
Di aula besar istana
Suzy duduk dimeja samping Myungsoo dan Sohee berjejer. Suzy hanya diam saja tanpa ekspresi karena dirinya masih kesal atas kehamilan tak terduga yang dialaminya, bagaimana dia bisa tidak tahu jika Myungsoo sedang mempermainkan hidupnya. Ibu suri terus tersenyum dengan dayang Choi seolah bahagia menerima kehamilan Suzy, padahal itu hany senyum licik karena telah merencanakan sesuatu yang tidak terduga.
"Aku sangat senang mendengar kabar bahwa Suzy sedang mengandung seorang calon pangeran atau putri untuk istana. Aku mengundang kalian semua untuk merayakannya karena sewaktu putri Suzy hamil anak pertama dan kedua, menantuku sedang bersembunyi untuk kenyamanan calon anaknya jadi untuk kali ini aku sengaja merayakannya secara besar-besaran untuk menyambut calon cucu istana yang akan datang" ucap raja Hwanhee begitu bahagia, Suzy bahkan tidak terseyum hanya memasang wajah datar disamping Myungsoo.
"Zy, tersenyumlah. Ini untuk merayakan kehamilanmu" bisik Myungsoo disamping kirinya.
"Diamlah Kim Myungsoo sebelum aku menendangmu" balas sinis Suzy.
"Zy, jangan marah terus. Nikmati perayaan ini karena raja Hwanhee sengaja mengadakan ini khusus untukmu" bisik Sohee yang duduk disamping kanan Suzy. Dia mencoba menenangkan emosi Suzy. Mereka duduk memanjang disebuah aula yang disediakan untuk perayaan kali ini, karena raja mengundang semua pejabat istana untuk ikut merayakannya.
"Tolong hidangkan teh bunga bakung yang sengaja dibuat untuk perayaan pesta hari ini. Aku dan permaisuri yang menyiapkan semuanya sejak kemarin" perintah ibu suri kepada para dayang agar menyajikan teh untuk semua orang. Dia terus tersenyum sepanjang pagi ini membuat semua orang heran, karena mereka (Myungsoo, Suzy, Sohee, Eunji, Seungho, Sungjong, Kyuhyun, Miura dan Alex) tahu pasti ada yang terencana hari ini.
"Nikmati teh kalian"
"Nde mama"
Semua meminum teh yang telah tersaji kecuali Suzy yang hanya diam saja bahkan tidak berniat menyentuh teh ataupun makanan yang terhidang didepannya.
"Eoh putri Suzy kenapa kau tidak meminum tehmu? Apa kau tidak menghargai mereka yang ikut merayakan dan mengucapkan selamat untuk calon bayimu" tegur ibu suri dengan nada tinggi, namun Suzy hanya menatap dingin padanya.
"Mohon ampun mama, saat ini putri Suzy sepertinya masih mengalami mual yang berkepanjangan sejak dinyatakan hamil oleh dokter istana, maka dari itu dia memilih diam saja sejak tadi tidak menyentuh apapun yang tersaji dihadapannya. Tidak enak jika dia mual didepan semua orang walau itu memang hal wajar untuk wanita hamol" ucap Myungsoo membela Suzy yang diam tidak mengeluarkan sepatah kata apapun, Myungsoo tahu Suzy masih membencinya namun setidaknya Suzy tidak melenyapkan calon anaknya itu sudah membuat hati Myungsoo sedikit tenang.
"Itu sama saja dengan tidak menghormati para tamu yang sedang ada disini" sinis ibu suri marah yang langsung ditenangkan Permaisuri.
"Yangmulia, harap makhlum. Bukankah wanita hamil itu memang mudah mual dan sensitif juga labil, anda juga pernah hamil pasti pernah merasakannya" ucap permaisuri meredam amarah ibu suri.
Sowon beranjak dari duduknya, dia berjalan menghampiri meja Suzy dengan tatapan meremehkan, namun Suzy tidak bergeming hanya diam saja membuat semua heran.
"Kakak Suzy, sajian ini ibu suri meraciknya khusus untuk menyambut calon anakmu. setelah sekian lama kau dan pangeran Myungsoo menikah baru istana mengadakan pesta besar untukmu. Apa kau tidak mau menghargainya? Atau kau takut yangmulia ibu suri mencelakai calon anakmu lagi? Tenang saja aku yang membantu menyajikan jamuan makanan ini, jika kau takut baiklah aku akan memakannya agar kakak yakin ini tidak bahaya" ucap Sowon mengambil teh milik Suzy yang belum tersentuh sama sekali. Suzy hanya memperhatikan saja apa yang akan Sowon lakukan, begitupun dengan yang lain.
