Unknown Baby

Unknown Baby
Peperangan di timur tengah


__ADS_3

Faiq mengembuskan napas berat, ia juga melingkarkan tangannya seperti mendekap Yuno.


"Aku melakukan ini demi menjadikan Yuno anak kita seutuhnya. Mungkin saat ini orang tua kandung Yuno memang tidak menginginkan bayinya. Tapi kita nggak tahu di masa depan bisa saja tiba-tiba mereka datang dan mengambil Yuno. Di saat itu kita kalah karena nggak punya surat adopsi yang jelas."


Pandangan mata Myesha tertuju kepada Faiq, sayu. Dia tidak mau hal itu terjadi. Yuno anaknya, miliknya, dia yang merawat bayi itu!


"Aku nggak mau Yuno diambil."


"Maka dari itu kita harus mencari orang tua kandungnya, mumpung saat ini mereka tidak menginginkan Yuno jadi kita lebih mudah kalau mau minta surat adopsi. Jadi di masa depan mereka tidak bisa berbuat apapun untuk mengambil Yuno kembali.


"Lagi pula, kita juga tidak bisa selamanya menyembunyikan kenyataan bahwa Yuno bukan anak kandung kita. Dan saat besar pasti dia akan mencari orang tua kandungnya, kebenaran akan dirinya. Makanya itu, saat ini kita harus berhasil menemukan asal usul Yuno."


Myesha paham apa yang dikatakan Faiq, memikirkan Yuno diambil saja sudah membuat hatinya tidak tenang. Selama belum memiliki kejelasan surat adopsi maka kekhawatiran akan terus berlanjut.


"Yuno kayaknya udah tidur, aku pindah ke box ya." Faiq duduk. Memang rambut Yuno yang berdiri tegak berwarna hitam pekat. Mamang dia bukan anak kandung, rambut bayi itu tak sepertinya yang hitam lurus atau Myesha yang sedikit kecokelatan.


"Apa Mas mau tidur sekarang?"


Myesha melihat jam dinding, masih jam setengah 9 malam. Tidak mungkin Faiq tidur jam segini.


"Kita kan mau olah raga malam jadi nggak bisa kalau Yuno di sini."


Faiq menggendong Yuno, memindahkan bayi kecil itu ke box bayi yang tak jauh dari mereka.  Hati-hati supaya tidak terbangun. Kemudian dia buru-buru berjalan kembali ke kasur.


"Sha anu-anu yuk, tuntasin kemarin malam."


"Nggak mau ah, kan aku lagi marah."


"Marahnya besok lagi aja, dosa loh nolak ajakan suami."

__ADS_1


Faiq mendekat, hendak memeluk Myesha tetapi gadis itu beranjak berusaha menghindar. Tapi nahas, Faiq sigap menariknya hingga membuat Myesha jatuh ke kasur kembali. Dengan cepat pria itu mengunci tangan Myesha.


Jantung Myesha berdebar kencang, matanya bertatapan dengan Faiq yang memancarkan nafsu.


"Aku menginginkanmu." Faiq berbisik di telinga Myesha.


Jantung Myesha berdebar tidak karuan, perasaan ingin anu-anu juga menyertai dirinya. Menuntaskan apa yang tidak terjadi semalam, tapi gengsi untuk bilang iya padahal dirinya juga sangat ingin.


"Sebentar lagi aku datang bulan, ini sudah tanggalnya."


Myesha memperingati, takutnya macet di tengah jalan. Jika itu terjadi bukan hanya Faiq yang kecewa tetapi juga dirinya.


"Coba aja dulu, toh sekarang belum datang," ucap Faiq sembari tersenyum.


Perlahan ciuman itu datang, sangat lembut tanpa tuntutan sedikitpun. Kemarahan Myesha tadi pagi hilang sirna ditelan keinginan anu-anu. Ah, memang dasar nafsu bisa menghilangkan akal sehat.


Faiq menempelkan dahinya ke dahi Myesha sembari tersenyum. Mata mereka bertatapan. Saat ini Faiq ingin melunaskan cicilan 3 bulan yang laksana kredit panci.


"Waktu Mas bilang aku buluk dan culun aku sedih. Rasanya kayak aku culuk dan buluk beneran," ucap Myesha tak tahu diri.


