
Tujuh tahun pernikahan.
...🍀🍀🍀...
Seminggu telah berlalu ... Rama, Nadira, Ruby dan Ana pun kembali dari liburan. Ruby sangat senang karena ia bisa berlibur dengan Nadira. Tentu saja, gadis kecil itu juga tengah membantu misi sang ayah untuk menjadikan Nadira sebagai ibu sambungnya.
Dan pagi ini seperti biasa, Ruby sarapan ditemani Nadira dan juga Rama sementara Ana sedang membereskan kamar gadis kecil itu. Selain suster Mira, Ana memang sudah bekerja lama di rumah Rama. Bedanya Ana lebih pro kepada Rama sementara Mira diam-diam memang sering memberi laporan kepada Susan, mantan istri Rama.
“Papa mulai kerja hari ini?” tanya Ruby.
“Iya Sayang, kalo ga kerja nanti ga bisa ajak kalian liburan lagi. Oya, Nadira, ini kunci mobil saya. Saya kebetulan beli mobil baru, jadi kamu bisa pakai mobil saya untuk mengantarkan Ruby sekolah.”
“Tapi ...”
“Ga ada tapi.”
Nadira hanya bisa mengangguk, Rama memang tidak bisa dibantah sama sekali dan itu sangat menyebalkan. Mira yang melihat hal itu tentu saja langsung melaporkan kepada Susan apa yang sudah terjadi.
“Iya, Nyonya saya hanya menyampaikan hal itu saja. Baik Nyonya.”
Mira langsung menutup sambungan telepon dan betapa terkejutnya ia saat membalikkan tubuhnya, ada Ana di sana.
“Kamu abis ngapain? Gimana seandainya Bapak tau kalo kamu sering menghubungi mantan istrinya buat laporan? Kamu ini aneh ya. Yang bayar kamu itu Pak Rama, bukan bu Susan lagi.”
“Ga usah ikut campur urusanku deh kamu, Na. Kamu sih enak kemarin aja diajak liburan. Lah aku?”
“Intropeksi diri kenapa selama ini bapak dan nyonya besar ga begitu percaya sama kamu!” kata Ana dengan tegas.
Melihat Ana sudah melotot jelas saja Mira merasa sangat takut. Walau bagaimana pun, Ana adalah salah satu orang kepercayaan Oma Lili, ibu kandung Rama.
“Aduh, kamu jangan jadi tukang cepu dong. Kalo aku dipecat kamu kan ga mungkin mau tanggung semua keluargaku?” kata Mira sambil memegang tangan Ana.
Ana hanya mendelik, tetapi ia tahu betul jika Mira adalah tulang punggung keluarganya di kampung.
“Saya ga akan ngadu sama Pak Rama atau Oma Lili. Tapi, jujur sama saya kamu lapor apa sama bu Susan?” tanya Ana.
“Bu Susan kasi aku bayaran supaya aku laporan kalo Pak Rama dekat sama perempuan mana pun. Bu Susan itu mau balik lagi sama Pak Rama. Kabarnya pak Arya selingkuhannya itu udah bangkrut. Bu Susan kan sekarang jadi foto model gitu sama terima endorse buat nyukupin kebutuhannya.”
__ADS_1
Ana hanya bisa menghela napas panjang me ndengar cerita dari Mira. Ana tahu bagaimana Rama dulu begitu hancur saat mengetahui perselingkuhan sang istri.
Selama ini Ruby hanya tau jika mamanya pergi. Seandainya saja gadis kecil itu mengerti apa yang dilakukan mamanya pasti hatinya akan sangat hancur.
“Aku ga akan laporin kamu sama Pak Rama atau Oma Lili. Tapi, kalo kamu masih kasi info sama bu Susan, awas kamu!” tegas Ana kepada Mira.
Ana pun segera berlalu tanpa menunggu jawaban Mira lagi. Sementara Mira hanya bisa meredakan debaran di dadanya. Hampir saja ia kehilangan pekerjaan. Mira memang hanya dibayar oleh Susan untuk memata-matai Rama.
Sementara itu di halaman depan, Nadira tampak kesulitan dengan mobil milik Rama.
''Ya ampun ... bagaimana aku harus memulainya lagi yaaa? Sudah lama aku nggak nyetir mobil.'' Cicit Nadira yang merasa gugup kembali saat ingin mengendarai Mobil.
