Unknown Baby

Unknown Baby
Rambut Sebahu


__ADS_3

"Loh Pak Polisi ke mana?" tanya Myesha yang baru saja kembali ke dapur.


Masih ada Faiq di sana, duduk sembari nyemil lele goreng garing. Satu-satunya makanan yang layak makan di meja itu.


"Mereka harus buru-buru balik bertugas. Mereka udah kenyang kok tenang aja."


Myesha melihat meja, sayurnya masih sisa banyak. Tapi dua piring bekas pak polisi sudah tidak ada. Mungkin Faiq sudah membereskannya.


"Aku bungkusin buat mereka ya, masih sisa banyak ini." Myesha berjalan mengambil plastik.


"Nggak usah repot-repotlah. Mereka udah kenyang jugaan pasti dapet jatah dari pos."


"Mas nih nggak boleh pelit kayak gitu. Gimana pun mereka udah jagain kita."


Bukan masalah pelit, perihal makanan Faiq tak pernah hitung-hitungan. Hanya saja dia ingin menyelamatkan mereka dari sayur maut buatan Myesha.


Dengan cepat Myesha memasukkan sayur ke plastik, hatinya gembira ketika berbagi sesuatu yang dia buat dengan susah payah.


"Biar aku yang antar," ucap Faiq sembari berdiri. Ia meletakkan potongan lele yang tinggal kepalanya tersebut.


Sayur di plastik cukup banyak, Faiq tak bisa memberikannya. Dia mengambil kunci motor di laci sebelum keluar.


"Kok pake motor, mau ke mana?" tanya Myesha.


"Beliin rokok, nggak enak cuma ngasih makanan aja." Bohongnya.


Myesha hanya ber-oh panjang sebelum membereskan sisa makanan di meja makan. Tak memperdulikan Faiq yang kini menutup pintu depan, ia menuju garasi. Mengeluarkan motor matic Myesha.


Benar, memang lebih mudah ke mana-mana menggunakan motor. Lebih irit bensin dan mudah untuk parkir. Sekarang dia dan Myesha menjadi satu dan dengan semboyan suami istri 'Milikku milikmu, milikmu milikku' Faiq menyukainya.


Di jalan Faiq membuang sayur maut ala Myesha. Tega tak tega harus tega. Kasihan jika Pak Polisi yang menjaga rumahnya harus keracunan. Faiq menuju warung makan. Membelikan dua porsi nasi bungkus yang pasti ini layak dimakan.


Sesampainya di depan rumah dua polisi itu sudah menunggu Faiq. Duduk di kursi depan mini market Riki. Mereka memakai jaket hitam.

__ADS_1


Faiq menghentikan motornya tak jauh dari mereka.


"Ini Pak, maaf ya soal tadi."


Pak Anton menerima bungkusan makanan itu. Kemudian meletakkannya di kursi samping. Faiq duduk, ia mengelap wajahnya yang tadi terkena cipratan air di jalan.


"Tidak apa-apa. Tapi apa kamu tidak pernah protes soal masakan istrimu?" tanya Pak Anton. Beliau terlihat jauh lebih tua dibanding Faiq dan Sidik.


Mendengar pertanyaan itu Faiq menggeleng, Myesha mudah tersinggung dan hatinya sangat lembut. Dia takut menyakitinya.


"Harusnya kamu bilang biar nggak tersiksa."


"Iya, orang lain yang makan juga tersiksa," imbuh Sidik.


Memang, tak bisa selamanya Faiq membiarkan Myesha seperti itu. Cepat atau lambat Myesha harus berubah. Bagaimana jika nanti ada acara di rumahnya, atau ada tamu yang menginap? Myesha bisa malu jika orang lain yang menilai masakannya.


"Iya, Pak. Nanti saya akan bilang ke Myesha. Oh ya katanya tadi ada yang mau dikatakan pada saya?"


"Oh iya sampai lupa. Kamu pernah nerima tamu perempuan 4 bulan lalu? Rambutnya sebahu."


"Memangnya ada apa ya, Pak?"


"Perempuan itu sering mondar mandir di depan rumah kamu. Kami dapat kesaksian dari warga."


"Memangnya perempuan itu siapa?"


"Mayatnya tanpa identitas, sekarang masih di teliti di bagian forensik."


Faiq mengangguk, mereka mengobrol sampai jam 10 malam. Faiq memutuskan untuk pulang. Berbagai pertanyaan melintas di kepalanya tentang mayat perempuan itu. Nanti akan dia tanyakan ke Myesha.


"Sha?" Faiq menuju dapur, tak mendapati Myesha di sana. Ia mengunci pintu depan dan masuk ke dalam kamar. Ada suara dari kamar mandi.


"Sha?" panggil Faiq lagi sembari mengetuk pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Iya Mas." Ternyata Myesha ada di sana.


"Sha, 4 bulan lalu kamu nerima tamu perempuan yang rambutnya sebahu nggak?"


"Nggak tuh, temenku cuma sebiji dan dia tinggal di Pringsewu. Nggak pernah main ke sini."


Faiq ber oh panjang, ia menghela napas. Penasaran dengan perempuan yang dimaksud. Nanti dia akan membahas ini dengan Detektif Dito. Saat ini ada hal yang harus dia bicarakan dengan Myesha, yakni tentang sayur mautnya. Tidak boleh ada korban lagi.


"Sha, soal masakanmu -"


"Ada apa sama masakanku?" tanya Myesha sembari membuka pintu kamar mandi.


Mata Faiq tak berkedip melihat istrinya itu. Myesha memakai lingeria merah dan rambut diurai. Aromanya pun wangi menggoda. Malam ini wanita itu menggunakan make up tipis, bibirnya pun seakan mengajak berdansa.


"Kok kamu pake lingeria?" tanya Faiq heran. Padahal beberapa waktu lalu Myesha masih menggunakan daster apek kesayangannya.


"Iya, aku udah selesai datang bulan pagi ini. Jadi malam ini bisa anu-anu sama mamas." Myesha menyentuh perut Faiq manja dengan jari telunjuknya. "Oh ya tadi Mas mau bilang apa soal masakanku?"


Tugas polisi adalah melindungi rakyat. Sudah sepantasnya dua polisi itu berkorban. Rasa kasihan yang tadi bersemanyam di hati Faiq tentang penderitaan lidah mereka seketika hilang.


"Masakanmu enak banget." Faiq mengacungkan jempol. Matanya tak lepas dari tubuh sexy Myesha.


Wanita itu tersenyum cerah, ia memukul dada Faiq manja. "Ih Mas terlalu muji, padahal waktu aku cicipin rasanya biasa aja loh."


Untuk saat ini biarlah dia tersiksa memakan masakan Myesha, setidaknya sampai cicilannya lunas dan ularnya menjalankan tugasnya dengan baik.


.


.


.


.

__ADS_1


bersambung


Lop lop buat para pembaca si piyik japrik Yuno


__ADS_2