
Sudah sepekan Suzy berada di rumah keluarga Sungjong, Suzy hanya melamun ditaman belakang rumah Sungjong sambil berpikir akan kemana dia setelah ini karena tidak mungkin dia akan menumpang disini terus-menerus karena itu akan membahayakan dirinya sendiri. Lama-lama perutnya juga akan membesar dan itu bisa membuat masalah besar bagi dirinya.
"Aish eottokhe! Apa yang harus ku lakukan dengan kalian nak? Jika kita disini maka ibu suri pasti berniat membunuh kita nantinya, dia hanya ingin Sowon dan anaknya itu yang mewarisi tahta. Ayahmu saja sekarang lebih perhatian dengan mereka daripada dengan kita, kau masih kecil nak apa kau mengerti yang ku katakan? Kenapa takdir ibumu ini buruk nak padahal dulu imlian ibumu ini hanya menikah dengan rakyat bisasa dan kami saling mencintai kemudian bahagia selamanya, namun malah ibumu menimah dengan pangeran negara ini dengan tidak terduga huft.. Aish.." ucap Suzy mengelus perutnya sambil berkomunikasi dengan anaknya.
Suzy menikmati udara dan pemandangan dirumah Sungjong yang sekarang menjadi tempat favoritnya dalam menggambar. Semua yang sayang padanya selalu menemaninya bergantian dan membujuknya untuk kembali ke istana namun dirinya enggan apalagi melihat perubahan Myungsoo yang tidak peduli padanya membuatnya semakin ingin pergi meninggalkan istana, Myungsoo adalah alasannya bertahan untuk tetap tinggal namun jika Myungsoo saja lebih memilih Sowon lalu apa yang bisa dilakukan Suzy selain pergi menghilang.
"Udara makin dingin karena anginnya kencang, ayo masuk. Kau bahkan tidak membawa baju hangatmu ketika duduk disini" ucap Sohee memberikan baju hangat untuk Suzy dan duduk disisi kirinya. Eunji ikut duduk disisi kanannya.
"Aku tidak merasa kedinginan, aku suka disini yang sejuk dan aku bisa melukis banyak lukisan disini" ucap Suzy membalas ucapan Sohee.
"Zy, kau benar tidak ingin kembali ke istana lagi. Memang di istana tidak ada atau tepatnya belum ada yang menyadari kepergianmu karena mereka masih sibuk dengan kehadiran Jungsoo. Tapi kepergianmu akan membuat Sowon semakin bahagia karena merasa kau sudah tersingkir dari sisi hidup Myungsoo tanpa dia berusaha apapun. Dia memanfaatkan kesimpatian Myungsoo agar bisa mencintainya, namun percayalah Myungsoo hanya mencintaimu. Apa kau yakin tidak mau pulang ke istana? Istana adalah rumahmu Zy" kini Eunji mencoba membujuk Suzy agar kembali ke istana.
"Aku sudah tidak mau peduli lagi pada mereka, mau mereka bersama atau tidak aku sudah tidak peduli lagi. Dia juga sudah mengusirku jadi berhentilah kalian untuk membujukku kembali ke istana dan pura-pura menjadi terhormat karena aku sudah muak disana. Myungsoo itu hanya tunduk pada kekusasaan istana saja, dia tidak bisa mengerti perasaanku, saat ini yang benar hanya Sowon, Sowon dan Sowon saja dipikirannya" teriak Suzy kesal.
"Zy kendalikan emosimu, kami tidak akan memaksamu kembali ke istana lagi jadi tenanglah. Kami hanya ingin yang terbaik untukmu" ucap Sohee memeluk Suzy dari samping.
"Lalu apa yang akan kau lakukan Zy? Kau tidak berniat merencanakan pergi yang jauh dari kamikan?"
"Aku berencana kembali ke rumah di Busan dan bekerja disana lagi atau menyusul kakak ke Sokcho, aku sudah menceraikan Myungsoo secara lisan jadi aku tidak bisa disekitar istana lagi karena itu akan membuat mereka bahagia karena sudah bisa menginjak harga diriku."
