Unknown Baby

Unknown Baby
Kompak


__ADS_3

Bayi gembul itu Faiq ambil dari gendongan Myesha, mencium pipinya yang wangi. Namun Yuno tak menghiraukan Faiq sama sekali dan lebih asik dengan mainan barunya.


Myesha mengembuskan napas berat, dia duduk di sofa.


"Ayah belum parah, nggak usah buru-buru Mas."


"Istigfar, Sha. Kamu bener. Nunggu parah aja kalau gitu, biar ibu tirimu makin ngemis-ngemis ke kamu."


"Nah, itu maksudku. Aku tu pingin Bunda Tuti yang langsung ke sini dan mohon ke aku buat bantuin."


"Aku inget Bunda tirimu itu ke sini dan membawa semua barang-barang dan bicara soal warisan, memang orang seperti itu perlu diberi pelajaran."


"Bener, 'kan? Sekali kali aku juga pingin ngasih pelajaran. Dulu aku yang ngemis uang saku tetep nggak dikasih. Akhirnya aku ikut lomba sana sini dan kontrak sama aplikasi hijau sampai bisa bayar uang kuliah. Giliran sekarang kok seengaknya minta uang ke aku."


"Mungkin beliau dilahirkan tanpa urat malu."


Kekompakan kecil membuat suasana rumah tangga menjadi hangat, hujan rintik-rintik di luar hingga malam. Yuno menjadi pelipur lara dua insan yang saling cinta karena terbiasa.


Bermain dengan bayi yang sudah mulai merangkak, makan bersama dan tertawa untuk hal-hal kecil. Mungkin, mereka tidak kaya. Tapi mereka kaya akan kebahagiaan. Menikmati momen menjadi orang tua dan pengantin baru di usia yang dewasa.


Jauh dari kata labil. Mereka siap bertanggung jawab untuk setiap keputusan yang diambil. Kadang pernikahan atas dasar cinta belum tentu berakhir bahagia. Sifat yang baru muncul dari pasangan sulit untuk disesuaikan, dengan sikap yang belum dewasa maka kekurangan pasangan menjadi celah perdebatan. Padahal manusia tidak ada yang sempurna.


"Yuno imut banget ya, anak kita." Myesha menyelimuti bayi yang baru tidur dan dipindahkan ke box bayi.

__ADS_1


Tangan kecilnya masih menggenggam erat mobil-mobilan sebesar kepalan tangan Faiq. Berwarna merah dengan tombol yang bisa berbunyi. Pegangannya sangat kuat sampai Myesha tidak bisa melepaskannya. Jika dilepaskan maka Yuno akan terbangun dan menangis.


"Iya dia imut." Faiq memeluk Myesha dari belakang.


Tanganya melingkar di perut, kecupan ringan datang di leher. Kali ini wangi.


"Sha, kamu pake handbody di leher, ya?" tanya Faiq sembari mengusap bibirnya. Rasanya tidak enak.


"Hehe iya." Myesha berbalik. Kali ini dia mencium bibir Faiq duluan. Kaki pendeknya berjinjit.


Sejenak Faiq terpaku, tak menyangka istri polosnya menginginkan duluan. Dengan senang hati dia menyambut ciuman itu. Tangannya memegang pinggang Myesha. Mengimbangi arah ciuman.


Hujan kembali datang, kali ini dengan petir menyambar. Tak keras, hanya kilatan kecil namun segera disusul hujan deras mengguyur area Metro dan sekitarnya.


Wanita itu memukul lengan Faiq sembari tertawa. Geli dengan bahasa Faiq yang mengajaknya memakai kalimat yang aneh.


"Mas beneran pingin punya anak sendiri?" tanya Myesha, dia mengalungkan tangannya di leher Faiq.


Matanya menatap pria yang berbadan jauh lebih tinggi itu. Senyumnya muncul di antara bibir yang menggunakan lipstik.


Faiq melepas kacamata Myesha, menatap bola mata itu langsung tanpa penghalang. Sembari tersenyum pria itu mengangguk.


"Aku serius, aku ingin punya anak sendiri."

__ADS_1


"Tapi bagaimana dengan Yuno? Dia masih sangat kecil."


"Aku nggak akan membeda bedakan Yuno dengan anak kita. Kau tahu sendiri Yuno kesayangan semua orang, bahkan tetangga pun sayang dengan Yuno. Begitupun aku, sekalipun punya anak sendiri Yuno tetapnya anak kita."


Mendengar itu Myesha tersenyum, dia berjinjit dan mencium Faiq lagi. Kali ini lebih dalam dengan tubuh yang menempel. Tentu saja Faiq bersenang ria. Seperti biasa gombalannya selalu tepat sasaran.


Merasakan beriya iya memakai balon sungguh tidak menyenangkan, lagi pula Faiq yakin tidak akan langsung menjadi bayi. Dia sudah menghitung tanggal datang bulan Myesha.


"Ayo kita punya anak kandung." Kata Myesha ketika ciuman dilepas.


Kalimat itu disambut Faiq dengan suka cita, dia mencium Myesha lagi sembari memeluknya. Mendekap erat dan mengarahkan wanita itu ke ranjang. Tangannya mulai mendaki gunung yang masih dibungkus.


.


.


.


bersambung.


Aku kuaaattt ayo selesaikan cerita ini


(╥﹏╥)

__ADS_1


__ADS_2