
Balutan kasih sayang dari Faiq dan Myesha membuat Yuno tumbuh menjadi anak yang mandiri dan memiliki rasa peduli. Pengorbanan yang berikan untuk melindungi Yuno, sekalipun tidak ada hubungan darah tapi rasa cinta tidak pernah dibedakan.
"Kok pulang nyeker, sepatumu ke mana?" tanya Myesha.
Anak laki-laki berseragam putih biru itu pulang tanpa alas kaki. Dia mengambil sandal yang berada di teras sembari meletakkan tas sekolahnya.
"Ilang, Bun."
12 tahun mengasuh Yuno, anak itu sekarang sudah kelas 1 SMP. Naik sepeda ke sekolah. Terkadang Myesha penasaran, jika Yuno tahu bahwa orang tua kandungnya adalah orang kaya raya bagaimana sikap anak itu?
Yuno menyiram kakinya yang kotor di pancuran air. Sementara Myesha berkacak pinggang di teras. Terlihat adik perempuan Yuno yang baru berusia 3 tahun sedang bermain boneka di teras.
"Sebenernya sepatu kamu ke mana?" tanya Myesha lagi. Kurang percaya dengan perkataan Yuno.
"Beneran ilang, Bun. Buat besok aku pake sepatu yang lama aja." Setelah kakinya bersih, Yuno berjalan mendekat.
"Loh, katanya bentar lagi mau tanding basket. Kalau pake sepatu yang lama terus jebol gimana? Kok bisa sih sepatumu ilang? Apa kamu diisengin temen? Siapa yang berani ngisengin kamu kayak gitu?"
Myesha memberondong Yuno dengan pertanyaan, bocah laki-laki yang menginjak remaja itu malah santai dan mengusap kepala Pinea yang asik main boneka. Tak memedulikannya.
"Nggak ada yang ngisengin aku. Bunda tenang aja. Aku kan taekwondo sabuk hitam, siapa yang berani macem-macem sama aku?" Yuno menepuk dadanya, bangga dengan gelar yang baru dia dapatkan dua minggu yang lalu.
Myesha berdecak, masih belum puas soal jawaban Yuno tentang sepatunya. Dan lagi, kenapa anak itu sangat santai ketika sepatunya hilang? Terlalu mencurigakan. Namun dia memilih untuk percaya saja.
"Yaudah, cepat ganti baju terus makan. Nanti Bunda antar beli sepatu."
"Wih, tumben Bunda baik hati langsung beliin." Yuno mendongak ke atas. Melihat Myesha dengan kagum.
"Bunda bisa berubah pikiran kalau kamu nggak buru-buru ganti baju."
__ADS_1
"Iya Bun iya, sabar."
Yuno meraih tasnya dan berlari masuk ke dalam rumah. Langsung menuju lantai atas yang sekarang menjadi 2 kamar, miliknya dan Kahfi.
Sekilas mengintip adiknya yang sedang duduk di meja belajar. Pasti sedang mengerjakan PR. Pulang sekolah langsung mengerjakan PR adalah kebiasaan mereka jika tidak ada eskul di luar.
Yuno menutup pintu kamarnya, melepas dasi berwarna biru itu lalu digantung. Begitupun dengan baju putih dan celana biru, digantung di cantelan baju dan diletakkan di paku belakang pintu. Ia mengambil kaos hitam, segera mengenakannya. Memakai celana sehari-hari biasa.
Celengan ayam dia angkat, mengintip dari lubang kecil. "Kapan penuhnya, ya?" gumamnya.
Setelah itu Yuno melihat jam. Pukul dua siang. Dia sudah solat di mushola sekolah. Segera dia meletakkan celengan itu kembali dan turun ke lantai satu, langsung menuju dapur.
Lauk lele goreng kesukaannya, tumis kacang dan nasi. Ditambah kerupuk putih. Yuno makan dengan lahap.
Sementara itu Myesha mengajak Pinea masuk ke dalam rumah.
Bocah berusia 10 tahun itu turun ke lantai bawah. "Kok Bang Yuno beli sepatu lagi, Bun?"
"Sepatunya ilang, dia bentar lagi tanding basket jadi harus beli yang baru."
"Aku juga mau, Bun."
"Ck, kamu ini. Sepatu yang lama kan masih bagus. Nanti beli sekalian kenaikkan kelas aja."
Kahfi cemberut, dia menoleh ke arah Yuno di dapur yang hanya terhalang aquarium Cucut. Sebagai catatan, sekarang Cucut sudah tidak jomlo lagi. Faiq membeli kura-kura betina dan diberi nama Cicit Lerajie Hyperion. Walau tampaknya Cicit tidak menyukai Cucut yang culun karena tumbuh besar di aquarium.
Yuno menaikkan alisnya, mengejek Kahfi karena dia dibelikan sepatu baru.
Dibanding Yuno, ntah kenapa Kahfi selalu tertinggal. Padahal mereka memiliki orang tua yang sama dan dibesarkan dengan cara yang sama pula. Tapi Yuno bisa melakukan apapun. Seperti bibit unggul, tak perlu belajar dengan keras tapi bisa ranking 1. Hal itu membuat Kahfi iri.
__ADS_1
Bahkan, sekarang Yuno baru kelas 1 SMP tapi badannya sudah sangat tinggi dan masuk tim basket.
"Jangan lama-lama. Pulangnya beliin cuppucino di dekat alfa perempatan."
"Iya, nanti Bunda beliin. Jagain Pinea."
Myesha masuk ke dalam kamar, dia berganti baju dan mengambil uang. Belum masak untuk makan malam tapi harus segera membelikan Yuno sepatu.
Selesai Yuno makan dia dibonceng Myesha ke Metro pusat, mencari toko sepatu yang bisa ditawar di dekat pasar Cendrawasih.
"Bun, nggak ke Candra aja?" tanya Yuno sembari membenarkan helmnya yang terlalu maju.
"Mahal, nggak bisa ditawar. Cari yang murah aja, yang penting kan bisa dipake."
Yuno tak membantah lagi, dibelikan sepatu baru saja dia sudah senang. Terlebih ibunya tidak kepo kenapa sepatunya bisa hilang.
Sore itu Yuno menikmati sesi belanja sepatu baru dengan ibunya, di lapangan Samber ada orang jualan durian. Mereka membeli dua buah untuk dimakan bersama keluarga di rumah. Tak lupa juga membeli cuppucino pesanan Kahfi.
Kehidupan sederhana yang Myesha berikan kepada Yuno rupanya membuat bocah itu sangat nyaman. Dia sangat menyayangi orang tuanya, adik-adiknya, ke 5 neneknya dan 2 kakeknya. Sampai sekarang dia belum hafal nama-nama sepupunya. Tapi setiap lebaran Yuno berusaha menghafal ketika kumpul keluarga di rumah kakek di Lampung Timur.
.
.
.
bersambung.
kalau suka cerita ini dukung lewat like, komen dan vote. makasih.
__ADS_1