
Suzy dan Myungsoo masuk ke dalam kamar mereka, Suzy dan Myungsoo masih berdiri saat Jia dan Chaekyung masuk membawakan makanan untuknya sarapan.
"Pangeran, putri kami diperintahkan putri Sohee membawakan makanan ini untuk kalian sarapan" ucap Jia setelah dia dan Chaekyung meletakan makanan dimeja.
Suzy menghampiri Jia dan Chaekyung, memeluk mereka berdua. "Gomawo, Jia dan Chae kalian sudah setia dan slalu baik padaku walau kadang aku sering menyakiti kalian sebagai objek silatku. Aku sungguh menyayangi kalian"
"Tuan putri kami juga menyayangimu, karena kau sudah mengganggap kami seperti saudara sejak anda masuk istana. Anda selalu memperlakukan kami dengan baik"
"Sudah-sudah Zy, kau harus sarapan dulu" ucap Myungsoo menyentuh pundak Suzy agar melepaskan kedua dayangnya.
"Kami permisi keluar dulu, jika ada apa-apa kami berdua ada didepan. Silahkan panggil kami" ucap Chaekyung yang kemudian beriringan keluar kamar Myungzy. Dan menutup rapat pintunya.
"Zy, kelak kau jangan mencurigai aku lagi. Jangan cemburu lagi. Itu sangat menyiksaku" ucap Myungsoo memegang pundak Suzy dan membawanya kepelukannya. "Kelak bagaimanapun marahmu padaku berjanjilah jangan pergi, jangan melakukan hal yang membahayakanmu, dan jangan berbuat yang memperkeruh keadaan"
"Baik. Aku tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh lagi. Kau adalah kucing besarku yang bijaksana"
"Masih ada hal lain lagi"
"Eoh, apa itu?"
"Sejak tau tentangmu dan raja aku jadi sedikit bimbang, namun aku terus meyakinkan diriku bahwa aku tidak salah menikahimu. Kau mungkin berpikir salah menikahiku, dan kau ragu padaku tapi setidaknya jangan salah paham lagi. Hatiku tetap milikmu seutuhnya karena kau istriku, permaisuriku, kau tetap menantu istana dan kenyataan itu tidak bisa diubah oleh apapun" ucap Myungsoo melepas pelukannya dan menatap dalam ke mata Suzy. "Jangan menyimpan dendam lagi, kelak kalau bertemu raja kau harus bersikap seperti biasa"
"Hmmm. Baiklah aku akan menurutimu myung"
"Gomawo" ucap Myungsoo senang dan menciumi seluruh wajah Suzy.
Myungsoo menemui ibu suri tidak peduli ada Miura dan Eunji yang sedang menemani Ibu Suri didalam paviliunnya.
"Ada apa?"
"Aku langsung saja yangmulia. Tolong jangan terlalu mengurusi dan mengawasi saya dan Sowon, saya sudah menuruti perintah anda dan itu membuat hidup Suzy bagai dineraka. Jika Eunha dan minri tetap melaporkan pada anda jangan salahkan saya jika saya memukul mereka. Jika ibu suri ingin melaporkan pada raja silahkan karena saya sudah tidak peduli lagi"
"Raja pasti sangat kecewa."
"Saya tahu raja pasti sangat kecewa sama seperti saya yang kecewa setelah tahu semua kebenarannya. Namun raja akan sadar kenapa Suzy bersikap begini padanya"
"Jika raja tahu apa kau yakin Suzy akan diizinkan tinggal diistana? Walaupun Suzy tidak dihukum penggal tapi tetap saja dia akan menerima hukuman. Apa yang akan kau lakukan jika Suzy diasingkan dan diusir dari istana"
"Suzy mati saya mati, Suzy tinggal saya tinggal, jika Suzy pergi maka saya akan pergi. Jika terjadi sesuatu padanya atau ada yang berniat mencelakakannya maka raja juga akan kehilangan saya"
"Kenapa kau begitu teropsesi padanya. Kau bahkan rela melepas status bangsawanmu demi dia" Marah ibu suri.
