
Pandangan mata Faiq beralih ke rumah bercat kuning itu, ada Pak Burhan membawa tongkat baseball dan berbicara kepada seorang pemuda. Pemuda itu membawa kantong hitam besar. Seperti berdebat, Pak Burhan menunjuk kantong hitam itu dan mobil. Pemuda itu membalas dengan menunjuk mobil.
Sebelumnya Faiq belum pernah masuk ke rumah Pak Burhan. Hanya saja pernah mendengar keluhan seseorang ketika di warung Riki. Orang itu adalah penyedot WC. Ia bercerita bahwa rumah Pak Burhan bau bangkai. Apa mungkin karena pelit maka dari itu rumahnya kena azab menjadi bau bangkai? Faiq tidak tahu, tapi ia pernah dengar bahwa Pak Burhan orang yang terlanjur kaya itu sangat sangat pelit.
Karena merasa bukan urusannya Faiq mengalihkan pandangan ke Oren. Kucing penuh luka itu diangkat Faiq untuk dibawa masuk ke dalam rumah. Semua orang sedang tidur ketika Faiq mengobati kucing yang tengah terluka itu. Waktu menunjukkan pukul setengah lima ketika Faiq berbaik hati memberikan sedikit susu Yuno untuk si Oren yang terluka parah.
Setelah solat subuh Faiq mengambil kunci mobil Bapak dan mengendarainya menuju pasar pagi. Pagi ini Myesha terlihat pucat, sepertinya kelelahan. Faiq khawatir dengan kondisi istrinya itu.
Mobil yang dikendarai Faiq keluar halaman hampir menabrak mobil hitam yang tiba-tiba keluar dari rumah Pak Burhan.
"Dasar bodoh! Kalau nggak bisa bawa mobil jangan bawa!" Teriak seorang pemuda setelah menurunkan kaca mobil. Kali ini Faiq ingat, pemuda itu adalah anak lelaki Pak Burhan.
Sifatnya benar-benar mirip dengan bapaknya. Darah tinggian. Faiq menurunkan kaca mobil dan membalas teriakan itu.
"Kamu yang tidak lihat jalan!" Faiq tak mengindahkan pemuda itu dan berjalan duluan. Berbagai sumpah serapan dari pemuda itu mampu terdengar Faiq sampai berbelok menuju jalan besar.
Tak ada waktu bagi Faiq menanggapi orang tidak tahu sopan santun seperti itu. Keluarganya lebih penting. Faiq memacu kendaraannya lebih cepat di jalan lenggang. Ini hari senin, dia tidak ingin terlambat hanya karena mengurusi hal tidak penting seperti tetangga menyebalkan.
Setelah tiba di pasar, Faiq membeli berbagai keperluan memasak seperti ayam, ikan, sayur mayur dan juga nasi uduk. Pagi ini dia akan memberikan keluarganya nasi uduk. Dan untuk siang memasak sendiri. Dia yakin para ibunya tidak mungkin membiarkan Myesha masak di kondisi yang sedang sakit.
Sebenarnya Faiq takut jika benar mereka membiarkan Myesha masak. Maka mereka akan tahu rasa masakan Myesha yang jauh di bawah standar lidah. Faiq menelah ludah ketika mengingatnya. Jika hanya dia yang keracunan dengan masakan Myesha mungkin tidak masalah, tetapi bagaimana dengan keluarganya? Tidak, Faiq tidak bisa membayangkan itu.
Dia menghubungi pihak rumah sakit dan meminta libur hari ini. Alasan istri sakit setelah kena begal menjadi alasan utama. Hanya ijin sehari.
"Berapa harganya?" tanya Faiq setelah memasukkan beberapa jajanan ke plastik. Makanan ringan seperti risol, bakwan dan lain-lain. Setiap ke pasar pagi tak lupa Faiq membeli berbagai jenis gorengan itu. Walaupun cuma habis sekitar 7 ribuan, tapi hari ini dia membeli banyak gorengan.
__ADS_1
"Enam belas ribu."
Faiq mengulurkan uang dua puluh ribu kemudian mendapat kembalian. Barang yang dia beli sudah cukup, sudah habis uang banyak. Ketika hendak pergi matanya melihat ke arah Riki. Pria itu sedang membeli nasi uduk.
Awalnya Faiq ingin menyapa, tetapi dia urungkan. Pasti Riki pura-pura amnesia lagi. Pria itu segera menuju parkiran. Memasukkan barang belanjaan sebelum mengegas mobilnya keluar dari area pasar pagi yang semakin padat itu.
Pukul tujuh sampai di rumah. Orang-orang sudah bangun dan ada keributan di sana. Lebih tepatnya di kamar mandi. Para ibu Faiq berkumpul di depan kamar mandi.
Faiq meletakkan barang belanjaan di atas meja dapur. Tetapi ayam dan ikan dia masukkan ke kulkas. Takut dicuri di Oren.
"Ada apa, Bu?" tanya Faiq.
"Ini dia pelakunya." Tuduh ibu Faiq nomor 2.
"Aku? Kenapa?" tanya Faiq tak mengerti. Kemudian matanya melihat ke dalam kamar mandi. Ada Myesha sedang muntah-muntah.
"Kamu ini ya, harusnya pakai pengaman. Udah tahu Yuno masih kecil. Kok ya nggak bisa tahan diri."
"Auu sakit, lepas dulu, Bu. Myesha hanya sakit biasa nggak mungkin hamil. Orang aku belum apa-apain dia kok."
Ibu Faiq nomor 3 menepuk punggung Faiq dengan keras hingga menimbulkan suara.
"Sakit, Bu!"
"Muntah-muntah kayak gitu udah pasti hamil. Kamu ini ya mau ngelak."
__ADS_1
Bagaimana Faiq bisa menjelaskan kepada para ibu yang selalu merasa benar ini? Dia belum menyentuh Myesha, hanya jalan-jalan ke puncak gunung jadi tidak mungkin hamil. Myesha hanya sakit karena kelelahan akibat kejadian kemarin.
"Sumpah, Bu. Aku belum apa-apain dia."
"Halah, orang Myesha aja bilang kalian olah raga malam padahal Myesha baru saja kena begal. Pasti hari lain kamu terlalu berlebihan sama dia, udah tahu anak masih kecil. Apa mau ibu sunat kamu lagi? Ha!" Ibu nomor 1 memukul punggung Faiq lagi dengan keras.
"Sakit, Buk!"
Ular Faiq masih tenang di sarangnya, belum pernah keluar sedikitpun! Ini fitnah! Sekali lagi Faiq ingin teriak.
"Kamu jadi suami benar-benar nggak ada ahlak ya." Ibu kandung Faiq bahkan berkata seperti itu.
"Astagfirullahalazim, Bu. Istigfar." Kata Faiq.
.
.
.
.
Bersambung
Hargai aku lewat like, komen, vote dan tip.
__ADS_1
(╥﹏╥)
Visual ada di IG ku @ka_umay8