby, lalu menghapus air matanya nya dan melihat jika pipi Ruby memar memerah.


''Ada apa dengan pipimu?''


Ruby menunduk, ''Bibi itu memukulku, Tante.''


Kedua mata Nadira melotot sempurna, lalu berdiri di depan orang yang di tunjuk Ruby.


''Kau memukulnya!''


''Ini lagi siapa yang mau ikut campur. Dia sudah melukai putriku! Lihat wajah cantiknya harus terluka karna gadis yang tidak memiliki Ibu. Dan yaa ... aku yang memukulnya, mau apa kamu!''


''Dia memukul anakku terlebih dahulu, dia pantas mendapatkan balasannya! Dia tidak punya ibu sih, makanya sifatnya bar-bar karna tidak ada yang mendidiknya.''


Oma Lili yang mendengar hinaan pada cucunya sangat marah, namun kali ini dia tidak akan pasang badan karna ia ingin tau bagaimana Nadira mengatasinya.


Sedangkan Nadira menggelengkan kepalanya sambil terkekeh tidak percaya.


''Siapa kamu yang berani sekali menghina anak orang lain?''


Nadira menatap ke arah wanita yang sedari tadi menatapnya arrogant, tidak lupa Nadira menarik tangan Ruby agar berada di sisinya.


Ruby bersembunyi di balik punggung Nadira, sementara Nadira mengelus kepala Ruby ... mengisyaratkan jika ini akan baik-baik saja.


Wanita itu berkacak pinggang dan menatap Ruby dan Nadira meremah lalu berkata, ''Gadis sekecil itu menjadi liar gara gara tidak memiliki ibu yang mendidiknya! Dia selalu iri pada anakku karna anakku memiliki Ibu sempurna seperti diriku, sedangkan dia tidak. Ini pasti alasan mengapa dia melukai putriku.''


''Cih! Sungguh tidak berpendidikan.'' Ujarnya lagi, yang mana membuat Nadira sudah tidak bisa mengontrol emosinya.

__ADS_1


''Kenapa kau tega mengatakan dia tidak memiliki ibu dan menjadi gadis kecil liar! BERANINYA KAU ...'' Teriak Nadra tidak terima.


''Berani sekali kau membentakku!''


''Kenapa aku tidak berani, HAH! Kau bersikap seperti ini, apa kau mencerminkan seorang ibu? Memukul anak orang lain, apakah itu pantas!'' Sentak Nadira.


Wanita itu mundur selangkah karna gugup, ''Be-beraninya kau! Apa kamu tidak tau siapa aku.'' sombongnya mengangkat dagu.


''Siapa kau? Aku tidak perduli siapa kamu yang sudah berani memukul anak kecil dan membuat keributan seakan anakmu yang menjadi korban! Aku yakin jika anakmu yang lebih awal mengejek Ruby.''


''Anakku tidak mungkin berani melukai orang! Dia saja segan melukai semut. Dan yaa, aku adalah donatur terbesar di sekolah ini dan kau jangan pernah macem-macam padaku!''


''Ohh ... seperti itu.'' Nadira melipat kedua tanganya di dada. 'Kau donatur terbesar di sekolah ini, maka kau se-enaknya main pukul anak orang dengan tidak bersalah bahkan berani menghinanya.''


''Ya! Aku akan memukul siapapun yang sudah berani melukai putriku!


''HEIIII ...'' Teriak Nadira, membuat semua orang yang ada di ruang kepala sekolah terkejut mendengar Nadira berteriak.


''Maka aku akan memukul mu demi pitriku!''


''Apa maksudmu!''


PLAK.


''Ahh ...''


''Apa itu sakit! Luka di wajah putrimu akan sembuh dengan sendirinya, tapi bagaimana luka yang kau toreh di hari putriku!''


''Anakmu? Siapa anakmu.''


''Ruby! Ruby adalah anakku dan siapapun yang berani melukainya maka dia harus berurusan denganku!''


Ruby mendongkak tidak percaya jika Nadira akan mengatakan jika dia putrinya, termasuk Oma Lili yang terharu melihat Nadira membela cucunya.


''Baik! Akan aku beri pelajaran kau yaa!''


Wanita itu menyerang Nadira, begitu pun Nadira menyerang balik dan tidak mau kalah. Kedua wanita dewasa itu berkelahi dan saling jambak, membuat semua orang bingung cara untuk memisahkan mereka.


β€’

__ADS_1


...πŸ€πŸ€πŸ€...


...LIKE.KOMEN.VOTE...


__ADS_2