"Saya yakin karena itulah bukti cinta saya untuknya. Silahkan jika anda ingin melapor ke raja. Saya sudah selesai bicara, Permisi" ucap Myungsoo yang kemudian keluar paviliun istana ibu suri.
"Dia sudah memiliki jiwa seorang raja, padahal dia masih muda" puji Miura yang tidak ditanggapi Ibu suri ataupun Eunji. Karena keduanya memasang ekspresi yang susah dijelaskan.
Malam hari,
Dikamar Myungsoo melihat Suzy yang sedang melukis gambar wajahnya setengah, dan itu menghadap ke taman bunga istana.
"Kenapa kau melukis wajahku seperti itu? Seperti merindukan seseorang saja Zy" ucap Myungsoo melihat sketsa wajahnya dikertas yg sedang digambari Suzy.
"Anggap saja disini kau sedang memandangku yang bersembunyi ditaman bunga itu. Hehe" balas Suzy asal sambil tertawa.
"Kau ini, mana cukup tumbuhan segitu menyembunyikanmu yang sebesar ini."
"Anggap saja kau merindukan anak kita nanti hahaha"
"Zy, kita sudah lama tidak melakukannya mana mungkin cepat punya anak jika hanya berdiam diri" ucap Myungsoo yang sudah berdiri dibelakang Suzy dan memeluknya.
"Dasar mesum. Tapi Myung selama beberapa bulan tinggal dengan Sowon apa kau benar tidak tertarik sedikitpun dengannya?" ucap Suzy melepaskan pelukan Myungsoo dan memaksa Myungsoo menghadapnya.
"Kau mulai lagi, banyak hal yang ku lakukan agar kita bisa bersama begini"
"Tapi dia membantumu mandi, menggosok punggungmu dan tidak mungkin malam itu tidak terjadi apapun karena aku melihatnya sendiri kalian satu ranjang tanpa busana"
"Zy, aku dijebak ibu suri. Ntah ramuan apa yang dimasukan Sowon hingga malam itu yang terlihat wajahmu. Sungguh Zy, Sowon dan ibu suri pasti menyihirku dengan ramuan itu agar bisa menjebakku dan berakhir meniduri Sowon"
"Kau selalu memaksaku percaya"
"Apa aku perlu bersumpah dengan darahku, ok! aku akan mengambil pisau agar kau percaya bahwa hanya dirimu yang aku cinta"
"Jangan, percaya atau tidak aku harus tetap percaya padamu. Selama ini aku menderita, benci, dan merindukanmu. Satu atap tapi tidak bisa bersama "
"Aku juga menderita lebih dari itu, tinggal satu atap dan bisa melihatmu tapi aku tidak ada kesempatan untuk berbicara denganmu walau hanya sebentar. Banyak hal yang ingin ku katakan"
"Apa? Katakan"
"Aku malu mengatakannya?"
"Aish ayo katakan, tidak akan ada yang berani menguping"
"Saranghaeyo" ucap Myungsoo berbisik ditelinga Suzy sambil memeluk Suzy dengan erat. "Sudah malam ayo tidur"
"Nde, aku juga sudah lelah"
"Jalja"
*
__ADS_1
*
Hari ini Myungsoo, Suzy, Sohee dan Sungjong menemani Jungshin bermain layang-layang didepan perpustakaan istana. Tentu didampingi dayang setia Suzy dan ibu asuh Jungshin.
"Jungshin, kau adalah calon menantuku jadi kau jangan melirik wanita lain nanti saat sudah besar" ucap Suzy mengelus rambut Jungshin yang hanya sejumprit.
"Tentu, apa kau sudah hamil Suzy?" tanya Sohee yang berdiri disamping Suzy.
"Kau tanya Sowon saja, apa dia hamil? Selama beberapa bulan ini Myungsoo tidur dikamar dengan Sowon jadi mana mungkin aku yang hamil Lee Sohee" jawab Suzy menatap Myungsoo sinis.