"Zy kenapa jadi begini hiks..., kita datang bersama namun kenapa takdir cintamu dengan Myungsoo harus jadi tragis begini, tragedi demi tragedi terus saja datang padamu jika aku menjadi dirimu apa aku bisa sekuat dirimu? Aku pasti tidak akan bisa. Kau disini saja tidak perlu pergi kemanapun, ibu dan ayah pasti tidak akan keberatan jika kau tinggal disini bersama kami"
"Sudahlah Sohee, aku tidak apa-apa. Aku akan sering mengunjungimu nanti, dan kau juga bisa datang kapanpun kau mau jika kau rindu padaku"
"Apa keputusanmu tidak bisa diubah lagi, aku akan bicara pada Myungsoo. Kalian hanya salah paham saja karena sandiwara yang dilakukan Sowon, kenapa kalian begitu egois dan keras kepala mementingkan ego kalian"
"Biarkan saja Eunji, aku akan baik-baik saja tanpa Myungsoo jadi kau tidak perlu menjelaskan ataupun bicara apapun pada Myungsoo mengenai diriku karena aku ini tidak penting untuknya jadi semua akan percuma"
"Sudah sore, mari kita masuk kedalam" ajak Sohee setelah memberi isyarat pada Eunji agar tidak bicara lagi karena itu akan membuat Suzy semakin emosi.
Malam harinya.
Sungjong dan Sohee berbincang diatas ranjang mereka, membicarakan bagaimana hubungan Myungsoo dan Suzy yang terus saja seperti ini.
"Bagaimana keadaan du istana?"
"Masih seperti biasanya. Mereka masih berbahagia dengan adanya Jungsoo jadi semua memuji Sowon, tidak ada yang memperdulikan kepergian Suzy atau tepatnya belum menyadari kepergiannya selain kita"
"Apa Myungsoo juga benar-benar tidak memperdulikan Suzy lagi? Ada dia benar-benar sudah berubah hati mencintai Sowon sekarang hingga tidak mau peduli pada cintanya ke Suzy lagi. Apa cinta mereka yang tumbuh bertahun-tahun hanya seperti ini pada akhirnya."
"Mana mungkin Myungsoo mencintai Sowon dan tidak peduli lagi pada Suzy, jangan sembarangan sayang. Aku yakin mereka hanya salah paham saja, Myungsoo bukan tidak peduli pada Suzy namun Myungsoo masih merasa bersalah pada Sowon karena dia yang menyebabkan Sowon terjatuh dan bahkan Sowon hampir merenggang nyawa demi calon pangeran istana jadi mana mungkin Myungsoo tidak merasa bersalah. Suzy baik-baik sajakan? Aku sedikit khawatir melihat wajah murungnya itu selama berada disini"
"Suzy ya tetaplah Suzy yang keras kepala seperti itu, namun aku tahu batinnya saat ini sedang terluka karena memikirkan perasaannya dengan Myungsoo. Tapi Sungjong, Eunji merasa ada hal yang ganjal terjadi pada malam itu. Atau jangan-jangan..."
"Sudah, jangan pikirkan mereka, tidurlah. Kau pasti juga lelah."
"Baiklah, kau juga. Kau pasti lelah seharian aktivitas diistana"
"Itu sudah tugasku, sayang"
"Baiklah. Selamat malam"
*
*
*
Pagi ini Eunji mengajak Myungsoo untuk bicara berdua ditaman dekat perpustakaan dimana mereka sering menghabiskan waktu belajar mereka dulu. Sudah setengah jam keduanya duduk namun Eunji masih diam sambil melihat kolam ikan yang bersebrangan dengan taman.
