Unknown Baby

Unknown Baby
EP 7 Kakek


__ADS_3

"Bu Myesha, kalau ngayal jangan ketinggian, ntar jatuh sakit." Sindir Bu Siti. Masih bersikukuh kalau anaknya yang jadi PNS jauh lebih baik.


"Kayaknya harus aku tunjukin ya Bu, sini gigi Bu Siti aku ganti sama gigi emas!"


Myesha emosi, dia menggulung lengan bajunya yang sudah pendek dan membenarkan kacamatanya, ia hendak maju dan mencabik-cabik mulut Bu Siti yang kam pret tersebut.


Enak saja mengatai anak kesayangannya seperti itu, apakah Bu Siti pikir Yuno hanyalah orang biasa? Yuno itu orang terkenal yang hebat! Dia tidak boleh diremehkan seperti itu! Yuno bukan orang biasa!


Sementara Yuno memegangi bahu Myesha, mencoba menghalangi pertengkaran yang tidak perlu dan memalukan.


"Udah, Bun. Jangan diladeni."


"Nggak bisa gitu dong! Enak aja mereka ngehina kamu," jawab Myesha masih emosi.


"Nggak papa, Bun. Toh, dihina mereka nggak buat aku jadi hina. Biarin aja, tugas tetangga kan emang kayak gitu. Kalau mereka nggak nyinyir ntar mereka nggak ada kerjaan. Mending kita masuk rumah aja," ucap Yuno meyakinkan Myesha.


Faiq memutar bola matanya, lalu berjalan mendekat ke Myesha. "Udahlah nggak usah ladeni, mending kita urus diri sendiri aja. Biarin mereka tetap bar-bar dan kita elegan."


Mendengar ucapan Faiq membuat emosi Myesha mereda, pandangannya masih melekat pada ibu-ibu yang nyinyir di balik pagar rumah. Tidak perlu membuktikan apapun, nanti mereka akan lihat sendiri betapa hebatnya Yuno.


"Ih, sebel." Myesha melengos masuk ke dalam rumah, masih dengan mengomel karena kesal.


Di dalam Faiq ceramah kalau tidak usaha mengurusi orang lain, tidak perlu membuktikan apapun. Kita tahu Yuno seperti apa dan itu sudah cukup. Biarkan orang lain tahu lewat bukti yang mereka lihat sendiri.


"Apa Bunda mau aku belikan helikopter?"


Mendengar pertanyaan itu membuat Myesha menoleh dengan cepat, "buat apa?"

__ADS_1


"Buat buktiin ke mereka," jawab Yuno.


Myesha mengembuskan napas berat, lalu berjalan ke dapur sembari mengomel. "Nggak usah ladeni mereka, buang-buang waktu dan tenaga aja."


Padahal tadi Myesha yang emosi dan hendak membuktikan ke mereka. Tetapi kini dengan cepat pikirannya berubah. Yuno hanya bisa tersenyum melihatnya.


Tiba-tiba ponsel Yuno berdering, telepon masuk dari Rizal, sekretaris pribadinya.


"Hallo," sapanya.


"Hallo, kenapa kamu belum membuka email yang aku kirim?"


"Email apaan?"


"Investasi pembangunan kota, harus segera ambil keputusan hari ini."


Dia diam sejenak, tanpa melihat laporan email dari Rizal pun dia tahu bahwa rencana wali kota pasti gagal. Bisa dibilang tidak akan menguntungkan.


"Nggak, kita lepas tangan aja." Yuno akhirnya membuat keputusan.


Kalau mau berinvestasi Yuno memilih ke ibu kota baru yang akan dipindahkan ke Kalimantan. Lebih menguntungkan dibandingkan Jakarta yang kabarnya sebentar lagi tenggelem. Wali kota Herman terlalu ambisius dengan berbagai kebijakannya. Bisa jadi juga isinya korupsi.


Mereka mengobrol cukup lama tentang beberapa proyek yang harus deal hari ini, walaupun kesal karena liburannya harus diganggu, tetapi Yuno tidak ada pilihan lain. Dia baru naik jabatan, harus menyelesaikan banyak hal. Apalagi Papa dan Mamanya tiba-tiba menghilang.


Tak lama kemudian ada suara mobil masuk halaman rumah, Yuno mengakhiri teleponnya dan membukakan pintu depan setelah terdengar ketukan pintu beberapa kali.


"Assalamualaikum," sapa si tamu.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," jawab Yuno.


Ketika pintu sudah dibuka, terlihat kakek tua berlinang air mata memanggangnya. Kakek yang dulu selalu menggendong Yuno di pundak dan berkeliling desa. Mengajarinya banyak hal hingga menjatah sawah yang akan diberikan Yuno ketika sudah menikah.


"Yuno!" Kakek segera memeluk Yuno yang terpaku di tempat.


Linangan air mata kakek membasahi dada bidang Yuno, perlahan Yuno membalas pelukan itu dengan haru. 13 tahun tidak bertemu, kakeknya tidak lagi segagah dulu. Rambutnya kini sudah memutih semua, kulitnya semakin keriput.


"Kakek, maaf aku baru bisa pulang."


Punggung Yuno ditepuk kakek beberapa kali, "bisa melihat kamu lagi sudah membuat Kakek senang."


Semua anggota keluarga ini menyayangi Yuno, hal itu tidak berubah walaupun tahu Yuno bukan anak kandung. Yuno merasa sangat bersyukur ibu kandungnya menitipkan ia pada keluarga ini.


.


.


.


.


bersambung


maaf ya gengs. aku upnya lambat Krn lagi ada masalah di dunia nyata. Cuma sebisanya. 🤧 mohon doanya semoga masalah cpt berlalu dan bisa up normal


makasih banyak udah mampir, jangan lupa pencet like, komen, lempar bunga dan bagiin cerita ini di sosmed kamu ya 🤧

__ADS_1


__ADS_2