Unknown Baby

Unknown Baby
Sedikit Bijak


__ADS_3

Sampai makanan habis Myesha masih menangis, Faiq menggeser kursi. Mendekat ke wanita itu. Ia menunduk, hatinya ikut sakit mendengar tangisannya. Mungkin, karena sudah makan dan energinya kembali jadi tangisannya semakin kencang.


"Maaf maaf maaf. Aku nggak tahu harus gimana lagi minta maaf. Jujur yang aku katakan tadi adalah pemikiranku tentangmu sebelum menikah. Tapi seperti perkataanku, bahwa apapun bungkusnya yang penting adalah isinya. Dan hatimu baik, Sha. Itu yang terpenting. Aku menyesal karena memandang orang hanya lewat penampilan luarnya."


Cantik dan tidak cantik, kaya dan tidak kaya, pintar dan tidak pintar. Menilai orang hanya sebatas itu adalah pemikiran yang sangat dangkal. Dalam berumah tangga bukan lagi lagi tentang bibit bebet dan bobot. Tetapi bagaimana pasangan bisa saling menghargai. Dan Faiq menemukan semua hal itu pada diri Myesha.


Tak hanya cantik tapi hatinya juga baik. Mau merawat dirinya dan Yuno meskipun tanpa cinta. Partner yang sangat cocok dalam menjaga hubungan rumah tangga. Tak egois dan menurut. Orang yang sangat langka untuk ditemukan lagi.


"Mau bukti?" tanya Faiq.


Myesha menoleh, dengan mata berkaca-kaca dan sembab. Tak berkata apapun tetapi tertarik dengan perkataan Faiq.


Pria itu berdiri, menuju kamar dan mengambil ponsel Myesha. Kemudian duduk lagi di kursi dapur.


Mengambil nomor Erika dan memindahkan ke ponselnya. Ia menghubungi nomor itu. Orang yang baru beberapa jam lalu meninggalkan rumahnya.


"Mas mau apa?"


Pertanyaan dari Myesha dia abaikan, masih menunggu sahutan dari sebrang. Ia mengeraskan speaker supaya Myesha bisa mendengarnya juga. Membuang semua harga diri yang dia pertahankan.


"Hallo?" sahut dari sebrang.


"Erika, aku Faiq."


"Ada apa? Aku nggak ada niat balikan sama kamu." Kalimat ketus itu keluar membuat Myesha yang mendengar malu sendiri.


"Aku cuma mau bilang bahwa aku yang menggoda Myesha. Dia baik, rajin menabung, rajin bersih-bersih rumahku, pengertian, perhatian, hangat, dia juga sangat cantik sampai aku tidak tahan, kulitnya mulus, gunungnya besar dan menantang, guanya juga nyaman."


Mendengar itu Myesha menutup wajahnya dengan kedua tangan. Malu. Tetapi tak bersuara sedikitpun, ingin rasanya tenggelam ke ujung dunia saja.


"Apa kamu mau minta bantu videoin waktu kalian gituan?"


"Nggaklah, gila kamu. Aku hanya ingin kamu tahu saja."


"Maaf aku nggak butuh. Jangan telpon lagi untuk hal yang nggak penting," ucap Erika mengakhiri panggilan dengan ketus.


Faiq meletakkan ponselnya di meja, kemudian beralih ke Myesha. Gadis itu masih menutup wajahnya memakai tangan.

__ADS_1


"Kenapa Mas lakuin itu? Malu-maluin banget."


"Ini demi kamu, memang benar kan kalau aku yang suka kamu duluan. Kamu jangan nangis lagi ya," pinta Faiq. Memohon.


Myesha meletakkan tangannya di meja, menghapus air mata itu kemudian memandang Faiq. Masih dengan tatapan tak bersahabat.


"Tapi bukan berarti aku memaafkanmu."


"Memang susah maafkanku, nggak papa aku terima hukuman. Tapi jangan lama-lama ya ngambeknya."


Cicilannya belum selesai, Myesha tidak boleh marah terlalu lama. Dia bisa pusing kalau ularnya tidak menuntaskan misi.


"Aku ingin ke salon dan perawatan."


"Iya nggak papa, tapi habis itu di rumah aja. Cantikmu cuma boleh buat aku. Kamu buluk aja digodain Andre apalagi cantik."


"Ih, buat apa aku dandan tapi nggak pergi main?"


"Main di rumah sama Mamas, mendaki gunung dan menyusuri lembah." Faiq tersenyum lebar.


Dibalas sipitan mata oleh Myesha, bahkan sebelah bibirnya terangkat. Tak suka dengan ide Faiq. Kalau sudah dandan ya harus pergi jalan-jalan, itu prinsipnya.


"Tapi buat apa dandan kalau nggak diliat orang?"


"Kenapa kamu harus susah-susah dandan buat orang yang kenal sama kamu? Kenapa nggak buat aku, suamimu? Dan juga buat dirimu sendiri? Sha, cintailah diri sendiri. Karena yang paling paham sama tubuhmu adalah dirimu."


Myesha terdiam. Berpikir. Memang benar semua yang dikatakan Faiq. Dia tidak pernah mencintai diri sendiri. Mungkin karena sering menganggap dirinya sendiri rendah.


Ponsel Faiq berbunyi, ada pesan masuk. Segera pria itu mengecek ponsel yang ternyata pesan dari Riki.


Bang, temui aku nanti sore di BUPER. Aku kasih tahu surat asli dari orang tua bayi itu.


Faiq tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Selama perjalanan mengambil motor tadi Riki memang terlihat mendapat hidayah dari obrolannya yang sok bijak. Ia menunjukkan pesan itu ke Myesha.


"Aku nanti ikut."


"Janganlah, mau ngapain?"

__ADS_1


"Pokoknya aku ikut!"


Faiq mengembuskan napas berat. Saat Marah Myesha menjadi susah diatur. Iyain aja atau acara marahnya semakin lama.


"Masih marah ya Sha?"


"Iyalah, pokoknya aku belum maafin Mas." Jawabannya pun masih ketus.


Suara pintu diketuk. Pasti tukang yang akan mengukur gerbang. Faiq segera keluar dan mengobrol sebentar. 5 menit kemudian dia kembali ke dapur.


"Sha, buatin kopi buat para tukang," perintah Faiq.


"Buat berapa orang?"


"Tiga aja."


"Kasih cemilan juga nggak? Aku beli keripik kemarin."


"Iya kasih, nggak enak kalau cuma kopi."


"Ah, kenapa aku jadi nurut sih, kan aku lagi marah."


"Marahnya nanti lagi kalau tukangnya udah pulang. Kasihan tukangnya udah jauh-jauh ke sini masak nggak dikasih kopi."


"Yaudah deh iya."


Pada akhirnya suami istri di saat marahpun harus tetap bekerja sama. Myesha membuatkan kopi.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


Makasih udah mampir, jangan lupa hargai aku lewat like, komen, vote dan tip ya


(╥﹏╥)


__ADS_2