"Ada apa kau mengajakku bertemu? Apa hanya untuk diam saja. Aku ada pekerjaan didepartemen pemerintahan"
"Myung, sudah seminggu Suzy pergi. Apa kau tidak ingin menjemputnya dirumah seketaris Lee? Apa kau sudah tidak mencintainya lagi"
"Biarkan saja. Dia yang ingin pergi untuk apa aku menjemputnya, biarkan dia melakukan apa yang dia suka? Kau tau setiap kata yang keluar dari mulutnya itu seperti pisau yang ingin menusukku hingga ke hati. Dia bilang aku sudah mati dan memakiku, kali ini aku tidak akan mengalah padanya. Mana ada istri yang begitu jahat pada suaminya, tapi yang membuatku kesal dia kehilangan rasa ibanya pada Sowon. Jelas-jelas saat kelahiran Jungsoo itu aku yang menabraknya hingga menyentuh meja dan membuat Sowon hampir mati tapi Suzy memfitnah bahwa Sowon sedang berpura-pura. Ini membuatku kesal dan sedih karenanya? Karena iri pada Sowon yang melahirkan Jungsoo membuatnya jadi begini. Bagaimanapun aku tidak bisa menghilangkan keberadaan Sowon dan juga Jungsoo dalam hidupku walau mereka tragedi diluar dugaanku" ucap Myungsoo kesal dan mengeluarkan uneg-uneg dihatinya.
__ADS_1
"Kalau begitu hilangkan saja keberadaan Suzy? Suzy cemburu berarti dia sangat mencintaimu. Saat kelahiran Jungsoo kau hanya melihat Sowon yang sedang kesakitan, tapi apa kau tahu hati Suzy juga sangat sakit karena itu" ucap Eunji dengan kalem dan bijaknya.
"Hari itu Sowon berada diambang kematian Eunji, mana bisa aku memikirkan bagaimana perasaan Suzy lagi"
"Pantas saja Suzy ingin pergi meninggalkanmu dan istana selamanya. Karena dimatamu hanya ada Sowon, Sowon dan Sowon bukan Suzy lagi, kasihan Suzy yang malang padahal dia wanita yang tegar. Demi kau dia menahan segalanya, merelakan segalanya dan melakukan hal yang tidak dia sukai demi dirimu. Dia sudah menahan diri dan bertahan begitu lama namun dia tetap kehilanganmu, aku merasa ada ketidakadilan padanya lagipula Suzy memfitnah Sowon atau tidak kita tidak tahu kebenarannya. Jika aku jadi kau maka aku akan bertanya pada tabib yang membantu Sowon melahirkan malam itu, apakah malam itu dia melebih-lebihkan keadaan Sowon yang sekarat atau tidak? Diambang kematian itu benar atau rekayasa saja kita tidak tahu?"
"Masalah seperti itu mana mungkin rekayasa atau bohong, Eunji! ini bukan hal main-main tapi menyangkut nyawa seseorang bagaimana bisa ini sandiwara"
"Demi mendapatkan kasih sayangmu, demi kedudukan, demi harta dan demi tahta istana. Semua yang terjadi malam itu bisa saja rekayasa karena aku juga berada disana malam itu. Saat ibu suri akan pulang bersamaku tabib sempat berkata bahwa semua akan baik-baik saja, beberapa waktu ini Sowon juga sering bicara banyak hal pada ibu suri jadi aku merasa ada yang janggal dengan semua ini. Atau semua yang terjadi memang sudah direncanakan matang-matang sebelumnya untuk menarik perhatianmu agar bersimpati dan berubah menjadi mencintainya"
"Eunji, apalagi yang kau tahu? Segera Katakan padaku semuanya. Aku harus tahu kebenaran yang tertutupi" tanya Myungsoo memaksa sahabatnya bercerita lebih dalam.
"Kau pikirkan baik-baik semua ucapanku dan cari tahu sendiri kejelasannya tentang ini, jangan menjadi pria yang bodoh hanya karena rasa kasihan. Aku membantumu sudah cukup Myung karena kau sudah seperti saudaraku sejak kecil, namun jika kau masih belum mengerti juga tanyakan pada tabib yang bertugas malam itu. Myung, jika kau tidak bersama Suzy maka aku tidak tahu kapankah aku dan Seungho akan bersatu. Aku pergi, pikirkan semuanya baik-baik sebelum kau mengambil keputusan untuk bertindak, Suzy mungkin akan pergi jauh jika kau tidak segera menyelesaikan masalah kalian, dan kau mungkin tidak akan bisa menemuinya lagi. Pikirkan itu baik-baik Myung dan segeralah berrindak cepat" ucap Eunji yang langsung pergi meninggalkan Myungsoo yang masih duduk termenung dan berpikir.
