
Myesha ingat saat remaja, saat itu dia masih duduk di bangku SMP. Pulang sekolah kehujanan di saat anak lain dijemput orang tuanya. Hujan deras sampai dua jam menunggu. Karena gerbang hendak ditutup terpaksa dia berjalan di tengah hujan.
Hal yang membuatnya iri adalah ketika teman-temannya sudah pulang dijemput orang tuanya. Sekalipun hanya memakai motor tua yang mengeluarkan asap tapi tampak bahagia dan hangat. Disertai rajukan kenapa telat menjemput.
Dia melihat kasih sayang seorang ayah yang rela kehujanan dan memberikan mantel kepada anaknya. Berjanji besok tidak akan telat menjemput dan akan membelikan bakso. Melihat itu Myesha hanya tersenyum miris, menggenggam erat tali tasnya.
Kakinya melangkah ke halaman sekolah menuju pintu gerbang. Air hujan mulai membasahi rambutnya yang dikucir kuda. Dia berjalan cepat setelah melihat satpam yang melambai supaya dia berjalan lebih cepat karena gerbang akan ditutup.
"Andai ada keajaiban Ayah datang menjemputku." Harapannya ketika itu. Rintik hujan membasahi kacamatanya. Membuat pandangannya buram, bukan, pandangannya buram karena air mata yang mengalir tanpa aba-aba.
Saat sampai di kosan dia berharap ada keajaiban juga. Orang tuanya lengkap dan menyambutnya, memakaikan handuk dan bertanya apakah dia baik-baik saja. Menyiapkan air hangat untuk mandi lalu memberinya susu hangat.
Namun, kamar kosnya hening. Sepi tak ada siapapun. Hanya ada barang-barang berserakan. Bajunya basah, menetes membasahi lantai. Dia menghapus air matanya, berusaha tersenyum ketika melepas tas sekolah yang basah kuyup itu.
"Aku pingin punya orang tua," ucapnya sembari menghapus air mata yang mengalir.
Umurnya ketika itu baru 14 tahun, hidup di antara rasa kesepian yang menyakitkan padahal dia bukan anak yatim piatu. Memiliki keluarga, berhak mendapat kasih sayang.
"Apa Ayah bisa mengembalikan waktu?" tanya Myesha. Sekali lagi menghapus air matanya.
__ADS_1
"Tuti selalu bilang bahwa kamu lebih suka hidup mandiri sendiri, Ayah tidak tahu kalau kamu kesulitan."
"Ayah tidak tahu karena Ayah tidak mau tahu!" Nada suara Myesha terasa tercekat.
Sekarang apalah arti semuanya, menyesal pun percuma. Umurnya sudah 24 tahun. Memiliki keluarga sendiri. Masa lalu yang menyakitkan telah berlalu.
"Apa yang harus Ayah lakukan untuk menebus semuanya? Ayah tidak punya muka bertemu dengan ibumu di alam sana nanti."
Mata Ayah berkaca-kaca. Dengan tangan kurus dibalut infus menghapusnya. Ucapan Ayah membuat tangis Myesha semakin pecah.
Setelah 12 tahun berlalu sosok ayahnya hilang, apakah sekarang bisa kembali?
Tangis Myesha, mengungkapkan segala kesedihannya yang selama ini ditahan. Tanpa terasa air mata Ayah mengalir, hatinya terenyuh mendengar penuturan Myesha. Dia kira selama ini Myesha baik-baik saja seperti kata Tuti.
"Ayah minta maaf, Ayah sungguh minta maaf ...." Ayah menangis, tetesan air matanya membasahi bantal putih milik rumah sakit.
Permintaan maaf yang selama ini Myesha inginkan, kembalinya sosok ayahnya yang dulu.
Suasana di dalam ruangan itu begitu pilu, semua orang diam dan ada juga yang meneteskan air mata. Hingga terdengar suara kentut dan bau busuk yang menyebar ke seluruh ruangan.
__ADS_1
Myesha menutup hidungnya dan menoleh ke arah sumber suara, seorang ibu separuh baya yang sedang menunggui anaknya yang tangannya diperban.
Tak hanya Myesha tapi 5 orang lainnya yang berada di ruangan itu, menatap tajam ke ibu-ibu yang sudah membuat suasana haru menjadi ambyar.
"Hehe, maaf."
Myesha mengibaskan tangannya ke udara, mengurangi bau busuk kentut. Dia menduga inilah alasan ibu tirinya minta dipindah ke ruang VVIP.
Air mata Myesha berhenti, dia menghapusnya. Eyeliner hitam yang dia kenakan berantakan akibat air mata.
.
.
.
bersambung.
Hargai aku lewat like, komen, vote, dan share.
__ADS_1
visual ada di IG @ka_umay8