"Astaga Sungjong dia mulai lagi, wanita memang seperti itu jika cemburu. Menyeramkan" ucap Myungsoo membalas ucapan Suzy dengan tersenyum.
"Kau harus sabar dengannya, wanita memang begitu jika cemburu"goda Sungjong sambil tersenyum kecil disamping Myungsoo.
"Nanti sore, istana mengadakan doa bersama untuk Sowon yang baru ikut pertama kali. Kau ikut Zy?" tanya Sohee mengalihkan pembicaraan.
"Tentu saja. Ibu suri pasti akan marah jika aku tidak ikut, walau aku sebenarnya malas bertemu raja" jawab Suzy lesu.
"Bukankah kau sudah berjanji akan melupakan dendam itu setelah kakakmu dibebaskan."
"Memang, tapi ketika melihat raja dan harus hidup berpura-pura rasanya sakit didada"
"Zy, pengorbanan ini akan sia-sia jika kau masih dendam pada raja"
"Hmmm. Baiklah, aku akan berusaha melupakannya"
"Kau harus berusaha Zy, lihatlah Myungsoo yang sudah berkorban banyak untukmu" ucap Sohee sambil memandang ke arah Myungsoo yang bermain layangan bersama Jungshin dan Sungjong.
"Iya, aku akan berusaha menerima raja seperti dulu"
"Bagus. Walau ibu suri berusaha agar Sowon jadi permaisuri dan menyingkirkanmu, namun percayalah Myungsoo akan selalu ada didepan untuk membelamu begitupun aku"
"Aku hanya ingin bahagia, aku tidak butuh jadi permaisuri atau ratu, Sohee. Aku hanya ingin hidupku bahagia dengan orang yang ku cintai dan ku sayangi"
"Bahagia akan datang untukmu."
Sore hari.
Semua keluarga istana pergi ke tempat ibadah menggunakan kereta kuda, sambil melihat antusias rakyat pada keluarga istana yang akan beribadah di gereja kota Seoul. Semua rakyat bahkan berkumpul untuk menyambut keluarga istana yang akan beribadah di sana.
"Apa tempat untuk bersembahyang sudah siap? Pak pendeta" tanya seketaris Lee pada pihak gereja ketika mereka sampai dipintu masuk gereja.
"Sudah tuan, semua sudah siap" jawab pengurus gereja.
"Bagus. Yangmulia mari silahkan masuk" ajak Seketaris Lee.
"Wah rakyat sungguh antusias menyambut kedatangan keluarga istana, jadi ingat ketika dulu kita sembahyang bersama ibu. Aku jadi rindu rumah kita" ucap Suzy yang berjalan diapit Sohee dan Eunji.
"Hust jangan sampai didengar ibu suri, kau bisa didepak. Lihat Sowon yang bahkan terlihat bosan digandeng ibu suri namun dia terlihat ceria, kau harus belajar darinya jangan hanya mengeluh bosan saja" ucap Sohee menasehati.
"Mana bisa aku jadi dia, dia begitu sibuk disamping ibu suri dengan kegiatannya menulis puisi, kaligrafi, baca pepatah, bisa menyajikan teh dan kegiatan lain dengan ibu suri bukankah itu luar biasa. Berbeda denganku yang hanya bisa berbuat onar dimata ibu suri"
"Suzy, kau bisa melukis, bisa memasak, bisa merangkai bunga, bisa mengatasi masalah dengan tegar dan penuh dengan kasih sayang. Bukankah itu juga luar biasa, itu sungguh tidak bisa dibandingkan dengan Sowon" ucap Eunji dengan sifat dewasanya.
"Benar, bahkan tidak bisa disandingkan dengan kemampuanku"
"Jangan mengeluh lagi, pujian kalian setidaknya membuatku lega"
"Sudah-sudah jangan bicara lagi. Ayo kita masuk" Ucap Sohee mengajak keduanya masuk.