Dengan tergesa-gesa Myungsoo masuk ke dalam paviliunnya setelah termenung cukup lama dan bertanya banyak hal pada tabib mengenai kondisi kejelasan Sowon malam itu, ternyata Sowon dan ibu surilah yang menjadi dalang dibalik semua kejadian itu. Myungsoo masuk kamar dan duduk sebentar sambil berpikir untuk memulai pembicaraan namun Sowon malah datang mendekat dengan membawa Jungsoo ditangannya.
"Myung, kau tidak ingin menggendong Jungsoo. Lihatlah dia begitu menggemaskan" ucap Sowon yang membuat Myungsoo berdiri melihat kearah bayi kecil berumur satu bulan tersebut. Myungsoo menerima uluran Sowon untuk menggendong Jungsoo "Lihatlah Myung, semakin hari dia semakin mirip denganmu mulai mata, bibir, hidungnya dan bahkan tersenyumpun dia mirip denganmu"
"Untuk apa dia datang ke dunia? Masa depannya, siapa yang tahu akan jadi seperti apa?"
"Apa yang kau katakan? Tentu saja masa depannya adalah terlahir menjadi orang kaya, karena dia lahir dengan mengigit sendok emas. Pertalian darah merupakan hal aneh pantas saja orang korea mementingkan anak setelah mereka menikah, wajahnya mirip denganmu dan mirip dengan raja. Myung, akhirnya tugasmu selesai karena kau tidak akan memikul doa dalam kebaktian setelah mempunyai anak seperti Jungsoo yang akan menjadi penerusmu"
"Sudahlah, bawa dia ke kamarnya. Dia masih kecil jangan dibawa berkeliaran karena angin diluar sangat berbahaya untuk tubuhnya"
"Eunha, tolong bawa Jungsoo ke kamarnya" ucap Sowon mengambil alih Jungsoo dan membawanya pada Eunha.
"Saya akan bawa pangeran kecil, selamat bersenang-senang nyonya" goda Eunha lirih sambil membawa Jungsoo keluar. Sowon tersenyum.
"Myung, apa kau sedang merindukan kakak? Jika kau rindu kakak Suzy, jemputlah. Aku tidak keberatan jika kau ingin menjemputnya"
"Sowon, ada yang ingin ku tanyakan padamu? Kau harus menjawabnya dengan jujur"
"Nde, apa yang ingin kau tanyakan? Aku akan menjawabnya dengan jujur"
"Saat kau akan melahirkan Jungsoo, aku yang menabrakmu hingga menyentuh meja atau kau yang sengaja menabrakkan diri hingga jatuh menabrak meja." ucap Myungsoo dengan datar pada Sowon sambil berdiri melihat kearah luar jendela.
"Aku hanya mau jawaban jujur darimu Kim Sowon! Kau bermain dengan bahaya dan menabrakan dirimu sendiri ke meja bukan? Mempertaruhkan nyawa anak untuk bermain bahaya, kau sengaja karena ingin membuatku merasa bersalah dan bersimpati padamu bukan? Jawab! Ingat, Aku hanya mau jawaban jujur darimu" geram Myungsoo sambil mencekal tangan kiri Sowon hingga kesakitan.
"Tidak, tidak mana boleh kau menuduhku begitu. Aku bukan orang seperti itu Myung, percaya padaku." ucap Sowon gugup karena dituduh dan terus didesak oleh Myungsoo.
"Aku hanya ingin jawaban jujur, Sowon. Aku tanya sekali lagi kau sengaja menabrak meja sendiri atau aku yang menabrakmu? Jawab"
"Yaaa kenapa kau memaksaku untuk mengakuinya Myung?" ucap Sowon mencoba melepaskan cengkraman Myungsoo pada lengannya namun Myungsoo terus mencekalnya dengan kuat hingga Sowon terus meringis kesakitan.
