
Tujuh tahun pernikahan.
...πππ...
Nadira turun dari ojek online, berdiri di depan restoran di mana dia dan Edgar akan bertemu. Nadira menghela nafasnya lalu berjalan ke dalam di mana Edgar sudah menunggunya sejak tadi.
''Mas.'' Panggil Nadira, lalu duduk di depan Edgar.
Edgar tersenyum, ''Nadira ... kamu baik-baik saja sayang?''
Nadira memutar matanya dengan malas. ''Seperti yang kau lihat, jika aku jauh lebih baik di bandingkan tinggal bersama dengan mu, Cih.''
Edgar diam lalu berkata, ''Apa kamu tidak bertanya keadaan ku?''
Nadira mengangkat satu alisnya dan bergunam dalam hati.
'Tentu saja kabar mu buruk, dari tampilan mu saja sudah aku pastikan jika kau tidak teruris.'
''Hah, apa yang mau kamu bicarakan?'' Tanya Nadira, membuang mukanya ke arah lain ... ia takut jika imannya goyah melihat Edgar dengan tatapan memelas dengan nada suara purau.
Edgar tersenyum getir, Nadira menjadi dingin sekarang ... tidak ada lagi tatapan hangat dan perhatian seperti dulu.
''Kenapa kamu berubah dalam dua hari? Kamu pun menghancurkan karir yang aku bangun susah payah. Kenapa, Nadira ... kenapa kamu melakukannya?''
Nadira menatap Edgar dengan dingin.
''Sekarang aku yang bertanya, kenapa ... kenapa kau berselingkuh di belakangku dengan Rima? Tidak, bukan hanya dengan Rima saja ... tapi dengan banyak wanita di luar sana. Apa aku tidak pernah memuaskan mu? Apa aku tidak mengurusmu dengan baik?''
Edgar menunduk.
''Ouh, apa kamu khilaf? Heh, nyata nya itu bukan khilaf! Tapi itu sudah menjadi kebiasaan mu sekarang.''
''Maafkan aku.'' Hanya itu yang keluar dari mulut Edgar.
''Haaaah ... kau tau Edgar, tujuh tahun kita bersama dalam susah mau pun senang, tapi kenapa kau berubah di saat sudah menduduki puncak teratas.'' Ucap Nadira membuang muka dengan perasaan kesal di hatinya.
''Aku pun tidak tau, di saat aku memiliki banyak uang aku benar-benar gelap mata Dira. Tapi aku berjanji, kalau aku akan berubah dan tidak akan mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya, Nadira ... ayo kita pulang.''
__ADS_1
Nadira langsung menoleh dan mengerutkan keningnya. ''Kau tidak salah memintaku pulang? Kenapa ... apa kau tidak marah lagi padaku tentang kejadian sebelumnya?''
''Aku memang marah, tapi aku tidak bisa hidup tanpa kamu Nadira ... aku kesepian, di rumah berantakan dan tidak ada yang mau mengurusku. Kamu tau sendiri jika Ibu sedang sakit, dia pasti tidak bisa mengurus pekerjaan rumah.''
Nadira tercengang tidak percaya. ''Hah, ha ha ha jadi ... kau menjemputku karna di rumah mu tidak ada yang mengerjakan pekerjaan rumah? Kau pikir aku ini siapa, Hah!''
Edgar sadar jika apa yang dia katakan salah, lalu berkata dengan panik, ''Ti-tidak, bukan begitu Dira ...''
Nadira membuang mukanya dengan kesal.
''Nadira ...'' Edgar ingin menggenggam tangan Nadira, namun segera di tepis oleh Nadira dengan kesal. Edgar menghela nafasnya dengan perlahan.
''Nadira, apa kau tau jika rumah Ibu di jual oleh Rima?''
''Untuk apa aku tau! Bukan urusanku! Begini saja deh, mending kita saling jujur saja Mas. Sebenarnya Mas itu mau apa dariku? Aku yakin ada sesuatu hal yang kamu inginkan dariku Mas.''
Edgar terlihat menelan salivanya.
''Mas cuma ingin minjem perhiasan mu untuk melunasi rumah yang di jual oleh Rima. Mas janji akan bayar secepatnya jika harta Mas sudah di kembalikan sama Negara, sekarang Mas tidak punya apa-apa lagi Dira ... tolong bantu Mas kali ini saja.''
''Nadira ... ak--''
''Heiii, sadarlah Edgar! Kau hanya memberikan nafkah padaku sebesar lima puluh ribu dalam satu hari, dan itu pun aku harus membelanjakan uang itu untuk makan. Ya Tuhan ... aku benar-benar tidak menyangka jika aku menikahi pria seperti dirimu, Edgar.''
''Bukahkah semua uang mu di simpan oleh ibumu!'' Sentak Nadira dengan geram, namun ia bisa menahannya.
''Aku tidak tau Ibu menaruhnya dimana.''
''Dasar bodoh! Kau bisa tanyakan pada ibu mu yang berada di rumah sakit jiwa, di mana dia menyimpan semua uang hasil kerja keras mu! Dasar tidak tau malu.''
''Aku tau aku tidak tau malu, tapi untuk kali ini aku mohon Dira. Aku sudah tidak tau harus meminta tolong pada siapa lagi jika bukan pada istriku.''
Nadira memijat keningnya dan berpikir sejenak.
''Apa selama ini kamu dan Ibu berfoya foya, dan kalian tidak pernah menyimpan uang itu? Iyaaa ...''
Nadira menyipitkan kedua matanya dengan curiga, yang mana membuat Edgar terdiam ... karna apa yang di katakan oleh Nadira benar adanya. Selama ini Edgar dan sang Ibu selalu berfoya foya dan tidak ada tabungan sedikit pun.
__ADS_1
''Astagfirullah ... '' Nadira menggelengkan kepalanya.
''Sudahmah tukang selingkuh, nggak tau malu, pembohong lagi! Haaah, jika ada nominasi pria terberengsek di dunia. Maka kamu pemenangnya Mas.''
''Mas minta maaf.''
''Sudahlah, aku capek lihat tingkah mu.''
''Jadi gimana? Kamu mau minjamin pas uang mu.''
''KAU!''
Nadira benar-benar tidak bis berkata kata.
''Haaiishh ... baiklah, aku akan memberikan mu uang yang kau minta Mas, tapi dengan satu syarat.''
''Syarat?''
''Tanda tangani surat perceraian yang akan aku kirimkan ke rumah mu.''
DEG.
''Tapi Dira, aku tidak mau cerai! Dan aku tidak mau menceraikan mu sampai kapan pun.''
''Maka, jangan harap uang itu bisa kau dapatkan.''
Setelah mengatakan itu ... Nadira berdiri ingin pergi, namun Edgar berbicara lagi yang mana membuat ia menghentikan langkahnya.
''Apa kamu sudah tidak mencintaiku, Nadira.''
Nadira menoleh, ''Persetan dengan cinta! Nyata nya cinta membawa ku kedalam kesengsaraan yang tiada dasar.''
β’
...πππ...
...LIKE.KOMEN.VOTE ...
__ADS_1