Unknown Baby

Unknown Baby
Plastik


__ADS_3

Ruangan bernuansa putih, horden dibuka, menampilkan halaman belakang rumah sakit yang bersebelahan dengan kamar rawat inap. Faiq cukup sibuk siang itu, banyak pasien cabut gigi. Terlebih dokter gigi anak sedang cuti dan pekerjaannya dilimpahkan padanya. Bukan karena tidak suka anak kecil, akan tetapi pekerjaannya menjadi dua kali lipat.


"Nggak sakit, 'kan? Lain kali jangan lupa sikat gigi sebelum tidur," ucap Faiq sembari tersenyum. Ramah dengan pasien anak yang giginya baru dicabut.


Anak laki-laki berusia 13 tahun itu mengangguk, di gusinya masih terdapat kapas untuk mencegah darah yang keluar. Di sampingnya ada seorang pria separuh baya, ayahnya.


Faiq menulis resep dengan cepat, kemudian memberikan kertas itu kepada wali pasien. Punggungnya sangat pegal. Apalagi lehernya yang terasa berdenyut.


"Makasih, Dok."


"Sama-sama, Pak."


Pria dengan anaknya itu keluar setelah menerima resep. Faiq ingin beristirahat sejenak. Dia tidak ingin kelelahan untuk acara nanti malam. Memang, Faiq sengaja menunda acara iya-iya, menunggu sampai malam kamis. Ia ingin begadang semalaman karena hari kamis adalah tanggal merah.


Lelah itu terasa menghilang ketika pria itu membayangkan hal iya-iya bersama Myesha. Apakah dia harus memakai pengaman atau pil KB? Atau tidak perlu menunda memiliki momongan? Sepertinya pria itu butuh konsultasi.


Sepulang kerja Faiq menemui Sella untuk berbincang. Menceritakan masalahnya tentang kebimbangan harus memakai apa di malam pertama.


"Kamu nemuin aku cuma mau nanya gituan? Dih." Sella menyipitkan matanya, masih berjalan beriringan dengan Faiq menuju parkiran.


"Ini penting, Sel. Malam pertamaku. Harus spesial dan nggak boleh ada kesalahan. Kasih tips dong, apa yang disukai cewek?" desak Faiq.


"Yang disukai cewek waktu gituan ya itunya si cowok besar, seromantis apapun kalau itunya kecil ya jadi nggak asik. Punyamu besar nggak?" tanya Sella dengan gamblang. Lebih tepatnya itu pengalamannya sendiri.


Faiq baru tahu hal itu, bersyukur sepertinya punya dia tak ada masalah. 


"Tenang aja kalau itu mah. Oh ya, harus pakai pengaman atau pil KB? Atau tidak usah pakai dan nasip-nasipan aja?" tanya Faiq lagi.


Menjadi anak atau tidak sebenarnya Faiq ingin nasip-nasipan. Berat menahan diri pada pertama hanya demi Yuno, bayi yang baru berumur 3 bulan. Tetapi terlalu repot jika mengurus bayi lagi.


Sella berhenti, mereka sudah di luar rumah sakit. Langit sore menampakkan cahaya jingga dengan awan tipis yang menutupi sebagian langit biru.


"Sebenernya hubunganmu sama Myesha sudah sampai mana?"


"Sudah sampai menyatakan cinta terus mandi bareng," kata Faiq dengan bangga. Mengikuti Sella berhenti.


Masih banyak orang, mereka mengecilkan suara ketika mengobrol. Kemudian Sella melihat sekitar dan mencari tempat yang pas untuk duduk. Diikuti Faiq.


"Kamu sudah mandi bareng tapi belum gituan? Kamu normal, 'kan?" tanya Sella sedikit berbisik, kemudian melihat ke arah itunya Faiq. Mencari tahu apakah Faiq normal atau tidak.


"Astagfirullahalazim, aku seratus persen normal, Sel."

__ADS_1


"Kamu mandi barengnya masih pakai baju?"


"Ya nggaklah, mana bisa mandi pakai baju."


"Kok bisa nggak bablas?"


"Aku kan hebat. Bukan, sebenernya aku cuma nggak mau punya anak hasil dari kamar mandi."


"Oh, ternyata kamu masih waras. Saranku waktu malam pertama jangan pakai pengalaman, nggak sedap kata netizen. Paginya Myesha minum pil KB aja."


