
Walaupun sebentar lagi memiliki anak kandung tapi bukan berarti Yuno tidak lagi menjadi prioritas. Anak yang dia besarkan layaknya anak sendiri melebihi kedelai malika. Yuno tetap menjadi yang utama.
Perut yang kian membuncit membuat Myesha kesulitan berjalan, harus pelan dan hati-hati. Tapi saat ini dia berlari dari warung Riki sampai pinggir jalan. Ada Yuno di sana bersama seorang pria berbadan besar dan pakaian hitam.
"Yuno!" Teriak Myesha. Dia segera menarik Yuno yang hendak didekati pria asing.
"Kamu siapa?" tanya Myesha. Dia menarik Yuno mendekat ke arahnya.
Pria itu berdiri dari posisi jongkoknya. Memandang Myesha dari atas sampai bawah.
"Kamu ibu anak ini?" Pertanyaan Myesha dibalas dengan pertanyaan pula.
"Iyalah, nggak mungkin kamu ibunya," pertanyaan tidak sopan dia balas dengan tidak sopan juga.
"Bundha, Oom belkumis itu minta lambut Uno." Yuno melapor sembari menunjuk pria berbaju hitam.
"Saya hanya ingin memastikan sesuatu--"
"Berani beraninya kamu menjambak anak saya!" Myesha langsung menghantam wajah pria itu dengan kangkung yang dia bawa dari warung Riki.
Bruk! Pria itu jatuh dengan beberapa kangkung masuk ke dalam mulutnya. Masih segar dan kaya akan gizi. Myesha terus memukuli pria itu. Sesekali menendang.
Hal yang ditakuti Myesha selama ini, seseorang dari pihak orang tua kandung Yuno perlahan menyelidiki mereka. Mulai sadar keberadaan Yuno.
"Stop! Stop! Saya tidak menjambak anak itu. Saya hanya ingin memastikan bahwa dia bukan anak majikan saya." Pria itu berdiri. Merapikan topinya yang terkena kangkung segar. Sesekali meludah.
Orang-orang dari warung Riki berhambur keluar, mereka berkerumun di sekitar mereka. Melihat apa yang terjadi.
"Anak majikan kamu? Jelas-jelas ini anak saya. Saya yang sudah mengandungnya sembilan bulan dan melahirkan dengan susah payah. Bisa-bisanya kamu bicara sembarangan seperti itu!" Myesha hendak memukul lagi.
__ADS_1
Riki datang dan menghentikan tindakan membabi buta Myesha.
"Dia penculik anak, kita harus lapor polisi." Riki membawa tuduhan. "Kalau tidak lapor, anak-anak di daerah sini bisa bahaya." Lanjutnya memprovokasi. Ia menatap satu persatu warga yang berkerumun.
"Iya, kemarin saya lihat dia mondar mandir di daerah sini, pasti mau nyulik anak," imbuh warga yang lain. Semakin membuat situasi meyakinkan.
"Saya bukan penculik anak, sungguh! Saya hanya ingin mengambil satu helai rambut anak itu." Pria bertopi hitam itu menujuk Yuno yang ketakutan di belakang Myesha.
"Mau apa kamu dengan rambut anak saya? Oh, jangan-jangan kamu akan menggunakan rambut anak saya sebagai tumbal pesugihan?" Myesha pura-pura tidak tahu supaya lebih memprovokasi kemarahan warga yang lain.
"Tidak! Tidak! Saya hanya ingin mengambilnya untuk tes DNA."
"Tes DNA apa? Jelas-jelas ini anak saya. Semua warga di sini tahu bahwa Yuno anak saya, iya kan?"
Beberapa warga di sana mengangguk setuju. "Yuno ini anak Myesha dan dokter Faiq."
"Iya benar, tidak mungkin Myesha berbohong. Apalagi dokter Faiq ganteng." Imbuh ibu-ibu berdaster biru.
Semua sorot mata ke arah seorang ibu yang baru saja menyebut Faiq ganteng.
"Dia pasti penculik, saya akan segera lapor polisi." Seorang bapak yang tadi hendak membeli rokok kini berlari ke kantor polisi terdekat.
Dalam hati Riki tersenyum, dia sangat pandai memanipulasi orang dan bekerja sama dengan Myesha di saat genting seperti ini. Sementara Myesha memegang erat tangan Yuno. Tidak akan dia lepas apapun yang terjadi.
"Kalian salah paham, saya bukan penculik anak. Mungkin saya hanya salah orang. Tolong lepaskan saya," pinta Pria itu.
Tapi sayangnya dia sudah terpojok, orang-orang berkerumun dan tidak mau melepaskannya. Tak ada cara lain, pria itu berlari menabrak seorang ibu hingga terjatuh. Dia berlari sekencang mungkin dari sana.
"Ayo kejar penculik itu!" Riki menggerakkan bapak-bapak di sana untuk berlari mengejar pria bertopi hitam.
__ADS_1
Myesha masih terpaku di sana, dia menunduk ke bawah. Melihat Yuno yang berkeringat akibat ketakutan.
"Bundha ...." Batita itu semakin mempererat pegangannya kepada Myesha.
"Nggak papa, kamu sudah aman." Tangan Myesha yang masih memegang kangkung mengusap kepala Yuno. Membuat sebagian helai daun kangkung jatuh di rambutnya.
"Kamu pasti kaget," ucap ibu berambut keriting.
Myesha menggeleng, perutnya terasa nyeri akibat berlari kencang. Dia berjalan tertatih dibantu ibu-ibu di sana untuk duduk di depan warung.
Yuno memeluknya, menempelkan wajahnya di perut buncit Myesha. Merasa takut.
"Nggak papa, Oom jahat udah pergi."
"Uno takut." Bocah itu belum mau melepaskan Myesha. Sekali lagi Myesha mengusap rambut Yuno. Mencoba menenangkannya.
"Yuno kan sebentar lagi jadi Abang, harus jaga Adek. Kalau Yuno takut siapa yang jaga Adek?"
Mendengar itu Yuno mau melihat ke atas, tepat ke wajah Myesha. Matanya yang berkaca-kaca dihapus oleh tangan kecilnya.
"Uno dak takut, Uno nanti jaga Adek." Wajah lucunya dengan pipi tembem itu melihat Myesha dengan sorot mata meyakinkan. Membuat senyum Myesha mengembang.
.
.
.
bersambung.
__ADS_1