"Aku mau jawaban jujur Kim Sowon. Cepat katakan karena jika kau berbohong maka Jungsoolah nantinya yang akan mendapatkan karmanya, karma dari setiap perbuatanmu" ucap Myungsoo dengan nada marah yang ditahannya.
"Kalau menerima karma biar aku saja yang menerimanya, jangan Jungsoo. Jungsoo tidak tahu apa-apa" teriak Sowon sambil menangis tersedu "Malam itu walau bagaimanapun aku berusaha menahanmu tapi kau tetap tidak mau tinggal didalam kamarku, kau begitu dingin padaku jadi aku harus bagaimana? Malam itu kebetulan kau mendorongku jadi aku pikir paling aku hanya akan mati saja jika aku menabrak meja, tapi aku tidak menyangka jika benturan itu hampir membuat nyawa Jungsoo gugur. Myung, pandanglah aku yang sudah mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan anakmu, jangan marah padaku. Aku juga tidak tahu jika Jungsoo juga memilih hari itu untuk dilahirkan kedunia. Namun aku diberkati tuhan hingga tidak terjadi apapun padaku, aku sudah menderita dan mendapatkan karma jadi jangan marah lagi"
"Kau tahu, kau membuatku menjadi seorang pria yang tidak berhati nurani pada Suzy hanya karena membelamu yang ternyata begitu licik"
"Myung, kau juga harus memikirkan aku. Kalau bukan karena aku mencintaimu aku juga tidak akan mempertaruhkan nyawaku untuk bertahan, mungkin saja hari itu aku mati" ucap Sowon kini menangis sambil berlutut didepan Myungsoo.
"Kau sopan, cerdas, lembut dan disukai banyak orang tapi kau sungguh licik hingga membuatku takut. Suzy bahkan tidak berkata apapun, untuk menemuiku saja dia sudah tidak mau. Tapi kau bilang dia menghasudku, itu yang membuatku semakin yakin bahwa kau memang licik dan menakutkan" ucap Myungsoo sambil mendorong Sowon dan pergi keluar kamar Sowon.
"Myung, Myungsoo kau mau kemana? jangan pergi, jangan tinggalkan aku" teriak Sowon sambil menangis tersedu-sedu.
*
*
Sore itu Myungsoo langsung pergi ke rumah seketaris Lee setelah mendapatkan semua pengakuan dari Sowon, saat masuk dia disambut oleh ibu dari Sungjong yang membukakan pintu.
"Anyeong bibi, selamat sore"
"Pangeran Myungsoo, silahkan masuk. Saya akan membuatkan anda teh" ucap ibu Sungjong mempersilahkan Myungsoo masuk.
__ADS_1
"Tidak usah bibi, saya hanya ingin bertemu dengan Suzy. Apa Suzy ada?" tanya Myungsoo yang masih berdiri diruang tamu.
"Suzy ada dibelakang bersama Sohee, setiap sore mereka selalu berada disana biasanya putri Eunji juga kesini. Mari saya antar pangeran" jawab Ibu Sungjong membawa Myungsoo ke taman belakang dimana Suzy dan Sohee bercanda mengomentari gambar Suzy.
"Gomawo bibi"
"Apa yang kau katakan. Jangan begitu, kau itu sudah seperti anakku juga"
Ibu Sungjong berjalan dengan Myungsoo menuju taman belakang rumah, terlihat jika Sohee bercanda dengan Suzy yang terlihat menggambar. Myungsoo merasa sangat bersalah melihat Suzy yang kini terlihat lebih kurus dari sebelumnya, pasti berat semua yang dilaluinya.
"Suzy, Sohee lihat siapa yang datang? Pengeran Myungsoo" ucap Ibu Sungjong menegur Suzy dan Sohee yang sedang bercanda langsung terdiam melihat Myungsoo berjalan mendekat.