"Aku akan berdoa pada tuhan agar hatiku tak sesak lagi" Ucap Suzy memegang dadanya.
"Aku juga, agar dimanapun Seungho berada dia aman dalam lindungan tuhan" Ucap Eunji sendu memandang langit.
Ibu suri masuk dengan Sowon dan permaisuri terlebih dulu, namun saat akan masuk pintu utama gereja Sowon segera berlari keluar dan muntah-muntah namun tidak mengeluarkan apapun. Permaisuri dan selir Chang segera menghampirinya.
"Kau kenapa Sowon? Apa kau baik-baik saja" tanya permaisuri.
"Maaf membuat cemas. Saya hanya mual, beberapa hari ini perut saya tidak enak yangmulia" jawab Sowon.
"Apa mungkin kau hamil, Sowon?" Kini selir Chang yang bertanya.
"Saya tidak tahu yangmulia saya hamil apa tidak, saya belum memeriksakannya pada tabib istana namun ketika mencium pengharum gereja saya mual."
"Sudah berapa lama kau mual-mual?"
"Sekitar satu bulan"
"Tidak salah lagi. Kau hamil, ibu suri pasti senang" ucap permaisuri yang segera berlari menemui ibu suri yang masih berdiri didepan pintu masuk gereja. "Yangmulia, ada kabar bahagia?"
"Benarkah?"
"Saya belum yakin yangmulia" ucap Sowon sambil tersenyum yang membuat Myungsoo was-was melirik Sungjong yang berada disampingnya. Suzy terdiam, Sohee dan Eunji saling berpandangan kaget. Alex menatap Suzy yang sedih hanya menggenggam tangan ibunya. Miura langsung memandang jengkel yang ditenangkan Kyuhyun.
"Pangeran Myungsoo selamat, walau ini tidak mudah untukmu namun kau sungguh luar biasa" Ucap permaisuri bahagia.
"Selamat?" Tanta Myungsoo bingung.
"Tentu saja selamat, karena sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah" ucap permaisuri tampak bahagia didepan Myungsoo, namun Myungsoo kelihatan begitu enggan. Memandang Suzy sebentar lalu memandang Sowon yang nampak bahagia.
__ADS_1
"Aku sungguh bahagia, mari kita masuk dan berdoa, aku mau mengucapkan terima kasih pada tuhan" ucap ibu suri menggandeng Sowon masuk gereja.
Suzy berjalan masuk digandeng Sohee dan Eunji dengan tatapan dendam, Myungsoo mendesah sebal.
"Astaga, masalah baru selesai datang lagi masalah baru. Jebakan Sowon dan ibu suri menghasilkan tamu tak diundang. Aku harus bagaimana?" Gerutu Myungsoo dengan wajah menyesalkan keadaan.
"Entah aku harus mengucap selamat atau tidak padamu Myung, yang pasti kau harus sabar menghadapi dua wanita itu setelah ini. Suzy pasti akan mengamuk padamu jadi bersabarlah" goda Sungjong yang kemudian berjalan memasuki gereja.
"Tuhan, aku sungguh berterima kasih padamu telah memberikan istana anugerah pada pangeran Myungsoo sesuai harapanku. Aku sungguh gembira sekali" ucap ibu suri di depan pendeta yang mendampingi doa kali ini.
Diistana, dipavilun Myungsoo.
Suzy, Sohee, Eunji, Myungsoo dan Sungjong bersama-sama didalam kamar Myungzy untuk bicara. Berbicara mengenai kakak Suzy, Bae Seungho.
"Apa kamar ini aman untuk bicara?" tanya Eunji.
"Sejak aku marah pada Minri dan Eunha ku rasa aman, tapi kita harus bicara pelan agar tidak terdengar keluar." jawab Myungsoo.
"Kau sendiri bagaimana Eunji? Apa ibu suri tidak curiga kau tidak berada disampingnya"
"Ibu suri sedang bahagia, Sowon menemaninya dengan permaisuri. Jadi dia tidak akan peduli walau aku tidak disampingnya"
"Myung, selamat kau menjadi ayah. Hal yang tidak bisa ku lakukan kini sudah dilakukan oleh orang lain" ucap Suzy menyindir Myungsoo.
