Unknown Baby

Unknown Baby
Cake


__ADS_3

Aslan tak berdaya saat ini, rasa bersalah itu memenuhi jiwa dan raganya yang sakit. Air matanya terus mengalir. Bisa dibilang dia adalah pengantin baru, bukannya membawa kebahagiaan untuk Mila tetapi malah bencana.


Dia ingat betul seberapa banyak mimpi yang belum diwujudkan bersama Mila, bahkan dia hanya satu kali ke rumah orang tua istrinya itu di Lampung. Sekarang semua berantakan, bahkan keberadaan wanita yang dia cintai itu pun tak tahu.


Tiba-tiba Aslan teringat senyum terakhir Archie, kakaknya. Saat itu Archie dengan ceria memberi tahu ke semua orang bahwa dia tengah hamil. Ren di sampingnya saat itu, ikut berbahagia. Aslan menghitung dengan jarinya, mencoba menebak apakah kakaknya itu melahirkan sebelum meninggal atau tidak. Dia kenal Archie dan Mila, mereka pasti berusaha untuk menyelamatkan bayi itu.


Aslan bertekad untuk menggali jejak Mila dan bayi kakaknya di Lampung setelah sembuh. Harapannya untuk terus hidup selain balas dendam adalah menemukan keluarganya kembali. Ponakan dan istri manisnya.


Tubuh yang dipenuhi perban itu tak berdaya, bersyukur ada sahabatnya yang melindungi. Jika tidak mungkin sekarang mayatnya sudah mengapung di laut dan menjadi makanan ikan. Berurusan dengan WterSun memang bencana.


Sementara itu, di dalam rumah bercat coklat Faiq tengah bermain dengan Yuno. Bayi jabrik itu duduk di dadanya. Tangannya memainkan bibir Faiq yang mengeluarkan bunyi aneh. Sesekali Yuno tertawa merasakan geli sembari menepuk nepuk wajah sang ayah dengan tangan mungilnya.


Bayi jabrik berusia tujuh bulan yang mulai merangkak. Jika ditinggal sebentar bisa dalam bahaya, Faiq dan Myesha semakin kualahan menjaga. Mereka terus bergantian dan tak pernah meninggalkan Yuno sendirian.


Penculikan beberapa bulan lalu menjadi pelajaran penting bagi mereka, tak boleh sampai terulang kembali.


"Allahul kaafii rabbunal kaafi

__ADS_1


Qashadnal kaafi wajadnal kaafi


Likullin kaafi kafaa nal kaafi


Wa ni’mal kaafi Alhamdulillah."


Faiq membacakan sholawat untuk Yuno, masih dengan bayi itu duduk di dadanya dengan tubuh kecil yang dia pegang. Sebagai pelajaran, Faiq mendidik Yuno sejak kecil. Sering memperdengarkan sholawat. Kadang cerita tentang nabi walaupun Yuno belum mengerti. Faiq ingin Yuno tumbuh menjadi anak yang memiliki akhlak baik, membiasakan diri dengan kebaikan dan dekat dengan Tuhan sejak dini.


"Jtatajaha jha dta." Bayi itu tampak riang bersama Ayah angkatnya. Ntah berapa kali dia mendengar sholawat itu, tapi yang pasti Yuno selalu senang mendengarkan.


Tiba-tiba perut Faiq berbunyi, Yuno semakin tertawa mengira bunyi itu berasal dari bibir Faiq lagi. Perlahan Faiq duduk, masih memangku bayi gembul. Ia melirik jam dinding. Pukul sebelas.


"Bunda lama banget ya ke pasar, kamu lapar nggak?" Faiq berbicara kepada Yuno seolah bayi itu mampu menjawab.


"Datajaha jha dta."


Hanya balasan suara yang tak jelas dengan tangan mungil yang terus bergerak. Faiq tersenyum sembari mengusap rambut jabriknya. Seberapa pun rambut itu diusap tak pernah mau turun, tetap saja berdiri tegak layaknya antena.

__ADS_1


"Cari makan di dapur, yuk."


Dengan satu tangan Faiq menggendong Yuno, membawa bayi yang sudah bisa duduk itu ke dapur. Dia membuka tudung saji warna merah di meja makan. Hanya ada ikan asin sisa tadi malam. Sekali lagi perutnya berbunyi.


Pagi tadi mereka hanya makan bubur kacang ijo yang dibeli di mini market Riki. Sebagai catatan, sekarang mini market itu resmi menjadi milik Riki. Bahkan dia membangun lantai duanya untuk dijadikan tempat tinggal. Pemuda itu juga membeli mobil pick up, tak lagi ke sana ke mari belanja dengan vespa tua.


Faiq tak tahu Riki mendapat uang sebanyak itu dari mana, pernah dia iseng bertanya dan Riki hanya menjawab rezeki dari Allah lewat jalan yang dikehendakinya. Mendadak Riki menjadi Mamah Dedeh yang sedang khotbah pagi ketika ditanya soal rezeki.


Karena tidak ada lauk, Faiq putuskan membuka kulkas dan mencari roti di sana. Kemarin ada sisa cake dari Sella. Katanya sedang belajar buat cake sendiri. Lebih hemat dibanding beli, katanya.


Ia mengeluarkan cake itu, memotongnya. Secuil dia taruh di bibir Yuno. Bayi itu membuka mulutnya lebar, kemudian merasakan rasa manis di bibir. Tangannya mencoba meraih cake besar yang kini dimakan Faiq. Namun tak sampai. Faiq menjauhkannya.


"Padahal bentar lagi rewang tempat Pak Muslih. Kok Bundamu belum pulang," gerutunya.


Hari minggu ini ada hajatan tempat Pak Muslih, tetangga gang seberang. Sekarang hari H, tadi pagi dia sudah ke sana dan pulang atas permintaan Myesha yang katanya mau ke pasar. Sebelum siang dia harus kembali ke tempat Pak Muslih, malu kalau rewang cuma setengah hari.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2