Faiq mencium pipi Myesha kemudian kening, wanita itu hanya memejamkan mata sekilas. Memang benar penampilan wanita itu culun dan buluk tapi ntah kenapa Faiq tetap suka. Inikah yang dinamakan bucin?


"Dari dulu aku nggak suka diremehin. Maaf ya sayang, aku bener-bener nggak bermaksud buat nyakitin kamu," ucap Faiq yang juga tidak tahu diri padahal sudah melakukan penjebolan hingga Myesha berdarah. Pandangannya seakan memelas.


Beberapa hari ini Myesha belajar dari temannya yang sudah menikah. Satu-satunya sahabat yang dia miliki. Menjalin rumah tangga memang tidak semulus paha Luna Maya, ada saja kendala dan pertengkaran, kadang kala juga bisa seperti peperang di timur tengah yang dikompori negara tetangga. Hal seperti itu wajar, jadi supaya bisa langgeng tidak boleh egois dan harus ada yang mengalah. Faiq sudah minta maaf, sikapnya juga lembut dan sungguh-sungguh menyesal. Mungkin?


Terlalu egois jika Myesha hanya mementingkan egonya, dia bukan orang yang seperti itu apalagi dia juga ingin anu-anu sama seperti Faiq. Itu kebutuhan, harus dipikirkan juga. Apalagi Faiq dan Yuno adalah keluarganya saat ini. Dia tidak ingin kehilangan keluarga untuk kedua kalinya.


Perlahan Myesha mengangguk, ia memaafkan Faiq demi rumah tangganya dan keinginan anu-anu bersama.

__ADS_1


"Tapi jangan ulangi lagi ya," pinta Myesha.


Faiq menjatuhkan dirinya, memeluk wanita yang kini menjadi bagian terpenting itu.


"Iya," jawabnya.


Myesha membalas pelukan itu. Pelukan hangat dari pria berbadan jauh lebih besar darinya. Si pemilik rumah yang kini berubah status menjadi suaminya sekaligus ayah dari anaknya.


Setelah mendapatkan maaf Faiq menyangga tangannya lagi, memandang Myesha yang berada di bawahnya. Ciuman mendarat sempurna, tak seperti sebelumnya. Ciuman itu kini menuntut. Meminta lebih supaya keinginannya terpenuhi.


Mungkin karena sudah terbiasa Myesha menjadi mahir mengimbangi Faiq, dia melingkarkan tangannya di leher pria itu.


Sepertinya Faiq tidak puas hanya berada di sana, ciumanya turun ke leher. Memberi tanda jejak, seakan ingin menandai bahwa itu adalah wilayahnya.


Tangan Faiq tak bisa diam, ia ingin bergerilya. Menyurusi pegunungan yang sudah dia buka bungkusnya, bagian yang menjadi kesenangan pria itu adalah dekapan hangat Myesha ketika bibirnya berekspedisi. Menjelajahi pengunungan dengan puncak yang menjadi favorit. Indah dan hangat.


Perasaan bahagia itu hadir, rasa sayang untuk Myesha mengalir sempurna bersamaan dengan degup jantung Myesha yang Faiq rasakan, seakan jika wanita itu hilang hidupnya juga akan sirna.


Faiq menenggelamkan kepalanya di sana, mendekap erat Myesha dengan kedua tangannya. Miring. Dekapanya semakin erat seakan tidak akan pernah lepas.


"Aku tidak tahu bahwa rasa sayangku untukmu begitu besar."


Perlahan rambut Faiq diusap, halus dan lembut. Myesha menciumnya. Merasakan rasa sayang untuk pria itu. Walaupun mulutnya terkadang sepedas bon cabe tapi ketika sedang bermanja seperti ini bisa berubah semanis gulali.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


Tadinya mau sekali up wkt dah banyak biar langsung tamat, lelah cuy. Tp banyak yg minta up kayk biasa yaudahlah up. Bagi yg minta crazy up atau minta lebih panjang. Jangan kayak gtu ya. Aku ni butuh kerja nyari duit buat beli kuota, kuota juga buat up. Tau sndri nulis di sini dibayar recehan dan ntah kapan bisa diambil, mungkin beberapa purnama lagi hahahaha ngenes. Sama aja gk dpt apa" jadi komenlah yg buat aku semangat nulis dn semangat kerja biar bisa up terus.


__ADS_2