Dulu ia memang bisa menyetir dan Edgar yang mengajarinya sampai bisa. Namun ia lupa lagi bagaimana caranya.
Rama yang melihat jika Nadira masih gugup, ia pun menyuruh supir untuk mengantarkan Nadira ... dan memutuskan untuk bertukar mobil.
Nadira pun menghela Nafasnya dan langsung berangkat ke sekolah Ruby sementara Rama ke kantornya.
•
•
“Iya, Sayang. Tante tunggu kamu di sini sampai kamu pulang,” jawab Nadira.
Ruby pun langsung melonjak kegirangan. Selama ini ia memang tidak pernah seperti kawan sekolahnya yang lain. Bisa diantar oleh ibunya, sementara dirinya tidak pernah.
Nadira pun memutuskan untuk menunggu Ruby di sebuah cafetaria dekat sekolah. Ia sengaja tidak bergabung dengan ibu-Ibu sosialita yang lainnya karna kejadian minggu lalu, di mana dia berkelahi dengan salah satu dari mereka.
Saat ini Nadira sedang menikmati segelas lemon tea dan sepotong tiramisu, seorang wanita tiba-tiba saja duduk di hadapan Nadira.
“Maaf, ini meja saya. Anda siapa?” tanya Nadira.
“Jadi kamu yang bernama Nadira? Saya Susan.” cetusnya dengan angkuh.
Nadira bisa langsung menangkap hawa panas yang Susan sebarkan lewat nada bicaranya yang ketus.
“Saya tidak kenal Anda,” kata Nadira acuh.
__ADS_1
"Aku pikir, kamu sudah tahu kalau Rama memiliki mantan istri."
"Apa yang ingin kamu bicarakan sebenarnya?" tanya Nadira, malas untuk berbasa basi apalagi berputar kata lebih dulu.
"Tinggalkan Rama dan biarkan kami bersama lagi seperti dulu. Aku tau jika dia sudah memintamu menjadi istrinya. Tetapi, aku ingin kembali kepadanya," ucap Susan dengan berani.
Nadira tersenyum melecehkan, "Kamu itu benar-benar wanita yang tidak tahu malu. Dulu kamu meninggalkan Rama, tetapi sekarang kamu mengemis-ngemis ingin kembali. Apa dulu kamu nggak inget anakmu? Di sini saya belum menjawab apa-apa kepada Pak Rama. Tapi, kamu sama sekali ga berhak buat menyuruhku menjauhi dia."
"Hei ingat! Rama itu milikku. Dia itu suamiku yang sah secara agama mau pun negara."
“Mantan,'' Nadira menegaskan lalu berkata lagi, '' Mantan suami mungkin Mbak? Bukannya kalian sudah bercerai?”
"Tapi aku masih mencintai Rama dan kami juga punya anak. Harusnya kamu tahu diri dan pergi dari hidup Rama."
"Kamu yang harusnya sadar. Kamu itu cuma masa lalu yang ingin dia buang selamanya. Justru dengan begini aku jadi tau jika aku memang harus menerima lamaran Pak Rama untuk menjadi ibu sambungnya Ruby."
"Tidak!" ujar Susan lebih tinggi. "Hanya aku yang ada di hati Rama dan hanya aku yang dia cintai. Kami sudah hidup bersama dan sangat bahagia sebelum kamu datang dan mencoba menusuk aku dari belakang."
Nadira mengerutkan keningnya lalu tertawa mendengar Susan berbual.
“Ha ha ha ... Saya ini bukan pelakor, Mbak. Dan saya sudah tau jika Mantan istrinya Pak Rama itu berselingkuh dan rela meninggalkan anaknya.''
''Kau!''
''Saya nggak punya waktu mendengar ocehan seorang mantan yang sedang menyesal! Permisi, Mbak. Saya harus melihat Ruby, sebentar lagi dia pulang.”
Susan menggertakkan giginya. “Dia akan pulang dengan saya,” kata Susan.
“Silakan tanya kepada Pak Rama, terlebih dahulu. Karna Ruby saat ini tanggung jawab saya!”
Nadira pun segera berjalan keluar ruangan. Sementara Susan mengepalkan tangannya dan langsung menelepon seseorang.
“Bunuh saja dia, buat mobilnya kecelakaan.”
•
...🍀🍀🍀...
__ADS_1
...LIKE.KOMEN.VOTE...