Unknown Baby

Unknown Baby
Gunung


__ADS_3

Tatapan mata itu seakan menghanyutkan, mengajak Faiq untuk tenggelam lebih dalam dengan perasaan suka. Perasaan sayang menjadi cinta dari rasa cinta perasaan ingin memiliki sepenuhnya menjadi semakin besar. Dia ingin menandai bahwa Myesha adalah miliknya, untuknya dan hanya dia.


"Anu anu apa?" pertanyaan Myesha membalas tatapan Faiq.


Sudah Faiq duga bahwa kepolosan Myesha itu menyusahkan. Pria itu menyelesaikan memasang perban. Kemudian menyingkirkan peralatan supaya menjauh.


Dengan kedua lutut yang tertekuk Faiq menyeimbangkan tingginya. Perlahan meraih kedua pipi Myesha dengan tangannya.


"Begini," ucap Faiq sembari mencium bibir ranum itu. Mencoba praktek langsung tak hanya teori atau omong kosong. Lebih nikmat!


Kedua tangan Myesha meremas sprei. Jantungnya berdegup tak karuan. Ia memejamkan mata, mencoba menikmati lidah Faiq yang menyapu bersih bibirnya. Ciuman itu semakin menuntut tak hanya kecupan semata.


Faiq mengapsen gigi dan lidah gadis pujaannya, secara naluri dia menginginkan lebih. Pria itu menempelkan dahinya ke dahi Myesha, memberi kesempatan untuk mereka bernapas. Mata gadis itu perlahan terbuka, menatap Faiq yang meminta persetujuan. Tangan pria itu sudah berada di handuk Myesha, dengan satu gerakan bisa membuat handuk itu jatuh ke paha. Tetapi dia masih menunggu persetujuan yang ternyata Myesha tak paham. Sekali lagi Faiq harus menggunakan kalimat yang bisa istrinya pahami.


"Yuno aja udah pernah ngerasain, masa aku nggak boleh?" rayu Faiq dengan tatapan memelas.


"Aku malu," jawab Myesha jujur.


"Aku tahu kamu masih sakit, aku nggak minta melepas keperawananmu sekarang. Tapi nyicil boleh, 'kan?"


Faiq belum memindahkan tangannya, masih ingin membuka handuk berwarna putih yang menjadi kelemahannya itu. Perlahan Myesha mengangguk memberikan persetujuan. Faiq ber-iyes ria dan segera membuka handuk itu. Menampilkan pemandangan indah laksana jalan-jalan ke puncak gunung.


Aroma sabun tercium sempurna ketika Faiq mulai naik naik ke puncak gunung dengan bibirnya. Menikmati setiap inci gunung yang sudah pernah dinaiki Yuno terlebih dulu. Tangannya meraih apapun yang ada di gunung itu. Membuat Myesha memejam matanya dan meraih kepala Faiq karena perasaan geli tak karuan. Sedikit menjambak rambut pendek pria yang tengah menjelajahi dadanya tersebut.

__ADS_1


Tangan Faiq meraba punggung gadis itu, berusaha membuat wajahnya tenggelam lebih dalam. Keinginan menyentuh setiap inci kulit mulus pujaannya begitu besar. Dia membuat banyak tanda kepemilikan di sana, membuat Myesha menggigit bibir bawahnya karena nyeri yang harus dia tahan.


Perut Faiq tiba-tiba berbunyi, membuat suasana asik buyar seketika. Punggung Myesha masih terasa sakit, Faiq tak sengaja menekan terlalu keras.


"Mas, laper?" tanya Myesha ketika Faiq melepas bibirnya dari dadanya.


"Ah, iya. Padahal lagi seru. Aku bisa nahan laper kalau mau dilanjutin."


Faiq menempelkan dagunya ke paha Myesha yang ia dekatkan satu sama lain. Myesha mengusap kepala pria yang sedang mengeluh itu.


"Makan aja dulu, aku juga laper."


"Apa punggungmu masih sakit banget?" tanya Faiq. Ia ingat menekan bagian punggung Myesha dengan tangannya walaupun tak ada penolakan dari gadis itu.


"Yaudah kita makan dulu, makasih ya cicilannya, seru. Seenggaknya nafsuku terobati sedikit. Cepat pakai baju habis itu kita makan."


Faiq berdiri kemudian meraih kotak P3K yang tak jauh darinya, sementara Myesha mengikat handuknya lagi. Di sana ada banyak tanda yang diberikan Faiq. Masih terasa berdenyut nyeri.


"Aku mau naruh ini ke atas, cepet pakai baju. Aku tunggu di dapur."


"Iya."


Faiq keluar dari kamar, Myesha berdiri sembari menekan dadanya. Jantungnya masih berdetak kencang setelah kejadin barusan. Ia harus terbiasa, kehidupan pernikahan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

__ADS_1


Sementara itu Faiq sangat senang menerima cicilan, penantian sedikit demi sedikit membuahkan hasil. Sekarang hanya tinggal menunggu Myesha sembuh untuk melunasi cicilan nafsunya. Pikiran membeli balon terlintas kembali.


Faiq meletakkan kotak P3K ke tempat semula, dan juga salep di laci. Ia meraih ponsel. Membuka pesan yang sejak tadi dia tunda. Itu dari Dito. Detektif yang dikenalkan Sella.


"Riki disuruh seorang wanita muda, kemungkinan besar teman dari istrinya. Aku belum bisa mendapatkan rekaman CCTV yang dia curi. Apa bisa aku ke rumahmu akhir minggu ini?" tanya Dito di pesan.


Faiq tak kenal dengan istri Riki, yang dia tahu hanya istri Riki masih remaja. Dia juga belum mencari lebih lanjut tentang Halima sebagai saksi kunci kejadian malam itu. Ia mendesah berat memikirkan teka teki ini.


"Silakan datang ke rumah," balas Faiq di pesan.


Kemudian ia memasukkan ponselnya ke kantong celana dan turun ke lantai bawah. Menuju dapur.


Ayam bakarnya hilang, ia mencari ke bawah meja dan mendapati plastik dengan ceceran ayamnya dan seorang tersangka. Kucing oren.


.


.


..


bersambung


Hargai usahaku lewat like, komen, vote dan tip. o(╥﹏╥)o

__ADS_1


__ADS_2