"Dia masih gadis minum pil KB, aman nggak sih?"


"Hahaha kamu ini kayak ibu-ibu parnoan. Jaman sekarang pil KB nggak buat kandungan kering, malah bisa jadi penyubur. Tapi belinya jangan asal, minta aja ke apotek sini. Jam segini kayaknya masih buka."


Sella melihat jam tangannya, dia harus segera pulang. Wanita itu berdiri. "Aku harus pulang sekarang."


"Makasih sarannya, Sel."


Wanita itu menepuk pundak Faiq sebelum berlalu, "semoga lancar jebol gawangnya." Kata Sella menyemangati.


Setelah perbincangan itu Faiq segera ke apotek rumah sakit, meminta pil KB seperti saran Sella. Pria itu tersenyum cerah ketika mengendarai mobilnya pulang, jalanan lenggang tetapi dia mengendarainya dengan santai.


Faiq menepi, mengamati mereka dari mobil. Cukup penasaran dengan pembicaraan mereka. Tak lama kemudian mobil anak Pak Burhan berlalu, meninggalkan Riki yang mendesah dan terlihat murung. Kemudian mengendarai motornya dan berjalan ke arah timur.


Hubungan mereka terlihat mencurigakan, Faiq akan melaporkan ini ke Dito. Hari minggu besok Dito akan mengunjungi rumahnya. Mobil Faiq berjalan kembali. Memecah jalanan ramai menuju Metro Barat hingga sampai di rumahnya.


Tak seperti biasa Myesha menunggu di depan rumah, ada Yuno di dalam kereta bayi. Setelah Faiq keluar dari mobil Myesha berhambur memeluk pria itu. Lingkaran tangannya semakin erat. Seakan tak akan melepaskan Faiq.


"Ada apa?" tanya Faiq penasaran.


Myesha belum mau melepaskan pelukannya. Ia mendengarkan detak jantung Faiq hingga beberapa saat.


"Ini," ucap Myesha sembari memberikan potongan gigi milik andre.


"Gigimu patah?" tanya Faiq sembari membuka mulut Myesha. Mencoba mengetahui gigi wanita yang selalu dia apsen dengan lidahnya itu.


"Bukan, ini gigi Andre."


"Andre siapa?"


Myesha menunjuk rumah Pak Burhan. "Anak laki-lakinya tetangga kita."

__ADS_1


Sekarang Faiq baru tahu bahwa nama anak lelaki Pak Burhan adalah Andre.


"Kenapa kamu bisa punya giginya Andre?"


"Waktu mas berangkat kerja Andre dateng dan kurang ajar sama aku, terus aku pukul dia pake teflon sampai giginya patah lalu aku ijek telur sama sosisnya berkali kali sampai remuk."


Penjelasan Myesha membuat Faiq ngilu, jika itu dirinya hancur sudah. Tak menyangka virus emak-emak bar-bar sudah menjalar ke Myesha. Keren. Virus yang patut dibudidayakan. Tetapi di sisi lain Faiq emosi, kurang ajar sekali Andre mengganggu istrinya yang masih bersegel.


"Kurang ajar, harus aku kasih pelajaran." Faiq naik pitam. Ia hendak menemui Andre di rumahnya tetapi dicegah Myesha.


"Udahlah, Mas. Kayaknya Andre langsung ke RS tadi. Aku denger suara mobilnya keluar rumah."


Oh ya Faiq ingat melihat Andre di jalan.


"Dan sebenernya Andre yang jebak kita. Sepertinya dia yang memerintah Riki nyuri CCTV."


Ah, Faiq semakin ingin mematahkan leher Andre. Dia juga emosi. Merasa dipermainkan.


Sejenak tatapan mata Myesha teralihkan ke plastik yang dipegang Faiq.


"Apa itu, Mas?" tanyanya.


Faiq mengulurkan plastik itu dan disambut Myesha. "Pil KB untuk acara kita nanti malam."


Myesha segera memberikannya ke Faiq lagi, malu. Bayangan di kamar mandi terlintas kembali. Buru-buru dia berbalik dan mendorong kereta bayi Yuno untuk masuk ke dalam rumah.


.


.


.


.


.


bersambung


Hargai aku dengan like, komen dan vote


(╥﹏╥)

__ADS_1


__ADS_2