Sowon meneguknya namun baru meneguk setengah cawan emas itu tubuh Sowon langsung tumbang ke lantai. Alex, Kyuhyun, Myungsoo dan yang lain segera mendekati Sowon sedangkan Sohee yang duduk disebelah Suzy langsung merangkul Suzy yang diam tak bergerak sama sekali karena kaget, itu teh miliknya.
"Kakak, maaf....kan a....ku.... Myung maaf....kan a...ku to...long.... Jaga Jung....soo.... Dengan ba....ik... Ku mo...hon... Uhuk...uhuk...."
"Sowon, apa yang terjadi" ucap panik Myungsoo. "Panggil tabib" teriaknya.
"Sowon, bertahanlah" ucap Ibu suri yang kini ikut mendekat.
"Yang.. Mulia... Ma...af... To... Long.... Jaga Jung...soo...ku.. " ucap Sowon terbata-bata lalu terpejam begitu saja.
"Sowon, bertahanlah" teriak Ibu suri yang menggerakan tubuh Sowon namun tubuh itu tidak bergerak sama sekali, lalu ibu suri berdiri dan menatap tajam kearah Suzy "Kau, pasti yang sengaja meracuni Sowon karena takut dia mengambil posisimu. Dari sejak kau datang selalu saja membuat onar, setelah menghilang 5 tahun kau kembali lagi dan sekarang kau melakukan kriminal dengan membunuh Sowon dihadapanku" ucap Ibu suri tajam kearah Suzy.
"Yangmulia, bagaimana mungkin anda menuduh Suzy yang melakukan itu, sedangkan sejak tadi Suzy hanya duduk di disini bersama saya dan Myungsoo" ucap Sohee membela Suzy.
"Kau membela saudara angkatmu yang pembuat onar ini."
"Yangmulia harap tenang. Kondisi Sowon lemah saat ini tidak ada waktu saling menuduh" kini raja Hwanhee menyela.
"Kenapa tabib lama sekali"
Tabib datang dan yang berkumpul mengelilingi Sowon langsung mundur memberikan jalan.
"Tabib, tolong periksa kondisi Sowon. Dia langsung terjatuh setelah meminum teh dari cawan Suzy" ucap Raja Hwanhee pada tabib yang baru datang. Tabib segera memeriksa Sowon yang sudah tidak bergerak.
"Bagaimana tabib kondisinya?"
"Mohon ampun yangmulia, sepertinya putri Sowon sudah meninggal akibat racun yang menyebar begitu cepat. Dugaan saya ada yang berniat ingin meracuni putri Suzy namun karena yang meminun putri Sowon maka beliau yang meninggal."
"Astaga"
"Racun apa yang ada digunakan?"
"Hamba belum bisa memastikan, namun sisa teh itu bisa saya bawa untuk diteliti racun apa yang digunakan hingga sekejap bisa mematikan bagi yang meminumnya yangmulia"
"Baiklah. Bawa sisa teh dicawan Suzy"
"Baik yangmulia"
"Myung ajaklah Sungjong dan beberapa orang untuk menyiapkan pemakaman untuk Sowon. Sohee, Eunji kalian yang dekat dengan Suzy tolong kau bawa Suzy ke kamarnya karena dia pasti shock melihat kejadian ini didepan matanya. Kyuhyun, tolong kau bantu aku mencari tahu siapa yang berniat membunuh Suzy dan calon anaknya, laporkan padaku nanti agar aku tahu hukuman apa yang pantas untuk mereka. Selir Chang dan Alex tolong kau urus Jungsoo sementara waktu karena ini pasti merupakan pukulan yang berat untuknya. Permaisuri, Ibu suri dan Miura tolong kalian bantu Myungsoo menyiapkan semuanya. Yang lain tunggu sampai acara pemakaman Sowon disiapkan"
"Baik yangmulia, perintah anda siap kami laksanakan"
Semua bubar sesuai perintah raja Hwanhee, dayang Choi dan ibu suri sedikit ketakutan berjalan menuju paviliun ibu suri, mereka takut karena merekalah yang berniat meracuni Suzy namun salah sasaran. Betapa bodohnya Sowon.