"Kau ini bicara apa? Kau sudah tahu aku dijebak tapi masih berusaha memojokkanku. Apa aku harus keluar istana dan mencari Seunho agar dia mempertanggungjawabkan akibat ulahnya" ucap Myungsoo emosi dengan sindiran Suzy.
"Myung, jangan emosi. Suzy kau boleh marah dan melakukan apapun pada Myungsoo setelah kami pulang, tapi kau tidak bisa mengabaikan surat kakakmu yang diberikan oleh seseorang sewaktu kita ditempat berdoa tadi"
"Benarkah?"
"Nde" ucap Eunji menunjukkan surat yang dibawanya, semua merapat padanya untuk membaca surat itu.
Eunji, sejak berpisah denganmu.
Sehari tanpamu siang malamku bagaikan berabad-abad lamanya karena merindukanmu, aku sungguh menderita Walau kini jarak dekat tapi bagaikan ada jurang pemisah diantara kita, siang malam slalu penuh harapan yang tidak pernah padam , aku sangat bersalah pada Suzy dan Myungsoo yang mengorbankan kebahagiaannya untuk membebaskanku membuatku merasakan sakit. Pertemanan Sungjong dan Sohee yang tulus tidak akan bisa ku lupakan, Suatu hari kita pasti bisa bertemu kembali, setelah awan malam pergi matahari akan terlihat. Kertas ini pendek namun ceritanya panjang. Jaga diri baik-baik karna kita pasti akan bersama lagi.
"Apakah mungkin masih bisa bersama? Apakah akan ada waktu untuk bersama? Apa aku masih punya harapan untuk itu?" ucap Eunji sedih.
"Pasti bisa, demi kakakku kau harus bisa bertahan. Aku percaya kalian akan bisa bersama. Kakakku masih menunggu kesempatan untuk bersama, dia pria paling berperasaan dan tegar menghadapi ini"
"Dia pasti menunggu lama untuk ini. Tapi bagaimana bisa dia masih di seoul? Sungjong bukankah kau yang mengantarkannya sampai tujuan"
"Benar, tapi aku tidak tahu kenapa dia bisa kembali lagi ke seoul. Kenapa dia bermain bahaya? Jika ketahuan ibu suri pasti gawat" ucap Sungjong yang juga bingung dengan Seungho.
"Mungkin kak Seungho pikir di seoul dan mendekat dengan musuh akan aman selama dia berhati-hati. Karena bisa saja ibu suri berpikir Seungho di sokcho dan pengawasan ibu suri di sokcho karena berpikir kak Seungho tidak akan berani mendekat" kini Sohee yang membuat kesimpulan.
"Tapi tidak bisa, aku tidak bisa bersamanya. Aku sudah bersumpah didepan ibu suri jika aku bersama Seungho maka aku..." ucap Eunji makin sedih.
"Sumpahmu tidak akan berlaku, aku sering bersumpah namun tidak terjadi apapun. Aku selalu bersumpah jika aku berbohong dam ceroboh maka aku akan menjadi kura-kura nyatanya tidak terjadikan?" ucap Suzy dengan antusias.
"Tapi aku tetap takut? Aku bersumpah dengan hati yang tulus."
"Eunji, jangan takut. Kau terpaksa bersumpah seperti itu, tuhan tidak akan membuatmu kesusahan karena kau dipaksa bersumpah. Seungho bersembunyi di Seoul namun baru memberi kabar itu artinya dia sangat hati-hati, dia punya banyak teman harusnya dia bisa mengatasi hal ini jadi kita tidak perlu cemaskan dia"ucap Sungjong menarik kesimpulan.
"Namun kita masih harus hati-hati dalam bertindak selama di istana untuk melihat kondisi, karna ini masih sangat bahaya" ucap Myungsoo.