"Untung apa kau datang kesini, aku sedang tidak ingin menemuimu. Jadi pergilah" ucap Suzy langsung berdiri ingin pergi namun dicegah Myungsoo.
"Hey, Kim Suzy dengarkan aku, aku telah salah paham tentang banyak hal padamu. Kau juga sudah beberapa hari ini tinggal disini, apa emosimu masih belum reda juga? Aku akui aku banyak salah padamu namun aku ini manusia yang tidaklah luput dari kesalahan, jangan buang waktu kita hanya untuk saling kesal, jangan berpisah dan kita harus menghargai saat-saat kebersamaan kita. Ayo kita baikan, aku datang kesini untuk menjemputmu" ucap Myungsoo dengan wajah memelas dan memegang tangan Suzy.
"Aku tidak mau dengar apaun perkataanmu pangeran Myungsoo, jadi pergilah! Bukankah kau yang bilang jika aku pergi jangan pernah kembali kembali selamanya" ucap Suzy menampik tangan Myungsoo dan membalikan badannya.
"Kata-kata itu aku menggunakannya karena aku emosi, aku tarik kembali ucapanku waktu itu"
"Kau tarik kembali? Kau pikir kata-kata yang sudah diucapkan bisa ditarik kembali. Ku katakan sekarang padamu bahwa aku tidak akan pulang, aku tidak akan kembali kesana lagi. Untuk apa aku pulang? Untuk melihat suami yang sudah jatuh cinta pada wanita lain, dan untuk seorang musuh yang aku harus sebut raja. Aku.. "
"Kecilkan suaramu, ada ibu Sungjong dan Sohee" ucap Myungsoo menutup mulut Suzy namu segera ditampik Suzy.
"Aku tidak sedang di istana kenapa aku harus mengecilkan suaraku, disini tidak ada yang dengar jadi aku tidak perlu pura-pura menjadi terhormat lagi hanya untukmu"
"Apa kau tidak takut melibatkan paman dan bibi? Ayo kita bicara empat mata"
"Tidak bisa, aku tidak mau bicara lagi berdua denganmu, tidak ada yang ingin ku bicarakan padamu. Sejak hatimu memilih Sowon, aku sudah putus hubungan denganmu dan aku juga sudah mengatakan walau kau datang berlutut, membawa mobil, kereta atau kuda aku tidak akan pernah kembali padamu dan kembali ke istana"
"Suzy"
"Suzy, Myungsoo kalian bicarakan masalah kalian baik-baik jangan memakai emosi. Aku akan membiarkan kalian bicara empat mata. Ayo ibu kita pergi" ucap Sohee mengajak ibu mertuanya pergi.
"Sohee, tunggu kau harus jadi saksiku" ucap Suzy berlari kearah Sohee yang hendak pergi bersama ibu mertuanya. "Kau harus jadi saksiku bahwa mulai saat ini aku dan Myungsoo bukan suami istri, bukan juga teman. Orang ini membuatku perlahan-lahan menjadi orang lain dan melupakan diriku yang sebenarnya, orang ini sungguh kejam aku tidak mau lagi menjadi kucing piaraannya"
"Suzy, pandanglah pangeran Myungsoo yang datang kesini sendiri untuk menjemputmu. Mundur selakangkah bisa membuat luas dunia, bicaralah aku dan Sohee akan menyiapkan malam malam untuk kita semua" Ucap ibu Sungjong yang kemudian mengajak Sohee pergi.
"Zy, dengar" Ucap Myungsoo menarik tangan Suzy agar mendekat namun ditampik
"Lepaskan..."