"Sial, bagaimana ini bisa terjadi. Ini semua diluar dugaanku. Bagaimana bisa Sowon bertindak dengan bodoh seperti itu tanpa bisa ku cegah gerakannya tadi"
"Mama, bagaimana jika kita ketahuan."
"Kau tenanglah, kau sudah melaksanakan apa yang ku suruh padamu."
__ADS_1
"Sudah mama, aku sudah menyuruh pelayan itu berkemas setelah meletakan teh beracun milik putri Suzy dan memberikan upahnya"
"Kita pura-pura saja tidak tahu dayang Choi agar kita diposisi aman. Sial sekali nasib Suzy selalu baik, apa nyawanya banyak hingga dia tidak mati-mati"
"Mama, saya sungguh takut"
"Diamlah. Jika ada yang dengar kau akan dihukum mati"
"Nde mama"
*
*
*
Prosesi pemakaman.
Jungsoo terus menangis dan berteriak didepan peti mati tempat Sowon disemayamkan sebelum dikremasi. Semua menatap sedih kearah bocah yang baru berusia 6 tahun beberapa bulan lalu. "Ibu.... Huwa ibu.. Kenapa kau meninggalkanku sendirian hiks..." tangis bocah kecil itu
Myungsoo memang tidak mencintai Sowon, selama ini dia hanya menganggapnya seperti adik sendiri namun kenapa nasib Sowon begitu buruk, namun jika teh itu diminum Suzy mungkin dia akan ikut mati menyusul Suzy dan calon anak mereka. Myungsoo bersyukur itu tidak terjadi, dia juga tidak tega pada Jungsoo karena bagaimanapun Jungsoo juga anaknya. Sungjong menepuk bahu Myungsoo seolah menenangkan. "Sungguh malang nasib Sowon, tapi siapa yang tega melakukan ini?"
"Musuh Suzy dari dulu hanyalah Sowon dan ibu suri, namun jika Sowon dan ibu suri yang merencanakannya mana mungkin Sowon bunuh diri dengan menegak racunnya sendiri, bukankah kita semua tahu jika dia begitu obsesi denganku selama ini" ucap Myungsoo.
"Itu yang aku pikirkan sejak tadi. Lalu siapa orang yang ada dibalik ini? Kau tidak ingin menenangkan Jungsoo yang meraung-raung didepan peti Sowon? Walau kau tidak mencintai Sowon tapi bagaimanapun Jungsoo tetap anakmu"
"Aku....."
"Biar aku saja" ucap Suzy yang maju menghampiri Jungsoo yang masih meraung-raung didepan peti mati ibunya. Suzy mengelus pundak Jungsoo hingga bocah yang beruraian air mata menoleh padanya. "Ibu Suzy"
"Jangan bersedih nde, kau anak yang pintarkan jadi kau tidak boleh menangis. Karena seorang laki-laki tidak boleh cengeng" ucap Suzy merengkuh Jungsoo kedalam pelukannya.
"Kenapa ibu tega meninggalkan aku mendadak hiks... Aku jadi sendirian sekarang di istana sebesar ini"
"Mulai sekarang aku ibumu, kau tidak sendiri karena kau punya aku, ayahmu, Jisoo, Heesoo, paman Alex, paman Sungjong, paman Seungho, paman Kyuhyun, bibi Eunji, bibi Sohee, dan semua anggota istana ini adalah keluargamu jadi jangan bersedih lagi nde anak manis. Aku akan menyayangimu sama seperti Jisoo dan Heesoo juga adik bayi yang akan lahir beberapa bulan lagi"
"Benarkah ibu?" ucap Jungsoo yang sudah berubah tidak bersedih lagi.
"Nde, mulai sekarang aku adalah ibumu. Ayo kau harus menyingkir dari sini agar ibu Sowon dapat segera dikremasi, agar arwahnya bisa tenang bersama tuhan dilangit" ucap Suzy segera menggendong Jungsoo dan membawanya menyingkir dari peti Sowon.
"Berikan Jungsoo padaku dia pasti berat, kandunganmu juga masih lemah." ucap Myungsoo yang mengulurkan tangannya pada Suzy, namun Suzy menggelengkan kepalanya karena Jungsoo yang tengah memeluk lehernya dengan erat seolah dirinya juga tidak mau ikut Myungsoo.