"Dia sangat cermat karena dia punya banyak teman dan berhati-hati di seoul, justru aku khawatir kau, Eunji dan Suzy yang harus hati-hati jangan sampai ketahuan ibu suri. Bisakah surat itu ku bakar? Agar tidak ketahuan" ucap Sungjong meminta surat Seungho yang dipegang Eunji, dengan enggan Eunji memberikan dan langsung dibakar oleh Sungjong.
"Dia menempuh bahaya agar bisa membawa kabar untuk kita, namun sayamg harus kita bakar"ucap Eunji sambil menangis.
"Dia tetap bersama kita tak peduli orang atau hatinya. Tak apa suratnya dibakar yang penting tidak dengan hatinya"ucap Sohee menenangkan Eunji dengan memeluknya.
"Eunji, walau kakak tak bersamamu tapi hatinya tetap milikmu, orangnya juga milikmu tidak seperti aku hanya mendapatkan setegah bagian dari hati Myungsoo. Ditempatku setengah tapi ditempat Sowon dan anaknya hampir satu setengah bagian" ucap Suzy sedih dengan melirik sinis pada Myungsoo.
"Aku menjadi serba salah, bila kau menyindirku terus lebih baik aku pergi saja." ucap Myungsoo berbalik menuju pintu keluar namun dicegah oleh mereka.
"Kau mau kemana? Bukan kau yang harus pergi tapi kami. Eunji ke paviliun ibu suri, aku dan Sohee pulang kerumah. Bukankah ada banyak hal yang mau kau bicarakan dengan Suzy. Selesaikan baik-baik" ucap Sungjong mengajak Eunji dan Sohee pergi.
"Suzy, kami pulang dulu."
"Suzy, Besok kami kesini lagi, jaga dirimu baik-baik dan jangan bertengkar. Tenangkan dirimu dan perasaanmu"
Sungjong menarik keduanya keluar dan menutup pintu kamar Myungzy, hingga menyisakan kesunyian diantara keduanya.
"Aku tahu kau marah, kau pasti kini membenciku. Kau harus berpura-pura bahagia padahal hatimu terluka dan sedih, aku tak bisa bicara apa-apa karena masa lalu sudah berlalu tidak bisa diubah lagi tapi aku bersumpah itu jebakan dan aku janji tidak akan tidur dikamarnya lagi" ucap Myungsoo mendekat ke arah Suzy. "Dia meminta anak dengan menjebakku, aku sudah memberinya anak anggaplah ini pengganti kesusahan yang kita berikan untuknya. Jadi kelak hidupku hanya ada kau dan anak kita saja"
"Aku tahu, seharusnya aku tidak boleh begini tapi aku sangat cemburu. Aku tidak bisa mengendalikan diriku yang bahkan hampir gila karena cemburu."
"Aku tahu, aku paham. Aku sungguh menyesalkan hal ini" ucap Myungsoo menarik Suzy kedalam pelukannya. "Kita masih punya banyak waktu dan kita bisa punya banyak anak, jadi jangan cemburu pada Sowon yang saat ini hamil" Suzy hanya menangis dan membuat Myungsoo semakin mengeratkan pelukannya.
Sowon pulang ke paviliun Myungsoo dengan membawa banyak hadiah dari raja dan ibu suri sebagai ucapan selamat atas kehamilannya.
"Sowon, selamat atas kehamilanmu" ucap Suzy saat Sowon sudah masuk ke dalam paviliun.
"Maaf kakak, aku tidak tahu kenapa istana memberikan hadiah sebanyak ini untukku" ucap Sowon menanggapi Suzy. "Kakak 3x keguguran dan sekarang aku hamil, aku bahkan takut melangkah besar-besar, bernapas bahkan aku tak berani kuat-kuat bahkan aku baru tahu apa arti tanggungjawab besar" pamernya. Namun Myungsoo yang paham situasi segera bicara.
"Sowon kembali ke kamarmu, ada hal ingin ku bicarakan."
"Baik" ucap Sowon setengah kesal.
__ADS_1