"Suzy"
Myungsoo terus menarik Suzy hingga bisa membawa Suzy kepelukannya walau Suzy terus meronta. "Suzy maafkan aku, aku yang salah aku telah kilaf dan banyak salah padamu. Setelah kau pergi beberapa hari ini membuatku memikirkan banyak hal, aku juga sudah mencari tahu dan bertanya pada Sowon hingga menemukan jawaban bahwa Sowon sengaja melakukan semua ini pada kita." Ucap Myungsoo, dirasa Suzy tidak meronta dia melepaskan pelukannya dan memegang pundak Suzy. "Aku menyukaimu bahkan sangat mencintaimu, aku yang dulu begitu menginginkanmu hingga semua pernikahan kita terjadi"
"Semua sudah tidak ada gunanya lagi, semua sudah terlambat Myung. Aku sudah memaafkanmu berulang kali bahkan aku selalu merasa bahwa status ini dan kehidupan ini tidak pantas untukku, aku terus mengalah padamu, demi kau aku merubah diriku, mengakui pembunuh ayahku sebagai mertua, belajar ini itu untuk menjadi terhormat namun semua ini tidak berarti saat kau kini mencintai Sowon" Teriak Suzy dengan sendu didepn Myungsoo.
"Aku tidak jatuh cinta padanya, aku hanya kasihan padanya"
"Tidak, kau mencintainya buktinya kau membuatnya hamil, kau menjaganya sepanjang malam disamping ranjang, kau bahkan mempercayai kata-katanya daripada kataku. Kau membuatnya berdiri diatas kepalaku dengan sah, dan apa kau bisa mengerti perasaanku? Marah padaku, dingin padaku, mengabaikan aku. Kenyataan adalah kenyataan tapi kau bilang kasihan sampai pada tahap ini, aku sudah memutuskan untuk tidak menginginkanmu lagi jadi aku menceraikanmu" Ucap Suzy berpaling ke arah lain.
"Bukan begitu, kita hanya salah paham. Jangan marah lagi" Ucap Myungsoo terus mendekati Suzy.
"Kau yang membuat kesalahpahaman itu ada Myung, dihatimu sudah ada orang lain makanya kesalahan ini muncul"
"Mari kita selesaikan kesalahpahaman ini sekarang, aku lelah kita bertengkar hanya karena Sowom"
"Apapun upaya dan penjelasanmu itu sudah percuma. Aku sudah tidak mencintaimu lagi" Ucap Suzy berbalik arah membelakangi Myungsoo.
"Ucapaanmu tidak sesuai hatimu. Kau hanya sedang marah, mana mungkin dihatimu sudah tidak ada aku?"
"Itu hanya pemikiranmu yang bertepuk sebelah tangan namun nyatanya aku sudah tidak mencintaimu lagi. Aku benci hidup dalam penderitaan, semua yang kau berikan padaku hanyalah penderitaan. Aku ingin bahagia makanya aku memecatmu dan menceraikanmu dari hatiku" Ucap Suzy berbalik ke Myungsoo lagi. Myungsoo yang mendengar pernyataan tersebut mendekat dan memegang tangan Suzy.
"Aku tidak kenal pengakuan salah dan minta maaf, demi kau sudah ku lakukan semuanya. Aku sudah merendahkan harga diriku dan egoku berharap bisa mendapatkan maafmu dan kembali seperti dulu. Apa benar kau tidak mencintaiku lagi? Tidak mau memberiku kesempatan lagi"
__ADS_1
"Benar, aku sudah tidak mencintaimu lagi jadi aku tidak akan pernah memberikan kesempatan untukmu." Ucap Suzy melepas tangannya dari Myungsoo dan pergi menuju kamarnya, Myungsoo juga terdiam setelah mendengarkan pengakuan Suzy itu, hatinya sungguh hancur bagaikan dipukul oleh besi panas.
Didalam kamar Suzy mondar - mandir sambil terus berpikir apa yang harus dilakukannya. Akhirnya dia duduk diranjang. " Aish apa yang harus ku lakukan, aku tidak bisa terus tinggal disini? Perutku akan semakin membesar dan bisa ketahuan jika aku sedang hamil sedangkan aku sudah tidak bisa bersama Myungsoo lagi, jika aku disini pasti aku akan ketahuan hamil oleh istana dan ibu suri pasti akan menyingkirkan anakku, dia tidak akan membiarkan hidupku tenang. Ayo Suzy berpikir, kau akan kemana aish.." Gerutu Suzy sambil terus berpikir dan gelisah kemana dia akan pergi.