"Baiklah. Pastikan perutmu itu baik-baik saja, segeralah ke kamar dan istirahat jangan ikut ke tempat kremasi. Biar Sohee menemanimu di dalam istana karena bahaya pasti masih sedang mengincarmu, jangan makan atau minum apapun sesuatu yang mencurigakan"
"Hmmmm"
Myungsoo mengajak Sungjong dan beberapa prajurit untuk membawa peti Sowon menuju tempat kremasi diikuti beberapa anggota istana dan juga pejabat serta kerabat istana. Suzy dan Sohee membawa pulang Jungsoo ke istana tempat Suzy tinggal bersama Myungsoo dan juga anak-anaknya.
"Ibu, kenapa kau menggendong Jungsoo hyung?" ucap Jisoo yang berlari menghampiri ibunya yang baru masuk kedalam rumah.
"Hust, Jungsoo sedang tidur jangan berisik. Jia, Chaekyung tolong siapkan kamar untuk Jungsoo, mulai hari ini dia akan tidur disini" ucap Suzy yang langsung diangguki pelayan setianya, dan memberikan Jungsoo pada Jia agar ditidurkan diranjang Jisoo.
"Ibu kenapa Jungsoo harus tinggal dengan kita? Ibunya kan jahat pada kita" protes Jisoo yang masih belum terima.
"Ibu Jungsoo baru saja meninggal sayang, apa kalian tidak kasihan padanya. Dia saudaramu juga jadi jangan memusuhinya karena Jungsoo tidak punya siapa-siapa, kalian mengertikan ucapan bibi" ucap Sohee menjelaskan.
"Mengerti bibi"
"Kalian temani Jungsoo ya, hibur dia saat dia bangun nanti karena dia kakak kalian" perintah Suzy pada kedua anaknya.
"Nde ibu, ayo Jisoo" ucap Heesoo mengajak adik kembarnya menuju kamar mereka untuk melihat Jungsoo.
"Zy, kira-kira siapa yang ingin membunuhmu? Musuhmu didalam istana ini hanya Sowon dan ibu suri, jika ibu suri yang melakukannya harusnya Sowon tahu dan tidak gegabah meminum tehmu"
"Aku juga tidak tahu Sohee, siapa yang sedang memainkan peran seperti ini. Jika bukan ibu suri dan Sowon lalu siapa?"
"Kita hanya bisa menunggu hasil penyelidikan Kyuhyun. Aku tidak bisa membayangkan jika kau yang meminum teh itu tadi"
"Aku juga Sohee, namun mungkin bayiku peka makanya saat teh itu disajikan dengan beberapa makanan lain rasa didalam perutku terus bergejolak hebat sehingga membuatku tidak memiliki selera untuk menyentuhnya, namun siapa sangka jika Sowon meminum tehku dia malah langsung meninggal. Racun didalam tehku pasti sangat kuat sekali"
"Semoga saja istana segera mengungkap kasus dibalik rencana pembunuhan ini"
"Aku harap begitu"
Malam hari.
Myungsoo masuk kedalam kamarnya dengan Suzy, dan mendapati Suzy melukis disamping jendela sambil memperhatikan bulan sabit yang baru saja muncul diawal bulan ini.
"Kenapa belum tidur Zy?" tanya Myungsoo yang menutup pintu kamar dan menghampiri Suzy.
"Bagaimana proses kremasinya?" ucap Suzy berbalik tanya.
__ADS_1
"Semua berjalan dengan lancar, namun kedua orangtua Sowon ingin abu anaknya dibawa pulang ke Ansan, tempat mendiang Sowon dilahirkan. Mereka ingin menemuimu besok untuk membahas Jungsoo, mereka ingin menemuimu untuk mendapatkan persetujuanmu agar mereka dapat membawa Jungsoo pulang bersama mereka. Aku tidak keberatan jika Jungsoo dibawa orangtua Sowon karena bagaimanapun mereka adalah kakek dan nenek Jungsoo, jadi mereka juga berhak atas Jungsoo"
"Aku ingin Jungsoo tinggal disini bersama kita, walau kau tidak mencintai ibunya tapi dia tetap anakmu dan dia berhak mendapatkan haknya sebagai pangeran di istana. Jika mereka ingin membawa Jungsoo maka aku tidak akan pernah mengizinkannya? Bagaimana bisa kau sebagai ayahnya akan lepas tangan pada anakmu. Kalau kau tidak sayang dengannya tidak masalah tapi berikan hak Jungsoo tinggal disini, disini semua juga keluarganya"
"Baiklah-baiklah, terserah padamu. Aku mau membersihkan diri dulu sebelum tidur, kau juga harus istirahat ingat anak diperutmu juga butuh istirahat" ucap Myungsoo pada akhirnya karena tahu berdebat dengan Suzy dia pasti akan kalah.
"Hmm. Sana pergilah" ucap Suzy tanpa menoleh pada Myungsoo.
*
*
Kini Suzy duduk berhadapan dengan kedua orangtua Sowon yang memang menginginkan bertemu dengan Suzy. Suzy menunggu kedua orangtua Sowon yang gugup ingin mengutarakan maksud kedatangan mereka. Myungsoo yang memperhatikan ketegangan itu akhirnya membuka suara.
"Aku akan meninggalkan kalian bertiga agar kalian leluasa bicara. Bicaralah yang baik pada mereka Zy, paman bibi bicaralah pada istriku karena dia yang akan mengasuh Jungsoo" ucap Myungsoo yang kemudian pamit pergi meninggalkan ketiga orang tersebut.
"Tuan putri, maksud kami menemui anda. Aku dan suamiku ingin berunding masalah Jungsoo" ucap Ibu Sowon sedikit takut melihat ekspresi Suzy yang datar
"Lalu?"
"Begini tuan putri, aku dan istriku ingin meminta izinmu supaya Jungsoo putra dari pangeran Myungsoo dan putri kami bisa kami bawa pulang untuk tinggal di Ansan. Kami berjanji tidak akan mengusik kehidupan istana jika anda membiarkan Jungsoo bersama kami" kini Ayah Sowon yang bicara.
"Aku tanya apa kalian bisa menjamin bisa memberikan hidup layak untuk Jungsoo? Aku tidak bermaksud menghina kalian paman dan bibi tapi aku juga pernah hidup menjadi rakyat biasa selama 21 tahun di hidupku."
"Kami akan memberikan yang terbaik untuknya. Sowon putri kami satu-satunya yang saat ini sudah pergi, jika Jungsoo bersama kami maka kami akan merasa bahagia karena bisa mengingat Sowon yang meninggalkan putranya untuk kami asuh."
"Kalian sudah tua bagaimana jika kalian berdua meninggal saat Jungsoo masih berusia 10 atau 13 tahun, jarak Ansan dan Seoul lumayan jauh apa Jungsoo bisa kesini sendirian? Bagaimana jika dia tersesat apa kalian bisa paham itu?"
"Mohon ampun tuan putri, kami hanya orangtua yang tidak berguna hingga membiarkan putri kami menjadi istri kedua dari suami anda dan menimbulkan kesulitan untuk anda. Maka dari itu biarkan Jungsoo hidup dengan kami"
"Istana adalah keluarga Jungsoo sejak dia dilahirkan, jadi aku tidak akan membiarkan siapapun membawanya karena aku tidak mau Jungsoo bernasib sama seperti anakku selama 5 tahun ini yang hidup susah diluar istana. Mungkin ini terdengar egois jika kalian memaksa maka aku tidak akan pernah mengizinkan Jungsoo untuk bertemu kalian selamanya, pintu istana ini akan terbuka lebar jika kalian ingin menjenguknya jika dia tinggal disini." tegas Suzy.
"Mohon ampun tuan putri, kami tidak akan memaksa jadi tolong izinkan kami bertemu dengan Jungsoo kami sebelum kami kembali ke Ansan"
"Baik aku akan mengizinkan kalian bertemu dengannya, walau Sowon begitu jahat dan berniat mengambil suamiku, dia menciptakan fitnah hingga membuatku sengsara hidup diluar istana dengan kedua anakku namun aku sama sekali tidak membencinya. Untuk apa aku dendam pada orang yang sudah mati, dia hanya memiliki Jungsoo dan kemewahan namun aku memiliki hati Myungsoo. Aku slalu berusaha menganggap Sowon sebagai adikku jadi aku akan menjaga Jungsoo kalian dengan baik disini"
"Terima kasih tuan putri, anda sungguh baik dan bijak. Terimalah hormat kami" ucap ayah dan ibu Sowon yang berlutut memberikan hormat.
"Bangunlah, kalian tidak perlu begini padaku. " ucap Suzy panik dan berdiri agar orangtua Sowon menghentikan aksinya. Diluar pintu Myungsoo dan kedua pelayan setia Suzy tersenyum haru.
"Tuan putri sungguh dewasa sekali pangeran. Semoga saja ini saatnya anda dan putri menyambut bahagia, karena semua akan indah pada waktunya."
"Benar Jia. Aku sungguh terharu dengan tuan putri yang juga begitu baik pada kita selama ini"
"Kalian ini, hentikan tangis haru kalian. Sebentar lagi kalian pasti akan dicarinya."
"Baik pangeran"
Saat ini Suzy mengantar kedua orangtua Sowon untuk menemui Jungsoo yang sedang bermain bersama anak-anak lain di taman belakang istana yang memang disediakan untuk para pangeran dan putri kecil keluarga istana dan bangsawan bermain.
"Jungsoo, kemari." panggil Suzy yang membuat Jungsoo menoleh dan berlari kearahnya.
"Nenek, kakek" ucap Jungsoo yang langsung memeluk kakek neneknya.
"Iya nak. Kami kesini ingin berpamitan untuk membawa abu ibumu pulang ke Ansan, kau harus baik-baik disini ya nak" ucap ibu Sowon berkaca-kaca sambil mengelus rambut cucunya.
"Apa kakek dan nenek akan membiarkan aku disini sendirian hiks...." ucap Jungsoo menangis keras.
"Nak, kami ingin membawamu pergi bersama kami tapi keluargamu ada disini. Kami tidak berdaya untuk mengasuhmu, memberimu pendidikan yang layak jadi kau harus baik-baik disini. Kakek dan nenek akan sering datang untuk menengokmu" kini sang ayah Sowon menasehati.
"Jungsoo ingin ikut kalian huuu hiks..."
"Jungsoo, kau disini dengan ayah dan ibu nde. Ingat Jungsoo akan punya adik bayi dan nanti kalau Jungsoo pergi siapa yang akan menemani Heesoo dan Jisoo menggambar dan menulis lagi, jadi Jungsoo tinggal disini saja nde" ucap Suzy dengan mengelus rambut Jungsoo.
"Kami pamit, tuan putri terima kasih sudah mau merawat Jungsoo kami"
"Jungsoo juga anakku jadi jangan khawatirkan apapun, kalian berhati-hatilah dijalan paman dan bibi. Pengawal akan mengantar kalian sampai di Ansan dengan selamat" ucap Suzy memegangi Jungsoo yang meronta ingin ikut kedua orangtua ibunya, Jungsoo hanya menangis hingga kakek neneknya menghilang dari kejauhan. "Ibu, aku mau ikut mereka huwa....."
"Jungsoo disini saja dengan ibu dan semua keluarga disini, jangan menangis karena mereka akan sering kesini menjenguk Jungsoo jika Jungsoo tidak nakal" ucap Suzy yang merangkul Jungsoo dengan erat walau terus meronta.
"Hey Jungsoo oppa, mau sampai kapan kau cengeng seperti Jisoo yang payah. Dasar anak laki-laki payah kalian ini, ayo cepat kita main lagi di taman" ucap Heesoo yang membuat Suzy geleng-geleng dengan kelakuan putri satu-satunya.
"Jungsoo, ayo main bersama yang lain. Jangan menangis terus kau bisa sesak napas" kini Jungshin yang mengajak Jungsoo.
"Ayo sana bermainlah dengan mereka, sudah jangan menangis lagi" ucap Suzy melepas pelukannya dan menghapus air mata Jungsoo.
"Ayo hyung, kita main bola" kini Jisoo datang menarik tangan Jungsoo dan membawanya ke area lapangan bermain.
Suzy hanya tersenyum menyaksikan semua itu sambil mengelus perutnya yang sudah sedikit membuncit padahal usianya baru 3 bulan.
"Semoga kau membawa kebahagiaan untukku dan semua anggota istana, semoga ini akhir yang indah walau aku belum tahu siapa yang ingin membunuhmu namun aku harap kau kuat untuk berjuang bersamaku dan ayahmu. Kebenaran akan slalu menang melawan kejahatan" ucap Suzy yang tersenyum kemudian berjalan menghampiri para anak-anak yang sedang bermain dengan para pengasuh mereka.
__ADS_1